Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #3

Bagian 3

Sejujurnya, membolos juga tidak membuatku senang. Soalnya, ketika aku keluar dari pagar sekolah, aku bingung harus melakukan apa. Ingin bermain, teman-temanku yang hanya satu dua orang masih sekolah dan terlalu takut untuk ikut membolos, jika pulang ke rumah, orang-orang rumah pasti akan memarahi kesalahanku Mau luntang-lantung di jalan, rasanya juga tidak asyik karena hanya berdiam dan menatap pemandangan yang itu-itu saja. Namun, dari pada pilihan pertama atau kedua, pilihan ketiga adalah pilihan yang paling mungkin untuk dilakukan. Jadi, sekarang aku ingin ke sungai saja.

Sungai yang menjadi tempat tujuanku tidak dekat, tapi tidak terbilang jauh juga. Namun, karena aku berjalan kaki, rasanya jadi melelahkan. Begitu sampai di tepi sungai, seragamku jadi penuh keringat. Yaks! Semoga saja angin di sini bisa mengeringkannya. Tahu begini kutinggal saja tasku di kelas. Kan lumayan, jalannya pasti lebih ringan.

Aku hampir kebingungan saat sampai di sungai ini. Bagusnya melakukan apa ya? Masa hanya berdiam diri di bibir sungai? Ya, walaupun itu bagus juga sih. Tapi sayangnya cuacanya sama sekali sedang panas terik jika hanya berdiam di bawah matahari. Aku sedang tidak berniat menjadi ikan asin. Jadi, aku akan mencari tempat berteduh agak jauh dari bibir sungai.

***

Sayup-sayup aku mendengar suara orang sedang berbicara. Loh! Pandanganku hanya hitam dan perlahan remang-remang setelah sedikit sadar bahwa kelopak mataku sedang proses terbuka. Seharusnya kantukku masih tersisa jika saja aku tidak terkejut karena tidak sengaja tidur di bawah pohon. Terlebih, sedari tadi sepertinya aku tidak sendirian karena di depanku sekarang ada seorang anak laki-laki yang tidak asing sedang berbicara dengan ponselnya sambil memakan anggur.

Laki-laki itu tetap berbicara pada ponselnya tanpa tahu aku sedang mengamati. Dia sok lo-gue di kampung begini dengan logatnya yang tidak memadai. Rasanya jika kakiku yang mengarah kepadanya sekarang kupakasa tendang ke telinganya, itu akan sedikit lebih memuaskan. Hanya niat saja. Sebelum itu terjadi, akhirnya, ia mungkin peka lalu menoleh ke arahku sambil terkejut.

Serius! Wajah laki-laki ini jelek sekali saat terkejut melihatku yang sudah terjaga. Setelah merenggut dadanya sendiri diiringi batuk-batuk yang dramatis, ia malah terkekeh dan mematikan sambungan telponnya tanpa bilang apa-apa pada yang di sana. Lalu tanpa basa-basi ia menawarkanku anggur yang sedari tadi ia makan sambil bicara di telpon.

“Diem atau aku lempar kamu sekalian ke sungai!” ancamku.

Dia tampak sedikit cemberut walau tak mengeluarkan hawa-hawa kemarahan dari dalam dirinya. Anggur yang disodorkan ke arahku perelahan diturunkan. “Galak banget,” gerutunya.

Dari pada langsung pergi seperti biasanya, aku memilih berdiam dulu sambil mengumpulkan nyawa. Kantukku masih tersisa. Kepalaku juga sedikit terasa pusing. Sudah berapa lama aku tidur? Kalau tahu hanya tertidur setelah membolos, lebih baik tadi tidur di kelas saja. Paling pol dimarahi, tapi tidak perlu kepanasa. Dan sungguh tidak perlu bertemu anak ini sama sekali. Ah sudahlah!

Aku mencari ponselku dari dalam saku rok. Pukul setengah satu rupanya. Itu berarti aku belum lama tidur sejak sampai di dekat sungai ini. Pantas saja kepalaku terasa pening. Lagi pula sejak kapan anak ini datang dan mengacaukan tidurku dengan berorasi di teleponnya?

Lihat selengkapnya