Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #1

Bagian 1

Aku punya banyak hal untuk diceritakan kepada seseorang. Tentang sekolahku, teman-temanku, kesukaanku, atau apapun yang lainnya tentang aku. Tentang aku. Akan lebih indah kalau aku punya orang sepeti itu. Tapi aku tidak memiliki siapa pun. Bahkan aku pun tidak bisa berkata bahwa aku dimiliki seseorang.

Orang-orang yang mendengar keluh kesah seperti ini datang dari gadis berusia 16 tahun mungkin akan berpikir bahwa yang kumaksud adalah seorang kekasih. Itu juga tidak salah. Namun, seyogianya sebelum membicarakan kekasih, mungkin ada orang-orang yang lebih dekat daripada seorang kekasih. Sayangnya, aku tidak punya orang seperti itu.

Kalau aku boleh jujur, ada dua orang yang kupanggil ibu, dua orang yang kupanggil ayah, tiga orang yang kupanggil adik, dan seorang yang seharusnya kupanggil kakak. Tapi bagaimana membicarakannya, ya? Aku mungkin akan lebih senang kalau terlahir dulu sebatang kara. Tidak. Mungkin tidak senang. Namun, keadaannya mungkin seperti suasana yang biasa saja. Seperti halnya ketika aku berkata “tidak apa-apa” saat ada orang yang bertanya tentang masalah yang kulalui. Tenang, atau biasa saja. Ataukah namanya hampa?

Hari ini orang yang kupanggil nenek telah meninggalkan dunia ini. Padahal hasil keputusan yang ia buat enam belas tahun lalu masih berpijak di atas tanah. Anggaplah, wanita ini yang bersalah pada diriku, lalu dengan kematiannya ia membawa keputusan itu ke liang lahat pula, menjadikannya keputusan seumur hidup. Ya, walaupun dia hidup aku juga tidak akan menuntutnya untuk mengembalikan hakku sih. Tapi rasanya aku seperti ditinggal di bumi sendirian. Lalu setelah ini aku harus apa?

Sudahlah. Tidak ada enaknya membicarakan orang mati. Di tempat yang kusebut rumah, orang-orang telah menungguku. Aku mengucapkan selamat tinggal pada nenek sambil melangkah meninggalkan pusara itu. Selama langkah-langkah menyusuri rumah, otakku tetap bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin ia yang seorang wanita membuat keputusan untuk menyengsarakan wanita lain? Hanya karena dianggap tidak penting?”

Setibanya di rumah, aku mendapati orang-orang yang duduk termenung dengan kantung mata lebam dan berair. Ada yang tidak kelihatan habis menangis, tapi hanya membuat tatapan kosong. Aku pun tidak akan mengatakan apa-apa. Mereka kelihatan tidak ingin berbicara juga. Lagi pula tidak ada yang ingin kubicarakan.

Tiba-tiba, orang yang biasa kupanggil Ibu menanyakan tentang piring-piring yang kotor. Piring-piring itu belum dicuci. Tugas mencuci itu memang dibebankan kepadaku. Tapi hari ini, aku lupa mengerjakannya. Jadi, untuk semua tumpukan piting kotor yang ada, ia minta untukku segera membereskan.

Aku hanya mengiyakan. Dan karena tahu maksudnya, aku pun berlalu ke arah dapur, mengambil piring-piring kotor, dan membawanya ke dekat sumur. Rumah ini tidak punya wastafel, jadi di tempat inilah piring-piring dicuci.

Ya, sebuah sumur tua. Sial sekali! Saking tuanya, tali timbanya putus. Jika seperti ini, aku tidak bisa mencuci piring. Jadi, langsung saja aku memberi tahu kepada Ibu bahwa tali timbanya telah putus.

Bukannya menjawab seruanku atau membawa suaminya kemari, si Ibu malah datang sendirian. Ia menyuruhku mengatasinya sendiri. Dengan keadaan duka suaminya karena baru ditinggalkan oleh ibundanya, ia menyuruhku untuk tidak mengganggunya. Tapi aku harus bagaimana?

“Nggak bisa toh, Buk. Ini kan kerjaan laki-laki,” kataku. Tali timba yang kusebut adalah karet padat dengan kawat dan paku sebagai sambungannya. Lalu karena Ibu suka memilah-milah pekerjaan antar laki-laki dan perempuan, seharusnya kata-kataku tidak salah, kan?

“Belajar to, belum dicoba kok semua-semua dibilang nggak bisa,” kata si Ibu. “Ibu nggak nyuruh metik kelapa kaya Sari anaknya Bu Lastri itu loh, cuma mbenerin tali timba.”

Lihat selengkapnya