SENOPATI (Trah Bayu)

Hermawan
Chapter #1

Renungkan

Orang akan bilang ia baik atau buruk hal itu belum ia fikirkan. Karena hidupnya seperti jalanan. Ia hidup dijalanan dan pasar. Ia sudah mandiri semenjak sang nenek yang merawatnya meninggal. Orang tuanya entah dimana ia tak pernah melihat keduanya. Semenjak bayi ia dirawat oleh neneknya. Hingga umur tiga belas tahun sang nenek telah merawatnya, sebelum sang nenek pergi meninggalnya. Sekarang dua tahun telah berlalu. Dan ia telah berumur lima belas tahun. Hidup sendiri dan mandiri menjadi lahan yang harus dijalaninya.

Ia memiliki penglihatan yang tajam seperti elang. Tubuhnya jangkung dan tinggi sangat sesuai dengan pesona keindahan. Namun sayang rambut acak-acakan menjadi ciri khasnya. Apalagi ia memang sangat menyebalkan. Masalah dan perkelahian menjadi barang wajib baginya.

Memakai pakaian yang dilipat di ujung lengan seperti preman menantang dan sangar. Ia memang preman, orang lain menyebutnya. Tetapi itu hanya anggapan orang yang belum mengenalnya. Tatapannya memburu dan menerkam sangat menakutkan. Intimidasi menyebalkan terpapang diwajahnya membentang tampan yang kusam. Ia biasa dipanggil Syam. Atau lebih tepat Syami Aji. Nama yang cukup aneh tetapi memiliki kekuatan bukan.

Tubuhnya jangkung dan tinggi memang membuat mata gadis begitu terpesona dengannya. Namun wajahnya sangat dingin bahkan lebih dingin dari es sehingga banyak gadis begitu geram dan jengkel untuk mendekatinya. Ia lebih suka berkumpul dengan kawanan preman ketimbang berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Karena disana ia mendapatkan banyak pujian dan penghargaan. Cukup menyebalkan bukan. Tetapi ia cukup senang dan bahagia menjalani semua itu. Rasanya ia patut bersyukur tentang apa yang ada dalam dirinya itu. Karena ia dapat sekolah layaknya anak yang lengkap memiliki keluarga. Dimana orang tua selalu membiayai keperluan anaknya. 

Walaupun kehidupan preman menjadi lahan perjudiannya. Tetapi ia tak pernah melupakan aturan yang harus dipatuhi disekolahannya. Kewajiban sebagai siswa adalah belajar dan cara berinteraksi social yang baik dan sopan. Dimana ia harus berlakuan baik untuk mendapatkan rasa hormat dan kebanggaan.

Pagi itu Syam melangkah ke sekolah. Cukup menyenangkan. Ia memakai seragam sangat rapi dan sopan. Rambut yang acak-acak disisir dan dirapikan. Pakaian seragam putih dan bawahan ungu menjadi hiasan perlengkapan.

Syam meluncur cepat dengan kendaraan motor cb buntut, Motor itu habis ia beli dengan uang tabungan selama bekerja menjadi kernet di pasar. Uang memang tak terlalu banyak namun cukup untuk membeli motor buntut kesayangan.

Jalan kota yang lalu lalang dilibasnya cepat dan hati-hati. Walaupun ia merupakan orang menyebalkan, tetapi ia selalu memberikan pertolongan bagi orang yang membutuhkan. Ketika ia melihat orang tua menyeberang jalan, ia turun dari motor dan membantunya dengan sabar dan sopan. Begitu ia tetsenyum bahagia ketika perbuatan baik yang ia lakukan.

Jalan pagi memang cukup dingin dan menyejukkan. Rasanya ia bisa menghirup udara pagi sepuasnya, walaupun asap kendaraan menghantam dan menyumbat nafas pagi yang melegakan. Ia bisa mengamati lalu lalang orang-orang bahkan kendaraan dengan cepat seperti waktu yang tak bisa dihentikan.

Syam menggeber motornya cukup hati-hati dan tenang. Pohon-pohon jalan mulai tampak kelihatan indah dan menyegarkan walaupun asap kendaraan menyambar udara sekitar. Ia begitu menikmati setiap jalan yang dilibasnya.

Jarak antara sekolah dan rumah miliknya memang cukup jauh, lebih kurang tiga kilo. Tetapi menempuh jarak segitu memang sangat mudah karena bila masih pagi kemacetan belum padat dan merayap.

Kota Jakarta memang padat kendaraan bermotor. Setiap pagi sebelum shubuh berkumandang jalanan sudah mulai merayap kendaraan namun belum cukup padat sehingga Syam begitu leluasa melibas setiap jalanan. Ia memang lebih suka berangkat pagi sebelum adzan shubuh menjelma. Ia ingin mendapat ruangan agar dapat menikmati udara pagi yang menyejukkan saat tiba disekolah. Karena ia dapat merapat ke tempat kerja sebelum ia meluncur sekolah. Ia menjadi tangan kanan bosnya untuk mengatur para kernet bus di stasiun dan pasar. Jadi karena alasan itu ia lebih suka berangkat pagi-pagi sekali. Dan arah sekolahannya satu arah jadi lebih mudah untuk menempuhnya.

Syam meluncur hati-hati melibas jalanan. Pasar adalah tujuan pertamanya sebelum ke stasiun bus. Ia memakai seragam sekolah rapi dan sopan dibungkus dengan jaket kulit hitam melekat tajam.

Markas tampak terlihat dari pandangan matanya. Ia meluncur mendekati kawanannya yang telah menantinya.

“Pagi bro,” ucap seorang berambut gimbal. Dia agak tinggi hanya sebahu Syam. Dia mengenakan seragam sekolah sama seperti Syam. Tubuhnya agak sedikit gempal. Sertanya kepalanya agak besar.

Syam segera berhenti dan turun dari motor buntutnya. Ia segera meluncur mendekat.

“Pagi bro Jat!” ucap Syam tersenyum. Ia menatap tajam dan saksama. Dahinya sedikit mengeryit.

Jat atau Jatmika tersenyum membalasnya. Dia mendongak menatapnya. “Aku sudah mengatur pekerjaan disini.”

“Siip,” renggut Syam. “Kita ke stasiun bus.”

“Yap,” kata Jat. 

Syam kembali menaiki motornya. Jat ikut membonceng dibelakang. Mereka segera meluncur meninggalkan pasar. Jalan mulai cukup padat, tetapi Syam bisa mengatasinya dengan hati-hati. Mereka tiba di stasiun. Syam dan Jat segera menemui kawanannya. Mereka menanyakan tentang keadaan stasiun. Jelas pekerjaannya sudah teratasi. Mereka segera meluncur ke sekolah.

Papan besar tampak mulai terlihat diujung jalan. Syam segera mengeber motornya dengan cepat. Namun didepan pintu gerbang ia melihat seorang anak laki-laki di aniaya oleh tiga orang yang Syam kenal.

Ketiganya adalah Gunta, Pala dan Saka. Mereka bertiga adalah anak orang kaya sombong dan sok. Syam sangat membenci ketiganya. Karena mereka sering bolos dan meremehkan pendidikannya. Bahkan mereka tak pernah mendengar nasehat guru ataupun kepala sekolah yang menegurnya.

Syam segera menghentikan motor dan ia berdiri tegak memandang mereka.

“Gunta hentikan!” renggut Syam agak kasar. Dahinya mengerut. “Aku sudah muak dengan kelakuan kalian.”

Gunta dan kedua temannya mendongak terkejut. Tangannya mulai melepaskan anak yang dianiaya. Mereka memandang syam cukup tajam dan menerkam. Dahinya mengerut sangat kejam dan mengerikan. Matanya memburu setiap seekor elang. Tubuh mereka mengencang dan menegang menantang.

“Oh kau Syam,” kata Gun sinis dan menyebalkan. “Memang apa yang ingin kau lakukan pada kami? Dasar preman!”

Cemooh mengudara membantai telinga Syam. Amarah Syam tersulut cukup membara. Dahinya mulai menegang dan mengeras seperti besi yang tak bisa dilunakkan. Tubuhnya tampak tegang dan tajam membentang. Tangannya mengepal kuat dan tajam. Ia mengangkat bahu.

“Kalian memang pecundang!” renggut Syam kasar dan mengguncang. “Kukira kalian tahu aturan dan kesopanan. Ini bukan tempat yang baik untuk perbuatan syetan macam kalian. Kalian selalu membuat onar dan kerusuhan. Sekolah tempat belajar, seharus kalian tahu itu.” Peringatan Syam membahana di telinga mereka.

Tersulut dan berkobar amarah Gun dan kedua temannya. Kedua tangan mereka mengepal kencang. Mereka mengerutkan dahi. Gunta mengangkat bahu.

“Kukira aku takut denganmu Syam,” kata Gunta mendengus sengit. Matanya memburu tajam dan kejam. “Mungkin kau harus sekali merasakan pukulanku Syam!”

Gunta meluncur cepat didepan Syam. Sebuah serangan tajam dan lincah meluncur didepan matanya. Pukulan Gun membantai udara. Pukulan itu menghantam keras diwajah Syam hingga ia terpental mundur sedikit belakang.

Darah sedikit menetes disudut bibir Syam. Sakit memang terasa tetapi bagi Syam itu sudah biasa. Ia mengelap darah itu dengan ibu jarinya. Ia mengangkat bahu.

“Hanya segitu pukulanmu!” kata Syam sengit. “Kupikirkan tajimu bisa membuatku terluka parah. Nyatanya kau memang pecundang lemah.” Ia memandang dengan amarah yang siap diluapan. Tetapi ia tetap tenang dan hati-hati dalam meluapan amarahnya.

Jat tampak bersiap. Dia memasang kuda-kuda bertahan cukup kuat dan tajam. Dia menatap Syam didepannya dengan tajam dan saksama. Dia mengangkat bahu.

“Bagaimana keadaanmu bro?” tanya Jat ingin tahu. 

“Cukup baik bro!” kata Syam. “Dia hanya memberiku gigitan semut saja.”

Syam tersenyum bodoh. “Kukira dia seperti Superman yang memiliki kekuatan mengerikan.” Ia melanjutkan dengan cemooh mengudara. Kata-kata cukup pedas membahana ke telinga.

Jat ikut tertawa mencemooh dibelakang Syam. Tawa mereka berdua membungkam Gunta dan kawannya dalam amarah tersulut.

“Kukira kami takut gertakanmu,” renggut Gunta mendengus sengit. “Ini hanya pemanasan untuk kekuatanku Syam.” Dahinya mengerut. Matanya seperti elang memburu mangsa.

“Kau bilang kekuatan,” kata Jat mencemooh. “Hanya pecundang saja yang bilang begitu. Mungkin hanya semut saja yang bisa kau bunuh, itupun sebelum semut itu membunuhmu.”

Tawa mencemooh dari Jat seperti badai menerjang.

Amarah mengebu tak terkendali. Gunta membara marah. Dahinya mengerut kencang dan tajam. Dia mengangkat bahu.

“Kau meremehkanku,” renggut Gun sengit dan kasar. Dia mengacungkan jari.

Lihat selengkapnya