Sentana: (Semestaku yang Hilang Ditelan Lautan)

Andini Djiko
Chapter #1

Bab 1: Tetangga Baru

Bagi sebagian orang, cahaya matahari adalah berkah untuk menjemur pakaian atau sekadar menikmati liburan di pantai. Namun bagiku, sinar kuning keemasan itu adalah musuh yang paling nyata. Aku duduk di balik rimbunnya pohon rambutan di halaman depan rumah, jemariku menggenggam erat gagang es krim cokelat yang mulai kalah oleh suhu udara. Cairan pekat itu meleleh, merayap turun melewati pergelangan tangan yang berwarna putih pucat.

Namaku Sentana, ​aku terlahir berbeda. Gen albino yang mengalir dalam tubuh membuat raga ini tampak seperti bayangan yang salah tempat di tengah keriuhan warna-warni tanah Sulawesi. Rambut yang tumbuh di kepala tidak berwarna hitam legam seperti milik orang tua atau kedua abangku, melainkan putih halus serupa serat sutra. Kulitku begitu sensitif hingga sentuhan sinar matahari sedikit saja bisa meninggalkan bekas kemerahan yang perih.

"Tana! Masuk ke teras! Nanti kulitmu melepuh lagi!"

​Suara itu berasal dari abang keduaku, yang baru saja muncul dari balik pintu kawat. Ia berjalan mendekat dengan langkah lebar, lalu menarik bahuku agar bergeser ke tempat yang lebih teduh. Matanya yang tajam menatap noda cokelat yang mengotori baju putihku, lalu ia mendesah pelan sambil menggelengkan kepala.

​"Udah dibilang-in, makan es krim itu di dalam aja. Kalau gini kan repot sendiri," gerutunya sambil membersihkan sisa lelehan di tanganku menggunakan ujung kausnya yang kasar.

Aku hanya bisa terdiam sambil memberikan cengiran tipis, gigi gingsul di bagian kanan atas tanpa sengaja menyembul. Tak lama kemudian, perhatian kami teralih oleh suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan pagar rumah sebelah. Rumah itu milik Om Hendra, seorang pensiunan yang jarang sekali menerima tamu jauh.

Sebuah mobil minibus berwarna putih terparkir dengan anggun. Pintu tengah terbuka, memunculkan seorang anak laki-laki dengan kulit kecokelatan yang tampak sehat.

Ia mengenakan kaus biru cerah dan celana pendek. Anak itu turun dengan gerakan lincah, lalu menoleh ke sekeliling dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Itu keponakan Om Hendra yang dari Jawa," gumam Bang Biru dengan nada datar.

​Anak laki-laki itu, yang kemudian kuketahui sebagai keponakan Om Hendra, mulai melangkah mendekati pagar pembatas rumah kami. Ia tampak tidak terganggu dengan panas matahari yang menyengat. Sebaliknya, ia justru tersenyum lebar ketika melihat kami yang sedang berjongkok di bawah pohon rambutan. Langkah kakinya terdengar mantap di atas aspal jalanan perumahan yang sunyi.

"Halo! Selamat siang!" sapanya dengan logat yang sangat berbeda. Suaranya halus, kata-katanya tertata dengan sopan, sangat berbeda dengan logat Manado yang biasanya terdengar cepat.

Abangku berdiri, menghalangi pandangan anak itu dariku secara insting. "Siang. Kamu keponakannya Om Hendra?"

"Iya, namaku Fajar. Aku baru sampai dari Semarang tadi pagi," jawabnya sambil menjulurkan tangan ke arah Abangku.

Lihat selengkapnya