Aku tidak ingat bagaimana aku berpindah tangan dari orang tua satu ke orang tua lainnya. Dari rumah satu ke rumah lainnya. Yang aku dengar, aku terlahir kembar. Kami kembar pengantin. Kebersamaan sepasang kembar pengantin rupanya tidak menyenangkan keluarga besarku. Takut terjadi malapetaka katanya. Karena kami katanya ditakdirkan menjadi suami istri, tapi akan sangat mustahil untuk dinikahkan. Maka dari itu, kami harus dipisahkan. Absurd? Ya! Dan menjijikkan.
Laki-laki punya tanggung jawab untuk meneruskan keluarga. Aku kurang paham apa maksudnya yang harus diteruskan. Marga pun tidak ada. Jika masalah trah pun, di mana pun kami berada sebenarnya trah tidak akan hilang. Namun, keluarga besarku yang dulu memilih untuk mempertahankan anak laki-laki saja. Yang kupanggil nenek dulu yang memutuskan itu. Dia yang seharusnya kupanggil Kakak dipertahankan di rumah. Jadi, seseorang harus menangkapku dari luar ketika ditendang dari rumah.
Aku hanya berusia beberapa hari saat itu. Tentu saja aku tidak bisa memilih orang tua mana yang harus menangkapku. Namun, pada akhirnya aku berakhir di anak si nenek yang lain yang belum memiliki keturunan setelah berumah tangga selama lima tahun. Di rumah inilah aku tinggal bersama mereka. Jadilah itu disebut sebagai keberuntunganku, diadopsi oleh paman sendiri. Katanya.
Saat itu, entah orang tua baruku ini menyayangiku atau tidak aku tidak tahu. Yang jelas, aku tumbuh besar dengan mempunyai seorang adik. Saat masuk TK, adikku bertambah satu lagi, lalu seorang lagi saat aku berada di SD. Jadi total, ada tiga orang anak laki-laki yang lebih muda dari diriku tinggal di rumah ini. Belakangan aku tahu kalau anak sepertiku namanya anak pancingan. Jadi anak buangan iya, anak pancingan pun iya. Aku tahu itu karena banyak orang memanggilku seperti ini dengan nada mengejek. Lalu sebenarnya, karena orang yang kupanggil orang tua di rumahku sudah memiliki hasil pancingan, sebenarnya aku tak dibutuhkan lagi kan?
Statusku hingga saat ini hanya anak yang menumpang. Aku tahu sih kalau au bukan anak asli di rumah itu. Tidak ada yang namanya sembunyi-sembunyi. Sejak kecil aku tahu kalau aku diadopsi, orang tua asliku yang mana, dan kenapa aku ditendang. Aku tahu itu, mereka juga tahu betul, dan kami hidup berdampingan. Mungkin seperti aku diberitahu pelan-pelan, secara natural. Kami tidak dekat, tapi masih sering melihat satu sama lain karena masih tinggal di desa yang sama.
Kami tidak sering berinteraksi. Mungkin hanya saling bertatap saat berpapasan. Atau menyapa jika keadaan tidak luwes terlihat jika hanya saling bertatapan saja. Tapi untuk berbincang, itu tidak pernah terjadi. Memang apa yang akan kami bicarakan? Menanyakan alasan apa untukku hidup serumit ini? Atau mendiskusikan kekolotan orang-orang tua atas gagasan mereka yang tidak masuk akal? Atau mempertanyakan perilakuku yang sering dibicarakan orang-orang karena dianggap tidak lumrah? Atau, apa? Sesinting-sintingnya diriku, aku pikir dialog yang terjadi jika kami berbincang tak akan berakhir baik selain dari kepalsuan belaka.
Tapi aku juga tidak berniat melakukannya sih. Begini saja tidak apa-apa. Dari pada memulai hal baru yang akan kusut. Lebih baik mendamaikan suasana saja dengan berpikir di masa lalu tidak ada yang terjadi. Tidak ada anak yang diberikan, diadopsi, dibedakan. Kalau orang mau berpikir ruwet dengan menelusuri asal usulku, itu benar-benar urusan mereka. Kalau aku tidak. Otakku terlalu pendek untuk mengingat semua kejadian itu. Kejadian yang tiba-tiba aku tahu sudah terjadi ketika aku sadar sudah menjadi manusia.
Toh aku hidup normal. Bermain, bekerja, bersekolah. Kalau aku mau menyesali yang terjadi, aku bingung harus menyesali apa. Soalnya aku sudah hidup normal seperti manusia pada umumnya. Jika ada orang yang mengasihaniku, aku juga bingung harus bersikap seperti apa. Mungkin di matanya aku menyedihkan, ya sudah tidak apa-apa. Mereka bukannya mau kembali ke masa lalu dengan mesin waktu untuk mencegah aku yang masih bayi diberikan kepada orang lain sebagai pancingan.
Namun, ada hal yang membuatku marah. Aku tahu tentang mitos itu. Aku menerima, walaupun tanpa persetujuanku bahwa aku dipisahkan dari keluarga, tetapi suara sengau yang sekali-kali kudengar agak menggangguku. Katanya, kami, maksudku aku dan kembarku tidak boleh dekat-dekat. Takut akhirnya jatuh cinta, takut mitos itu terjadi dan akhirnya menikah. Gila kan? Saking kesalnya aku ingin menggali orang yang pertama kali membuat mitos seperti ini dan menikahkan mayattnya dengan pohon pisang. Dan lagi pula, melihat kembarku yang hidup enak dengan uang dan keluarga yang seharusnya milikku itu membuat darahku mendidih. Saking enggannya, bahkan jika pada akhirnya mereka semua merangkak menghapkan aku kembali maka aku lebih rela tinggal bersama nenek tua di ujung kampung saja.
Pagi ini, aku berseru dari pintu depan rumah untuk izin berangkat ke sekolah. Aku berjalan kaki untuk sampai ke sana. SMA-ku tidak jauh. Hanya sepuluh menit jika berjalan kaki. Sepeda ada, orang rumah menyediakan. Namun, kalau aku membawa sepeda, aku tidak bisa pulang sewaktu-waktu karena gerbang parkiran sepeda hanya dibuka saat jam pelajaran berakhir. Untuk jaga-jaga, jadi aku berjalan saja. Sayangnya, ada hal yang luput dari perhatianku saat aku berjalan kaki. Aku salah waktu.