Pos ronda itu kosong. Hanya ada Karsa, sendirian, ditemani suara jangkrik dan lampu jalan yang berkedip redup. Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari, waktu di mana kegelisahan biasanya mencapai puncaknya. Karsa duduk bersila di atas kayu balai yang dingin, menatap kosong ke arah kegelapan jalanan.
Ia sedang berada di titik yang hampir putus asa.
Pikirannya berputar pada sisa beras di rumah, tagihan kontrakan yang sudah lewat jatuh tempo, dan wajah ayahnya yang semakin sering melamun karena mulai sering lupa.
Beban sebagai tulang punggung tunggal di tengah kondisi pengangguran terasa seperti batu besar yang mengikat lehernya, siap menyeretnya ke dasar jurang kapan saja.
Namun, jika besok pagi ada tetangga yang lewat dan bertanya, "Gimana kabarnya, Sa? Sehat?", Karsa pasti akan menjawab dengan senyuman lebar dan suara yang ceria, "Alhamdulillah sehat, Pak. Bapak gimana?"
Semua orang di lingkungan itu menganggap hidup Karsa sangat bahagia. Bagi mereka, Karsa adalah pemuda yang "cukup". Ayahnya pensiunan pegawai Dishub (meski mereka tak tahu ayahnya diberhentikan), Karsa seorang penulis (meski mereka tak tahu ia sudah kehilangan semua relasi), dan mereka berdua selalu terlihat rukun. Karsa tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminjam uang pada tetangga, dan selalu tampil bersih.
Karsa adalah pakar dalam menyembunyikan luka.
"Padahal di dalam sini rasanya mau meledak," bisik Karsa pelan, hampir tak terdengar.
Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan nikotin mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Ia merasa seperti sedang melakukan sandiwara besar. Menjadi aktor utama dalam drama berjudul "Hidup yang Baik-Baik Saja", padahal skenarionya sudah hancur lebur sejak lama.
Ia bingung harus melangkah ke mana. Ingin lari, tapi ada ayah. Ingin tinggal, tapi ekonomi mencekik.
Di pos ronda itu, Karsa menyadari bahwa kesepian yang paling nyata bukanlah saat tidak ada orang di sekitarmu, melainkan saat semua orang menganggapmu bahagia, padahal kamu sedang berteriak minta tolong dalam diam.
Ia menengadah ke langit malam yang pekat tanpa bintang. Sekali lagi, ia hanya bisa berserah. Di tengah keputusasaannya, ia masih memegang prinsip ayahnya: tunjukkan wajah senang di depan orang, simpan susahmu hanya untuk Tuhan. Malam itu, di bawah remang lampu pos ronda, Karsa kembali menelan semua kepahitannya sendiri, bersiap untuk memakai topeng bahagianya lagi saat matahari terbit nanti.
•••