Enam belas tahun yang lalu, aku dan Lodaya terlahir kembar. Kami kembar pengantin. Kata orang-orang, sepasang kembar pengantin bukanlah saudara melainkan jodoh. Namun, karena terlahir dari rahim yang sama, kami pun tidak bisa menikah. Jika dikaitkan dengan takdir itu, maka hidup kami sangat kacau. Hingga tiba sebuah keputusan dari nenek kami saat itu, kami harus dipisahkan sejauh mungkin.
Aku pernah dengar, ibu angkatku adalah sepupu ayah kandungku. Dia hidup berumah tangga tanpa anak. Dengan salah satu dari kembar pengantin ayah kandungku harus dikeluarkan dari rumah, maka ibu angkatku meminta salah satunya untuk diadopsi. Aku tak tahu apa yang mereka bahas hingga keputusan akhirnya ibu angkatku diperbolehkan untuk mengadopsi. Saat itu masih belum diputuskan siapa yang akan diambil, aku atau Lodaya. Namun, di sinilah aku sekarang. Selama hidup aku tumbuh dengan pengetahuan bahwa Lodaya dipertahankan karena dia akan meneruskan keluarga, karena dia laki-laki.
Bertahun-tahun setelahnya, aku dan Lodaya tumbuh di tempat yang berbeda. Meskipun begitu, kami saling tahu satu sama lain. Orang tua angkatku juga tak pernah menyembunyikan fakta kalau aku bukanlah anaknya. Terlebih aku, Lodaya, dan keluarga kami berada di satu desa. Karena itu, kami juga sering berpapasan.
Aku dan Lodaya tidak pernah satu sekolah. Sebelum memilih sekolah, orang-orang tua kami berdiskusi agar kami tidak satu sekolah. Dengan begitu, kami hidup asing selama ini. Lodaya dengan orang tua kandungnya yang bisa terbilang berkecukupan dan aku dengan orang tua angkat yang bisa dibilang hanya memiliki taraf hidup yang cukup, tidak kurang juga tidak lebih.
Akibat keterasingan itu, aku tidak pernah berbicara dengan Lodaya. Kami juga tidak saling bertegur sapa. Lodaya juga sepertinya mengerti didikan yang satu itu. Tentang dia yang harus menghindariku, menjauhiku, juga mengabaikanku. Dia hidup secuek itu sebelumnya. Hingga aku sadar, beberapa waktu ke belakang sikap Lodaya agak berbeda. Dia mulai menyapaku hingga sekarang aku mulai terganggu dengan tingkah sok akrab itu.
Aku pernah memikirkannya. Aku berpikir keras sejak kapan dan dari mana itu semua dimulai. Lalu, kesimpulanku jatuh pada peristiwa kecelakaan sepeda motor yang melibatkan Lodaya beberapa waktu lalu. Hampir satu tahun yang lalu. Seingatku, dia dirawat di rumah sakit karena itu.
Lodaya menjadi anak satu-satunya orang tua kandungku karena setelah kelahiran kami, mereka tidak mempunya anak lagi. Aku menilai Lodaya adalah anak kesayangan mereka. Semua yang Lodaya pakai adalah barang yang bagus, kukira demikian juga dengan makanannya. Nah, ada satu barang yang terlibat dalam kecelakaan itu. Lodaya yang saat itu baru berusia lima belas tahun punya motor besar yang paling keren di desa kami.
Aku kerap melihat Lodaya mengendarai motor itu. Motornya berwarna merah hitam dan tangki bensin besar yang ia tak perlu turun jika mengisi bensin di SPBU. SIM? Anak laki-laki berusia lima belas tahun pastilah tak punya itu. Namun, aku pastikan anak itu sering berkeliaran di jalan raya dengan motornya. Hingga suatu hari saat berita kecelakaannya tersebar di desa, aku baru tahu kalau Lodaya sering main balap-balapan dan memonopoli jalanan saat malam hari.
Lodaya selamat dan hanya beberapa hari dirawat di rumah sakit. Namun, seseorang meregang nyawa saat itu. Aku dengar teman dekat Lodaya. Sejak saat itulah, Lodaya agak berubah. Aku tak tahu perubahannya terhadap orang lain, tapi terhadapku demikian. Sepertinya kepalanya terbentur hingga ia berperilaku konyol setiap hari untuk menggangguku.
Aku menggidikkan wajahku siang itu. Seingatku saat masa-masa sering berpapasan dengan Lodaya dan motornya, aku sangat kesal. Aku paling benci mendengar salah satu motor Lodaya dengan knalpot berisik jika digeber-geber. Apalagi di siang bolong yang terik ini. Persis seperti bunyi knalpot dari kejauhan yang tepat saat ini kudengar.
Loh, suaranya mendekat?
Benar saja. Sebuah motor yang ditunggangi anak SMA sedang melaju ke arahku dari belakang. Tepat ketika di sampingku, motor itu kemudian memelan dan menggeber-geber gasnya untuk meledekku yang sedang berjalan sendiri. Aku tentu merasa terganggu. Namun, mereka tidak terlihat ingin pergi segera. Dan ini adalah jalan di tengah sawah. Tidak ada orang lain yang akan ikut terganggu kemudian memarahi kedua anak yang berboncengan itu.
Untuk memenuhi emosiku saat ini, aku segera mengambil batu seukuran genggaman tangan dan melemparnya ke arah mereka. Dan sepertinya itu bukan hal bagus. Kekesalanku memang mereda, tapi kekesalan mereka malah mulai tumbuh. Bukannya memilih pergi, mereka malah meminggirkan motornya dan turun menghampiriku.