Kamar kontrakan itu hanya berukuran tiga kali tiga meter, namun terasa cukup luas untuk menampung seluruh kegagalan Karsa. Di usia dua puluh lima tahun,seperempat abad perjalanan hidup.
Karsa merasa dirinya adalah sebuah anomali. Ia tidak punya pekerjaan tetap lagi setelah kehilangan banyak relasi freelancenya, tak ada tabungan di rekeningnya selain sisa-sisa recehan, dan yang paling parah: ia kehilangan harapan.
Malam ini, suasana hatinya kembali ke titik nol. Di atas meja kayu yang mulai lapuk, ada sisa segelas kopi hitam yang sudah dingin dan asbak yang penuh dengan puntung rokok.
Karsa dulunya bukan perokok, namun paru-parunya malam itu seolah butuh aspal untuk membungkam sesak di dadanya.
Suara musik dari ponselnya mengalun lirih, lagu Hindia berjudul "Evaluasi" dan "Rumah ke Rumah" berputar berulang kali, liriknya seolah menampar kenyataan yang sedang ia jalani.
“Masalahnya, waktu takkan tunggu kau siap...”
Karsa merebahkan diri, menatap langit-langit kamar yang penuh noda rembesan air hujan. Pikirannya melayang pada Nada. Ia sering berhalusinasi, membayangkan jika Nada masih ada, mungkin ia sudah menyelesaikan novel pertamanya. Nada adalah bahan bakar yang membuatnya merasa berharga.
Lalu, ingatannya bergeser pada Dian. Perempuan yang sempat ia kira adalah pelabuhan baru setelah badai pandemi merenggut Nada.
Karsa memperjuangkan Dian dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, mencoba membuktikan bahwa ia bisa menjadi "seseorang" meskipun hanya seorang anak pegawai Dishub dengan status pekerjaan tak tetap.
Namun, realita berkata lain. Dian bukan pengganti Nada, dan Karsa bukan sosok yang Dian butuhkan.
"Goblok," bisik Karsa pada diri sendiri, suaranya parau karena asap rokok.
Ia terjebak dalam "kehaluan". Membayangkan hidup indah yang seharusnya ia miliki, sementara kenyataannya ia hanya seorang pengangguran yang menghabiskan malam dengan meratapi nasib di bawah lampu neon yang berkedip-kedip.
Di luar, suara kendaraan sesekali terdengar, mengingatkannya bahwa dunia tetap berputar meskipun Karsa memilih untuk berhenti di tempat.
Ayahnya di kamar sebelah pasti sedang tertidur, tidak tahu bahwa anak tunggal kebanggaannya kini sedang hancur lebur di sebuah kontrakan kecil, mencoba mencari alasan untuk sekadar bangun besok pagi.