SENOPATI (Trah Bayu)

Hermawan
Chapter #2

Kengerian

Syami Aji nama yang sebenarnya tidak ia ketahui dari nama itu berasal. Ia hanya bisa berharap bahwa nama itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Tetapi ia tak dapat berbuat banyak bila tak bisa memahami apa arti sebuah nama. Ia bahkan tidak tahu asal usul. Ia hanya tahu bahwa ia bisa berkelahi dengan kemampuannya yang mumpuni. Tetapi sayang ia tak tahu harus dipakai untuk apa kemampuan itu. Karena hidupnya dijalanan. Maka lebih berguna untuk mencari kehidupan jalanan.

Matahari mulai menamparkan cukup panas dan membara. Jam dua siang sekolah sudah usai. Syam dan Jat bergegas meluncur ke pos markas preman di pasar.

Mereka mulai tampak di parkiran pasaran. Syam duduk dihadapan Jat dan dua anak buah bernama Salya dan Anabrang. Keduanya memiliki perawakan gempal dan agak tinggi. Tetapi usia mereka sudah dewasa daripada Syam dan Jat. Mereka bahkan lebih tua dari Syam dan Jat. Tetapi mereka begitu menghormati Syam sebagai pemimpin mereka. Karena mereka tahu bahwa Syam memiliki bakat yang mumpuni dalam berkelahi.

Syam mengamati wajah mereka berdua dengan saksama. Mereka bertukar pandang cukup lama. Syam mengeryitkan mata. Ia mengangkat bahu.

“Bagaimana pekerjaan disini?” tanya Syam sengit dan dingin. “Apa ada masalah?”

“Tidak,” kata Salya. “Tidak ada pencopet atau perompak di sekitar pasar ini. Jadi daerah ini aman.”

Syam mengangguk. “Siip,” kata Syam tersenyum. “Cukup menguntungkan. Berapa hasil hari ini?”

“Cukup banyak,” kata Anabrang. “Mereka tidak banyak berulah dan menolak untuk memberikan sedikit keuntungannya. Bahkan ada beberapa pedagang yang masuk dan bersedia membayar pajak untuk kita.”

Syam menganggukkan kembali. Seperkian detik.

Salya mengedikkan bahu. “Tetapi ada sedikit masalah,” kata Salya ragu. “Ada beberapa pedagang mengeluh karena nilai pajaknya terlalu tinggi?”

“Pajak terlalu tinggi,” renggut Jat mengulang sengit. “Mereka tak tahu bahwa pasar ini berdiri atas ide dan dana dari bos kita.” Dia mengeryitkan dahi. Sembari menikmati camilan yang tampak nikmati.

“Aku sudah memberitahu,” kata Salya suram. “Tetapi menurut pedagang lainnya ada beberapa preman lain yang berusaha memunggut pajak atas nama bos kita. Mereka mengatasnamakanmu untuk menaikkan pajak.”

“Preman,” ulang Syam mendengus sengit. “Mereka telah mencemarkan namaku. Apa kau tahu siapa preman itu?”

“Tidak,” kata Anabrang. “Mereka beroperasi saat malam hari. Kebanyakkan dari kita bila malam hari, sudah banyak pergi meninggalkan markas ini. Karena kebanyakkan kita telah memiliki keluarga. Jadi untuk berjaga malam rasanya belum ada.”

Syam mengangguk. Ia memandang balik ke Jat. “Sepertinya ada masalah baru.” Nyengir bodoh mengudara di sela bibirnya.

“Kau benar,” kata Jat dingin menyebalkan. “Ada orang cari gara-gara dengan kita.”

“Hari ini mungkin aku bisa melampiaskan sedikit amarahku,” kata Syam mendengus. “Tanganku sudah gatal ingin memukul orang.”

Jat mengangguk. Tangannya masih mengupas kacang untuk cemilan mulutnya. Dia mengangkat bahu ketika kacang telah dikunyah hingga dia telan. “Aku juga sudah gatal dari pagi tadi. Rupanya malam ini hal yang cukup menyenangkan akan terjadi.” Dia sedikit tak sabaran.

“Apa ada masalah lagi?” tanya Syam sengit. Ia ikut menikmati camilan kacang.

“Tidak,” kata Salya.

Syam menganggukkan kepala. Tangannya sibuk mengupas kulit kacang. Ia begitu santai dan tenang menikmati camilan kacang.

***

Malam hari udara cukup dingin di luar. Syam memakai jaket hitam dengan dalaman kaos hitam pitam dan celana jins hitam. Ia meluncur menaiki motor cb dengan cepat dan hati-hati melibas jalanan. Tangannya tampak menggigil gemetaran memegang stang motor. Ia tahu bahwa cuaca cukup ekstrem diluar. Malam hari itu sungguh kurang bersahabat untuk tubuhnya. 

Jat tampak menunggunya dipinggir jalan. Dia mengenakan jaket hitam seperti Syam. Tubuhnya tinggi hampir setinggi Syam tampak mirip dengannya. Hanya saja rambutnya lebih rapi daripada Syam. Walaupun kulitnya sawo matang seperti orang kebanyakan asia timur.

Jat melambaikan tangannya. Dia mengangkat bahu. “Bro!” panggilnya.

Syam segera merapat menghampirinya. Dan Jat segera membonceng untuk mengikutinya.

Mereka segera meluncur menuju pos markas di pasar. Jat bercerita tentang film komedi yang baru saja dia tonton. Cerita legenda Warkop DKI. Dono Kasino Indro memang legenda komedi yang tak pernah ketinggalan zaman. Mereka akan selalu memberikan warna dalam setiap celotehannya. Cukup menarik Jat menceritakan kisah lucu dalam cerita itu. Dia bercerita tanpa henti. Mungkin ia tak bosan mendengarkan namun rasanya ia tahu bahwa gaya dan suara Jat yang biki suasana makin menyenangkan. 

Akhirnya, Syam itu terkekeh mendengarkan cerita lucunya. Kami tertawa bersama sembari melibas jalanan. Mereka sangat asyik meluncur menelusuri jalanan kota. Tawa gembira dan bahagia membahana dalam perjalanan mereka.

Akhirnya mereka tiba dimarkas. Malam terasa menggigil namun jaket mereka seperti menahan serbaun angina dingin yang membeku.

“Malam ini cukup dingin,” kata Jat kaku. “Sepertinya udara terasa tidak bersahabat.” Wajahnya merasakan udara menyergap kulit.

“Sangat menarik,” renggut Syam dingin. “Ini cukup menantang kita. Kuharap kita akan segera tahu orang yang telah merusak pasar ini.”

“Kuharap begitu,” kata Jat menyetujui. “Walaupun sebenarnya aku merasa bahwa bulu kudukku berdiri. Aku tak menyangka bila malam hari pasar ini sungguh mengerikan.”

“Apa kau takut?” kata Syam merenggut sengit. “Jika kau takut lebih baik kau kembali saja. Biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini.”

“Ti—dak,” kata Jat mulai menaikkan dadanya. “Ini tak seberapa. Aku berani melawan ini semua.”

“Itu yang kuharapkan,” kata Syam tersenyum hati-hati.

Mereka segera memarkirkan motornya. Mereka menembus malam menelusuri setiap gang jalanan pasar. Malam hari sepertinya tak pernah padam. Pasar terasa hidup dan penuh keramaian.

Syam meluncur ditemani Jat disampingnya. Suasana memang sangat menyenangkan dan mengasyikan. Malam hari terasa hidup dalam keremangan pasar yang lalu lalang.

Syam mengamati dan mewaspadai setiap gerakan mencurigakan dalam keramaian pasar. Matanya sangat jeli dan cermat. Ia memiliki penglihatan yang tajam. Ketajamannya sangat teliti terhadap benda kecil bahkan yang tak kasatmata sekalipun. Ia tak tahu daripada ia memiliki kemampuan ini karena kemampuan itu belum lama muncul dalam kehidupan. Ia seperti memiliki kekuatan supernatural. Karena ia belum tahu darimana ia berasal.

“Aku belum menemukan tanda-tanda mencurigakan,” kata Syam datar. Matanya intens mengamati.

Jat berhenti. Dia melihat ke lapak penjual mie ayam. Dia cukup kelaparan untuk menahan perut keroncongan. “Apa kau tak lapar?” tanyanya sambil mulut mengeliat.

“Mungkin sedikit,” kata Syam mengakui. “Aku belum makan sejak sore tadi.”

Lihat selengkapnya