Seno Tanpa Pati

E. Karto
Chapter #12

Sketsa bisu di seberang aspal


Siang itu, Karsa berdiri di depan sebuah konter pulsa yang bising oleh suara musik radio, namun matanya sama sekali tak tertuju pada jajaran ponsel di balik etalase. Pandangannya menyeberang aspal, membelah hiruk-pikuk kendaraan, hanya untuk berlabuh pada satu titik: seorang puan di balik kepul uap bambu.


Jarak itu mungkin hanya sepuluh meter, namun bagi Karsa, ia terasa seperti bentangan samudera yang belum mampu ia seberangi.


Ia hanya mampu menatap. Menatap bagaimana tangan puan berparas Tionghoa itu dengan telaten melayani pembeli, bagaimana ia menyeka peluh di keningnya dengan punggung tangan, dan bagaimana senyumnya merekah tiap kali transaksi usai.

Ada keanggunan yang bersahaja di sana, sebuah keindahan yang tidak meminta untuk dipuji, namun memaksa Karsa untuk terpaku.


Karsa meraba saku celananya yang tipis. Ia tahu, ia belum siap. Bukan hanya soal harga seporsi dimsum yang mungkin sanggup ia bayar, tapi soal harga diri seorang lelaki yang tak ingin datang membawa aroma keputusasaan.

Ia tak ingin menghampiri puan itu sebagai pengangguran yang sedang melarikan diri, melainkan sebagai ksatria yang telah memenangkan peperangannya sendiri.


Namun, keajaiban itu nyata. Meski hanya menatap dari kejauhan, Karsa merasa ada kekuatan gaib yang mengalir ke dalam nadinya.


Setiap gerak-gerik sang puan seolah menjadi diksi baru bagi novelnya. Setiap tawa kecil yang terdengar lamat-lamat di tengah bising knalpot seolah menjadi rima bagi janji masa depannya.

Kehadiran puan itu di sana nyata, bekerja keras, dan bersinar memberi Karsa motivasi yang melampaui logika. Ia tidak butuh menyentuh untuk merasa hangat; ia hanya butuh melihat untuk merasa hidup.


Lihat selengkapnya