Suara ketikan keyboard mengisi kesunyian kamar Karsa. Di bawah temaram lampu, Karsa mengusap bodi laptopnya yang mulai memudar warnanya di beberapa sudut. Laptop ini bukan sekadar barang elektronik. Ini adalah saksi bisu dari gaji pertama Nada saat wanita itu diterima bekerja di sebuah bank swasta tujuh tahun silam.
Karsa teringat momen itu. Saat itu, ia sedang putus asa karena ingin menyerah menjadi penulis dan berniat melamar menjadi pelayan di sebuah rumah makan Padang demi uang cepat.
Nada marah besar. "Aku nggak mau kamu jadi pelayan rumah makan Padang, Sa! Aku mau pacarku jadi penulis hebat seperti yang dia janjikan!" ucap Nada saat itu dengan mata berkaca-kaca. Keesokan harinya, Nada membawa kotak berisi laptop ini, memaksanya untuk terus menulis.
Kini, Nada sudah tenang di alam sana, namun "alat tempurnya" masih setia menemani Karsa melewati badai hidup.
Sambil menatap kursor yang berkedip di layar putih, sebuah pertanyaan menyelinap masuk ke pikiran Karsa. Sebuah tanya yang terasa lebih dingin dari angin malam: "Jika setiap kali aku menulis, setiap kali aku berimajinasi, yang muncul selalu wajah Nada... apakah itu berarti ruang hatiku sudah terkunci selamanya?"
Pernikahan Dian yang mengkhianatinya mungkin meninggalkan luka, tapi keberadaan Nada meninggalkan ruang hampa yang nampaknya tak bisa diisi oleh siapa pun. Karsa merasa seolah-olah ia sedang menulis novel ini bersama hantu masa lalunya. Nada adalah editor pribadinya di dalam kepala, yang selalu mengingatkannya untuk tidak menulis kalimat yang cengeng.
"Apa aku benar-benar nggak bisa jatuh cinta lagi, Nil?" bisiknya pada layar.