Seno Tanpa Pati

E. Karto
Chapter #7

Rantai tak kasat mata


Memasuki pertengahan tahun 2025, kabut "logika langit" yang selama ini menyelimuti Karsa mulai tersingkap oleh realita yang tajam.

Ia sadar, keajaiban tidak bisa terus-menerus menjadi strategi bertahan hidup. Tagihan kontrakan yang mulai menumpuk dan harga kebutuhan pokok yang merangkak naik memaksanya untuk kembali menapak bumi.

Karsa mulai membuka kembali situs-situs lowongan kerja. Dengan pengalaman sebagai penulis freelance, ia mencoba melamar ke berbagai posisi, bahkan yang jauh dari bidang sepak bola.

Beberapa panggilan wawancara datang, namun semuanya memiliki satu syarat yang sulit ia penuhi: penempatan di luar kota.

Jauh di dalam hatinya, Karsa ingin pergi. Ia ingin lari dari atmosfer kegagalan di kota ini, ingin membangun kembali harga dirinya yang sempat hancur karena Dian. Namun, setiap kali ia menatap ayahnya, langkahnya terasa berat seperti terikat rantai besi.

Ayahnya sehat secara fisik, namun usia telah mulai mencuri ingatannya.

"Pak, tadi sudah makan?" tanya Karsa suatu sore sepulang kerja serabutan mencuci motor tetangga.

"Sudah, Sa. Tadi pagi," jawab ayahnya tenang. Padahal, nasi di piring yang Karsa siapkan sejak pagi masih utuh, hanya dikerubungi semut.

Kejadian seperti itu tidak hanya sekali. Ayahnya sering lupa waktu makan, lupa mematikan kompor, bahkan terkadang lupa di mana ia meletakkan kunci rumah. Jika Karsa pergi bekerja keluar kota, siapa yang akan mengingatkan ayahnya? Siapa yang akan memastikan pria tua itu tidak kelaparan atau tersesat di hari tuanya?

Dilema ini mencekik Karsa. Di satu sisi, ia butuh pekerjaan mapan untuk memperbaiki ekonomi mereka. Di sisi lain, meninggalkan ayahnya sendirian terasa seperti pengkhianatan terbesar. Karsa merasa terjebak dalam sangkar emas bakti.

Lihat selengkapnya