Seno Tanpa Pati

E. Karto
Chapter #4

Cincin dalam laci dan kemeja yang tanggal


Di sudut laci mejanya, sebuah kotak beludru kecil tersimpan rapi. Di dalamnya melingkar seuntai janji sebuah cincin sederhana yang Karsa beli dari hasil menyisihkan setiap rupiah honor tulisan sepak bolanya selama berbulan-bulan. Ia sudah menghitung hari, menyusun kata-kata, dan menyiapkan mental untuk mendatangi orang tua Dian.

Namun, takdir seringkali memiliki cara yang kasar untuk mengingatkan Karsa akan tempatnya berdiri.

Sore itu, ayahnya pulang terlambat karena harus pergi ke kantor pusat terlebih dahulu.

Tidak ada bunyi langkah kaki yang gagah seperti biasanya. Ayahnya berjalan masuk dengan bahu yang merosot, membawa sebuah map berisi dokumen dari kantor. Seragam biru kebanggaan yang biasa melekat rapi, kini terlipat lesu di atas meja makan.

Pemberhentian kerja. Dua kata itu menghantam Karsa lebih telak daripada kabar duka mana pun.

Di usia ayahnya yang tak lagi muda, kehilangan pekerjaan sebagai pegawai di Dinas Perhubungan bukan hanya soal hilangnya pendapatan, tapi hilangnya identitas dan harga diri pria tua itu.

"Nggak apa-apa, Sa. Mungkin sudah waktunya istirahat," ujar ayahnya dengan suara yang berusaha tegar, namun matanya tak bisa berbohong.

Karsa terdiam di ambang pintu kamar. Tangannya meraba saku celana, tempat ia biasanya memikirkan kotak cincin itu. Seketika, rencana lamaran, bayangan masa depan bersama Dian, dan ambisinya sebagai penulis mapan terasa seperti kemewahan yang egois.

Uang tabungan yang tadinya disiapkan untuk mahar dan perayaan kecil, kini memiliki tujuan lain: menyambung hidup, membayar listrik, dan memastikan dapur mereka tetap mengepul. Sebagai anak tunggal, darah Jawa-Sunda di nadinya bergejolak antara ambisi pribadi dan tanggung jawab moral. Ia tidak mungkin membiarkan ayahnya berjuang sendirian di masa tua setelah semua yang telah pria itu lakukan untuknya sejak ibunya pergi.

Malam itu, Karsa kembali ke kamarnya. Ia tidak membuka laptop untuk menulis berita bola. Ia hanya menatap kotak beludru itu dalam gelap, lalu mendorongnya jauh ke bagian paling belakang laci.

"Maaf, Dian. Tunggu sebentar lagi," bisiknya lirih, meski ia sendiri tidak tahu sampai kapan "sebentar" itu akan berlangsung.

Karsa menyadari bahwa babak baru kehidupannya bukan lagi soal memenangkan hati Dian, melainkan soal menjaga agar rumah kecilnya tidak runtuh diterjang badai ekonomi yang tiba-tiba datang.

•••

Suasana ruang tamu malam itu terasa lebih berat dari biasanya. Ayah Karsa duduk termenung menatap lantai semen yang mulai retak, sementara seragam biru Dinas Perhubungan miliknya tergeletak di samping, tampak seperti kulit yang baru saja ditanggalkan paksa.

Pria tua itu tampak ringkih, seolah seluruh kekuatannya ikut ditarik bersama surat pemberhentian kerja itu.

Karsa keluar dari kamar, membawa segelas teh hangat. Ia duduk di lantai, tepat di bawah kaki ayahnya—posisi paling rendah sekaligus paling intim dalam tata krama keluarganya.

"Pak," panggil Karsa lirih.

Lihat selengkapnya