Di tengah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara detak jam dinding tua, Karsa seringkali mendapati dirinya melamunkan sosok yang tak lagi memiliki wajah dalam ingatannya: ibunya.
Sudah dua puluh tahun sejak aroma bedak itu hilang dari rumahnya. Namun, belakangan ini, kerinduan Karsa muncul dalam bentuk yang aneh.
Ia tidak merindukan pelukan atau ciuman di kening. Ia merindukan amarah. Ia merindukan sosok yang mungkin akan mendobrak pintu kamarnya saat matahari sudah tinggi, menarik selimutnya, dan memaki-makinya karena masih terjebak dalam kepulan asap rokok dan lagu-lagu sedih.
Karsa tahu, karakter ibunya yang keturunan Sunda itu adalah api. Jika ibunya masih ada, hidup Karsa mungkin tidak akan dibiarkan menjadi "puisi" yang penuh kesedihan dan penundaan.
"Kalau Mamah di sini, mungkin mukaku sudah ditampar," bisik Karsa pada cermin kusam di kamar mandi.
Ia membayangkan, jika ibunya ada, tidak akan ada ruang untuk "logika langit" atau angan-angan menjadi penulis novel hebat. Ibunya pasti akan menyeretnya keluar rumah, memaksanya memotong rambut, dan menyuruhnya melamar menjadi buruh pabrik atau pelayan restoran di pusat kota.
Ibunya akan menjadi orang yang berkata, "Berhenti bermimpi tentang buku dan bola, Karsa! Perutmu dan Bapakmu tidak bisa makan kertas!"
Ada rasa perih yang aneh saat ia membayangkan itu. Sebuah kerinduan untuk dipaksa menjadi nyata.
Selama ini, ayahnya terlalu membebaskan Karsa. Kasih sayang ayahnya yang tanpa syarat justru terkadang membuat Karsa merasa nyaman dalam keterpurukannya. Ayahnya tidak pernah menuntut, tidak pernah memarahi Karsa saat ia kehilangan semua relasi kerjanya. Dan justru itulah yang membuat Karsa merasa "tersesat" dalam kebebasan yang menyakitkan.
Karsa merasa butuh seseorang untuk menariknya keluar dari imajinasi tentang masa depan yang pernah ia bangun bersama Nada dan Dian. Ia butuh sosok yang menghancurkan "kehaluannya" dan memaksanya menerima bahwa hidupnya sekarang hanyalah tentang bertahan hidup, titik.
Di bawah remang lampu jalanan yang masuk lewat celah jendela, Karsa memejamkan mata. Ia membayangkan suara ibunya yang melengking, memarahinya karena malas, memaksanya memakai seragam pabrik yang kasar, dan mencabut paksa kabel earphone-nya.