SENOPATI (Trah Bayu)

Hermawan
Chapter #4

Sinting

Kesadarannya belum mencapai titik hati. Syam masih menjalani kehidupan preman dijalanan. Sehabis pulang sekolah, ia dan Jat meluncur ke markas di sekitar pasar. Ia memang tersenyum namun hati merasa cemas dan gundah menghantam. Kenyataan pahit ia telah lalai menjalankan wasiat nenek.

Sholat.

Kata sederhana yang menguatkan iman dan taqwa manusia kepada Allah SWT. Tetapi Syam belum bisa sepenuhnya mengingat lagi tentang bagaimana cara sholat sesungguhnya. Sudah terlalu lama ia melalaikan sholatnya. Untungnya lagi ia pernah disunat sebelumnya jadi untuk menghilang hadast kecil telah sempurna, namun kenyataan pahit ia tidak tahu cara sholat lagi. Sebagai orang beriman, sholat merupakan rasa syukur dan kewajiban manusia melapor pada Allah SWT. Mungkin sholat hanya sepele bagi kebanyakan manusia tetapi orang tak pernah sholat maka tiang agama islam telah punah.

Menjelang senja. Mungkin tepatnya pukul setengah tiga. Syam dan Jat duduk berdua di markas preman pasar. Mereka duduk sambil menikmati secangkir kopi dan camilan ringan untuk mencuci mulutnya.

Siang itu memang cukup panas menyambar jalanan ataupun keadaan sekitar pasar. Syam dan Jat duduk santai menikmati kopi hangat yang menyejukkan. Jat mulai mengesap kopi itu. Dia tersenyum ceria. Seperkian detik dia mengedikkan bahu.

“Pelajaran sejarah tadi cukup membosankan,” kata Jat dingin dan sengit. “Walaupun begitu aku sangat kagum dengan perjuangan bangsa Indonesia. Drs Muhammad Hatta. Nama yang tenggelam dimakan ego tinggi para pejabat yang gila jabatan.”

“Pahlawan revolusi yang dilupakan jasanya,” kata Syam. “Kita memang bangsa yang kurang mencintai sejarah. Buktinya Bung Hatta. Seorang leaders sejati yang tak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Tetapi dia tetap setia untuk Indonesia. Karena apa?”

“KETUHANAN YANG MAHA ESA,” kata Jat menambahkan sengit. “Pancasila merupakah filsafat bangsa yang mumpuni.”

“Bahasamu tinggi bro!” kata Syam tersenyum hati-hati dan sengit. “Darimana kau mendapatkan semua itu.”

“Internet memang tempat belajar yang asyik,” kata Jat mendengus. “Teknologi memang sangat berguna untuk menambahkan ilmu pengetahuan.” Dia membuka layar smartphone dan menatapnya tajam.

“Memang apa yang kau buka?” tanya Syam memperhatikan tajam. “Jangan bermain hal-hal aneh. Kita masih sekolah. Belajar lebih penting daripada hal yang tak merusak moral.”

“Kau tahu,” kata Jat mendengus. “Aku hanya membaca salah blog yang menarik perhatianku, www.acamadya.blogspot.com, disini tertulis: Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan konsep dari kalimat syahadat, Dimana bangsa Indonesia mengakui Keesaan Allah SWT…”

Syam tampak mengeluarkan smartphone. Ia membuka laman dan menuliskan www.acamadya.blogspot.com.

“Membangun Indonesia merdeka bukan berdasar atas kesamaan keagamaan,” kata Syam mendengus dan melanjutkan membaca, “tetapi berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa yang menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan.”

“Sangat jitu,” kata Jat mendengus sengit. “Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti bahwa meskipun Indonesia bukan negara agama, tetapi agama merupakan nilai luhur yang dijunjung tinggi dalam penyelenggaraan negara. Penduduk yang beragama tentu memiliki ajaran luhur yang menjadikan pemeluknya selalu berada dalam kebaikan dan kebenaran selama mengikuti ajaran agamanya. Indonesia bukanlah negara sekuler yang tidak mengakui agama dalam pemerintahannya, dan bukan negara agama yang menjadikan agama mayoritas sebagai agama negara. Melainkan, sebagai negara berketuhanan Yang Maha Esa yang mengakui agama sebagai spirit dalam penyelenggaraan negara.”

“Kau memang benar,” kata Syam menyeringai sengit. “Tetapi kebanyakan manusia Indonesia telah melupakan nilai-nilai KETUHANAN YANG MAHA ESA.” Ia mengeryitka mata. “Amanah adalah Kunci membangun nilai-nilai KETUHANAN YANG MAHA ESA. Tetapi iman manusia seperti tergoyah oleh harta dunia.”

“Sangat menawan,” kata Jat tersenyum hati-hati. “Tak kusangka kau berfikir cukup liar untuk melihat banyak proteksi manusia yang menyelewengkan amanah.” Dia bertepuk tangan dengan kegembiraan. “Manjalankan Amanah merupakan tanda orang yang beriman. Bila seorang manusia telah melanggar amanah maka iman mereka telah luntur.”

“Koruptor,” renggut Syam mendengus. Ia mengesap kopi. Dan seperkian detik ia lega. “Kebejatan public yang tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka rela melakukan hal bodoh demi kantong pribadi semata. Bahkan mereka seperti orang tak bersalah saja, setelah melakukan kebejatan terhadap Negara dan rakyatnya. Apakah itu pantas disebut manusia?”

“Pemahaman tinggi untuk mencapai level manusia,” kata Jat hati-hati. Dia kembali mengesap kopi di cangkirnya. Dan meraih camilan untuk segera dinikmati agar rasa asam mulut lega.

“Preman atau koruptor,” renggut Syam sengit. “Menurutmu mana yang lebih bejat.”

“Semua sama benjat,” kata Jat mendengus hati-hati. “Preman adalah etika moral yang melanggar nilai-nilai kemasyarakatan. Koruptor adalah tindakan benjat yang menyelewengkan amanah karena lemahnya iman dan taqwa. Keduanya sama-sama merugikan. Tetapi...”

Syam menganggat dagu. Ia memandang Jat dengan tajam. “Lebih tepat.”

“Koruptor bisa merugikan orang banyak,” kata Jat sengit. “Bahkan bisa satu wilayah, negara atau perusahaan. Preman dipandang sebagai pelanggar moral yang tak mempunyai etika.”

“Nilai kwalitas kebejatan,” renggut Syam sengit.

“Koruptor,” kata Jat mendengus sengit. “Batas iman yang lemah dari manusia adalah penyelewengan amanah. Mereka harusnya dihukum mati sesuai nilai Pancasila KETUHANAN YANG MAHA ESA.”

Syam mengangguk. “Menurutmu apa itu iman?” Ia mengeryitkan dahi.

“Iman,” ulang Jat terkejut. “Kau bertanya pada orang bodoh. Aku saja belum mengerti tentang iman. Bukankah kita sama-sama preman!”

Syam mengesap kopi lagi. “Memang manusia itu terlalu bodoh untuk berfikir mudah,” kata Syam dingin. “Kebanyakkan manusia lebih memilih berfikir sulit bahkan terlalu bodoh untuk memikirnya.”

“Sangat aneh kau bicara,” kata Jat mendengus. “Tetapi kau tetap memiliki watak satria mas bro!”

Mereka saling pandang dan tertawa bersama. Dan kembali mengesap secangkir kopi dihadapan mereka. Mereka merasa lega dapat berfikir dan beradu argument untuk memuaskan pengetahuannya.

Ketika tangan Syam meraih camilan untuk segera dinikmati. Belum sempat tangannya menyentuh camilan.

“Bos!”

Suara familiar dan kasar mengudara tajam membahana.

Syam mengeryitkan kening. Ia berpaling memandangnya. Ia melihat salah satu anak buahnya berlari meluncur tunggang langgang menghampirnya. Begitu dia ada dihadapan Syam dan Jat, nafas berat terasa memenuhi sekujur tubuhnya. Dia tertunduk sebentar untuk mengambil nafas.

Tubuhnya tinggi. Wajahnya termakan cuaca dan usianya tampak lebih tua dari Syam mungkin tiga puluhanlah. Memakai kaos hitam dan celana jeans robek dilutut.

“Ada apa?” renggut Syam sengit. “Kau seperti dikejar syetan saja.”

Jat menatapnya tajam. “Ada apa bro Dar?” Dia sembari menikmati camilan ditangannya.

Darma mengangkat dagu. Dia menatap Syam tajam dan tegang. “Masalah.”

“Masalah,” ulang Jat membelalak. Belum sempat camilan untuk selesai dikunyah dan tampak dimulut masih ada potongan camilan terlihat, ketika dia membuka mulutnya. Dia terperanjat. “Dimana?”

“Santai bro!” kata Syam mendengus. “Biarkan aku yang berbicara dengannya!”

“Siap,” kata Jat hati-hati. Dia kembali mengunyah camilan dimulutnya yang hampir penuh.

Syam mendongak menatap Dar lagi. “Dimana?”

“Seberang jalan,” kata Dar cemas dan tegang. “Ada seorang gadis SMK dikeroyok beberapa orang asing.”

“Gadis SMK,” ulang Jat ketika dia telah menelan camilannya. “Bahaya bro!” Dia berpaling menatap Syam hati-hati.

“SMK mana?” renggut Syam sengit. Ia mengeryitkan dahi.

Lihat selengkapnya