Seorang K

AkmalPalah
Chapter #1

NIL

Di negara yang bernama Nil menjamur penyelewengan yang diakibatkan oleh benturan kelas sosial, seperti: kaum borjuis dan proletar; tuan feodal dan budak; yang membuli dan terbuli; si kaya dan si miskin; rakyat dan penguasa. Mereka menjelma serupa korupsi besar-besaran, eksploitasi alam, eksploitasi kaum proletar, hingga pemerkosaan, perampasan tanah, dan pembulian. 

Di negara Nil guru-guru bahkan tak bergaji, presiden serta kaum borjuis saling bercipok mencampur ludah; mereka senang jika rakyat memeluk kebodohan. Konon negara Nil adalah akal-akalan negara besar yang mencengkeram kapital untuk surplus pribadi. Banyak rakyat yang takut, seolah terbungkam akibat kediktaktoran sang presiden. Berbagai kelompok terpecah menjadi tiga, yaitu; kelompok sosialis, kelompok agamis, dan kelompok hewan ternak rezim; mereka terdiri dari campuran sosialis, dan agamis dengan jalan pikir bak iblis. 

Di lingkungan seperti itulah seorang pemuda bernama K tumbuh. K adalah pemuda yang cerdas peranakan dari kelas sosial menengah kebawah. K hobi membaca buku, koran, dan aktif berdialek dengan para buruh. Sang ayah ialah penulis majalah besar di negara Nil, Ibunya seorang guru.

Disuatu senja K gegas berjalan tepat pada lorong gang yang kumuh, dia hirau kala melihat kawanan pembuli yang sedang menjalankan aksinya. Pemuda K seolah apatis— kala sejatinya pemuda K sangat ingin merongrong melawan siapa saja yang biadab. Dia sungkan takut sang ayah terkena imbasnya sebagai penulis majalah terkenal. Saban silam K membaca koran, para aktivis mahasiswa banyak ditangkap oleh purnil. Purnil adalah singkatan dari Petugas Pembantu Rakyat Negara Nil. K menduga bahwa para aktivis sengaja dikriminalisasikan agar kebenaran terbungkam dalam jeruji kediktaktoran para penguasa. Dibalik itu semua terdapat kelompok berpayung yayasan bernama YLBHN, yaitu Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Nil. Mereka serupa payung yang mendampingi para aktivis dengan sepenuh hati. K memutar langkahnya kembali tepat pada gang dimana para pembuli melancarkan aksinya, disana tersisa seorang lelaki berkaca mata bulat dengan kaca minus tebal. Mukanya sudah tak karuan, bajunya kotor, basah, dan merongrong semerbak bau amis kencing. Di ujung gang itu terdapat keran air. K menyuruhnya gegas kesana sembari membantunya berdiri dan berjalan, K membuka baju serta celana panjangnya, lalu memberikannya kepada pemuda malang itu. 

“Terimakasih ya bang” ucapnya getir.

K hanya mengangguk. Setelah pemuda itu membersihkan badannya yang penuh lebam, K berniat ingin mengantarkannya pulang. 

“Dimana rumah mu?” pemuda itu termangu cukup lama. 

“Saya harap di surga bang” jawabnya ringkih. 

Lihat selengkapnya