Di luar sana, dunia mungkin sedang memandang rendah Karsa. Ketua RW mungkin masih menganggapnya "mampu" tanpa tahu isi dompetnya, dan pihak sekolah mungkin masih mengunci ijazahnya di laci yang berdebu. Namun, di dalam ruang tamu sempit beralaskan karpet tipis ini, Karsa adalah seorang raja yang sedang memimpin sebuah simposium besar bersama penasihat agungnya: sang Ayah.
Malam itu, aroma kopi hitam yang pekat berpadu dengan uap panas dari sepiring singkong goreng hasil pemberian mang Entur. Suasana terasa begitu magis.
"Pak, kalau dipikir-pikir, ujian kita ini belum seberapa dibanding kisah para Nabi ya?" ucap Karsa membuka obrolan.
Ayahnya menyesap kopinya perlahan. Mereka mulai berbagi tentang filosofi agama tentang ikhlas yang tak bertepi dan syukur yang tak boleh mati. Bagi Karsa, ayahnya bukan sekadar orang tua yang harus dijaga, melainkan ensiklopedia kearifan yang tak pernah habis ia baca.
Percakapan berpindah jalur saat Karsa mulai membahas gairahnya yang lama: sepak bola.
"Bapak lihat tidak? Timnas kita sekarang beda sejak John Herdman masuk. Taktiknya lebih berani, transisinya cepat," ujar Karsa dengan mata berbinar. Ia menjelaskan bagaimana pelatih baru itu memberikan napas baru bagi skuad Garuda, seolah-olah ia sedang mempresentasikan analisis taktik untuk media besar.
Ayahnya mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk dan memberikan komentar yang meskipun sederhana, namun selalu tepat sasaran.
Di momen ini, kegelisahan sang Ayah seolah sirna, digantikan oleh koneksi batin yang kuat dengan putra tunggalnya.
Karsa tersenyum tipis. Ia menyadari bahwa momen seperti ini duduk bersila, tertawa kecil membahas sepak bola dan Tuhan, sambil mengunyah singkong goreng adalah kemewahan yang jarang bisa dirasakan orang lain.
Banyak orang punya harta melimpah tapi tak punya waktu untuk sekadar mengobrol dengan orang tua mereka. Banyak orang punya karier hebat tapi rumahnya terasa dingin seperti gua.