Syam terpaku dalam kepahitan. Keberaniannya hanya sebuah fatamorgana yang tak menuju nilai-nilai mulia. Ia tahu bahwa diri berada dalam keburukan yang tak bisa diterima. Ia merasa lawannya memiliki kekuatan yang melebihi dirinya.
Udara merobek tulang dan dagingnya. Syam berdiri berhadapan dengan Brajadenta. Mereka saling pandang. Brajadenta menatapnya dengan kuat dan tajam. Dia mengedikkan bahu.
“Kau siap bocah!” renggutnya sengit.
Brajamusti tampak memperhatikan mereka. Dia begitu intens menatap mereka berdua. Dia mengangkat bahu.
“Jangan lengah kak!” renggutnya sengit memperingatkan Brajadenta. “Dia bisa saja merubah jalannya pertarungan.”
Brajadenta berpaling mendongak menatap padanya. Aku akan baik-baik saja, batinnya. Aku ingin ia menunjukkan bahwa ia harus bertaubat dan menegakkan kembali jalan agama Islam yang paling mulia. Karena ia trah Bayu yang memiliki jiwa ksatria.
Brajamusti mengangguk kepala. Dia memahami arah pikiran batin kakaknya.
Brajamusti bisa membaca pikiran Brajadenta. Dia mengetahui detail setiap makna dalam bahasa diamnya.
Brajadenta kembali menatap Syam dengan kuat dan tajam. Tubuhnya menjulang menampakkan kekuatan benteng yang tak bisa dirobohkan. Syam bisa merasakan tekanan intens yang mengerikan dihapaannya.
“Bocah aku ingin pertarungan yang adil!” kata Denta mendengus sengit dan dingin. “Pakailah ini!”
Denta melemparkan sebuah pena ke arah Syam. Syam menangkap pena itu dan seketika pena itu berubah menjadi keris yang lumayan panjang ditangannya.
“Keris!” kata Syam mendadak syok dan membelalak.
“Kau harus memakai itu untuk melawanku,” kata Denta. “Aku ingin pertarungan seimbang.”
Jat mengamati mereka. Matanya tak berkedip ketika Syam menerima pena dan berubah menjadi sebilah Keris. Senjata khas dari kerajaan Yogyakarta dalam genggaman Syam. Keris itu tampak dipegang Syam dengan kuat. Dia ternganga menyaksikan hal diluar nalar terjadi. Tubuhnya gemetaran.
Syam berpaling menatapnya. Ia tak menduga bahwa dirinya akan ditantang oleh orang tak dikenalnya. Ia akan melakukan sebisanya. Ia menganggukkan kepala memberikan jawaban pasti pada Jat. Jat membaca intruksinya. Dia tahu bahwa temannya dalam keadaan baik-baik saja.
Ketegangan membelengu dalam kecemasan dirinya. Jat bisa berharap temannya dalam keadaan baik-baiknya. Dia menelan ludah. Dia mengedikkan bahu.
“Hati-hati bro!” katanya parau.
Syam menganggukkan memberikan jawaban. Ia lembali berpaling menatap Denta dengan kuat dan tajam.
Udara malam yang dingin merobek kulit dan daging.
“Apa kau sudah siap bocah?” tanya Denta mendengus sengit. “Kuharapkan kau tak mengecewakanku.”
Tantangan tak mungkin mudah ditolak. Tangan Syam memang sedikit gemetaran, namun instingnya tak mungkin menolak begitu saja. Ia mengangkat bahu. Keris mengacungkan ke arah Denta.
“Kapanpun aku siap?” kata Syam mencoba lebih berani. Ia mengerutkan dahi. “Aku akan bertarung semampuku.”
“Itu yang kuharapkan,” kata Denta menyeringai sengit. Denta mengeluarkan pena disaku bajunya. Pena itu berubah menjadi sebilah keris. “Ini Keris Kalamisani. Dan milikmu itu adalah Keris Senopati.”
“Keris Senopati,” ulang Syam dingin. “Nama yang aneh.”
“Nama memiliki kekuatan bocah,” kata Denta dingin. “Dan yang pasti keris itu telah memilihmu. Bagaimana rasanya?”
“Cukup nyaman,” kata Syam sengit. “Keris ini sangat pas digenggaman tanganku.”
Denta menganggukkan kepala sengit. Dia mengedikkan bahu. “Kita mulai bocah!” Denta mulai memasang kuda-kuda. Dia mengangkat bahu. “Majulah bocah!”
Denta mengulurkan lengannya, menekuk jari-jarinya, mengisyaratkan kepada Syam untuk mendekat kepadanya. Menghadapi pancingan lawan, Syam berteriak sekeras-kerasnya:
“Serang!”
Syam menguatkan dirinya secara mental meraung-raung dari lubuk hatinya berlari ke arah Denta.
Denta memandang dingin Syam yang maju menyerang dia. Kecepatan tinggi merobek udara. Keris Syam mulai diayunkan.
Denta tersenyum menyeringai. Kedua senjata beradu menegangkan. Bunyi logam yang melengking tajam sempat memekak telinga.
Jat tegang menyaksikan pertarungan temannya. Dia sedikitpun tak berkedip memandang Syam yang menyerang tajam ke arah Denta. Tetapi Denta sangat lihai dan gesit mengelak ataupun menghindar. Denta seperti petarung berpengalaman. Rasanya Syam hanya anak ayam yang menantang singa.
Malam dingin terasa menantang. Langit hitam bintang mulai bermunculan. Cahaya itu menampakkan kepekaan ketegangan. Disusul bulan setengah. Ketegangan yang menamparkan kepahitan.
Jat membisu kecemasan. Dia menyaksikan jauh arah pertarungan menegangkan. Wajahnya terpaku tegang dan gugup.
Syam kembali menyerang. Serangan pertama sedikitpun tak memberikan celah yang bisa ia baca.
Udara bergetar. Kedua senjata logam kembali beradu. Dentang logam cukup tinggi memekak telinga. Nada tinggi yang mengoyak udara seakan menjerit dalam kesakitan. Syam berkali menyerang dan menghadang serangannya. Pengalaman menjadi batu keunggulan Denta dalam memberikan perlawanan. Dia memiliki kemampuan mumpuni dalam menggunakan senjata. Ketrampilan Denta seperti pedang yang sudah terasah cukup lama.
Syam berkali menyerang namun serangan berhasil ditepis dan dihadang Denta dengan sangat mudah. Serangan Syam tampak terlalu lemah baginya. Denta tersenyum menyeringai sengit ketika melihat Syam bernafas tersengal-sengal hanya dalam beberapa menit pertarungan. Syam mengedikkan bahu. Saat jeda diantara kedua terjadi.
“Tunjukkan tajimu bocah!” renggut Denta sengit.
Tangan Syam terasa gemetaran memegang keris. Rasanya keris itu memberikan efek pada tangannya. Ini pertama kali ia memegang senjata. Pertarungan ini semakin membuatnya gila.
“Kau cukup hebat Denta!” puji Syam agak sedikit tersengal-sengal. “Rupanya kau lebih hebat dari apa yang bisa aku bayangkan? Tetapi aku belum kalah darimu.”
“Bagus,” kata Denta tersenyum menyeringai. “Kuharapkan kau memberiku perlawanan terbaikmu.”
Syam masih kuat berdiri tegak. Ia menghela nafas panjang. Ia meraung sekuat tenaga dalam hatinya.
“Sekarang kita mulai lagi Denta!” renggut Syam sengit. Ia kembali menguatkan kuda-kudanya.
“Kau memang bisa diharapkan,” kata Denta dingin sedingin es.
Denta mengulurkan lengannya, menekuk jari-jarinya, mengisyaratkan kepada Syam untuk mendekat kepadanya.