Seorang K

AkmalPalah
Chapter #2

JANUARI

Januari datang dengan penuh duka, tahun baru yang seharusnya dipenuhi eforia, kini malah sendu tiada dua. K baru saja mampir dari makam sang bapak. Baru-baru dia tahu bahwa sang bapak tergabung dalam kelompok yang menjunjung kesetaraan kelas. Pemimpin cabang kelompok itu mendatangi K ketika malam sehabis pemakaman yang dilaksanakan beberapa minggu lalu. Dia tampak sedih melebihi K, sebab sang bapak adalah salah satu sohib kepercayaannya, dan pemimpin cabang kelompok itu bernama Adit. Hari ini Adit singgah kerumah K, namun kalimat demi kalimat yang keluar dari muncungnya sungguh membuat K menahan geram, dia berkata bahwa kecelakaan itu kemungkinan besar di rencanakan para borjuis yang sedang mereka lawan, yaitu gerombolan kapitalis yang mengeksploitasi buruh disebuah pabrik arah kidul. Indikasi terbesar dugaan itu karena stiker pada truk yang menabrak mobil bapak terdapat logo pabrik yang sedang diriset oleh kelompok bawah tanah Adit; lalu bapaklah yang kebetulan langsung terjun bertemu dan mencatat keluhan para buruh disana. 

Adit medatangi K sebab dia tak hanya membawa dugaan belaka; dia membawa banyak bukti berupa foto-foto truk yang serupa, dan menjamur disana. Adit memberi peringatan K untuk berhati-hati, namun justru K membalasnya dengan meninju meja hingga tangannya berdarah. 

“Apa boleh aku bergabung pada kelompok mu om?” Adit terkejut mendengar itu. 

“Aku janji tak akan merepotkan kalian, justru kehadiran ku akan banyak membantu sebab aku pintar”. Tegas K penuh kepedean. Adit tak langsung memberi jawaban. 

“Hh, aku mengerti om. Sebelum aku bergabung, aku akan mendalami ilmu hukum, setelah aku berhasil mendalami, aku akan mencari om lagi” Adit tampak mengehela napasnya “ya.. nanti akan ku kenalkan kau pada seorang kawan di YLBHN, aku akan minta tolong mereka untuk memberimu pelatihan ilmu hukum dan organisasi” K tersenyum mendengar itu. 

“Kau harus catat ini baik-baik dik, jika kau bergabung dengan kelompok. Itu sama dengan kau punya keberpihakan secara politis, dan moral” setelah Adit melontarkan kalimat itu, K menatap Adit dalam-dalam. 

Lihat selengkapnya