Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #5

Bagian 5

Sudah dua hari aku berdiam diri di rumah. Selain urusan ke kamar mandi, aku juga tidak keluar kamar. Makanan diantar langsung ke kamarku tanpa aku minta. Yah, sebagai orang tua angkat yang kukira mereka membenciku, mereka juga bisa perhatian. Selama berdiam diri di kamar ini juga, aku baru sadar bahwa aku tidak benar-benar dikucilkan. Buktinya aku hidup sampai sebesar ini. Dan untuk anak yang ditendang dari rumahnya sendiri, orang yang memungutnya bisa disebut penyelamat, kan?

Tidak ada kata maaf dariku. Tak ada juga ungkapan kasih berlebihan dari ibu angkatku. Semua biasa, tapi terasa lebih damai setelah aku memikirkan banyak hal itu. Adik-adik angkatku juga rupanya menantikan saat untukku berbaur. Ketika aku datang sebagai teman, mereka menyambutku dengan senyum-senyum polosnya.

“Mbak, ada Mas,” kata adik angkat bungsuku, Farhan. Kepalanya yang mungil menyembul dari balik daun pintu.

Alisku refleks terangkat sedikit. “Mas?” gumamku.

Farhan mendeskripsikan Lodaya dengan menunjuk bagian bawah mata sebelah kirinya. Sedikit lebih tinggi daripada tulang pipi. Ya, letak tahi lalatnya. Sebuah tanda fisik familier yang juga terdapat di wajahku. Milikku ada di batang hidung bawah, di atas ujung hidung, sedikit lengser ke kanan.

Daripada memikirkan kesamaan fisik itu, aku lebih terkejut dengan kedatangan Lodaya. Ini adalah kali pertama ia secara khusus menemuiku. Benar-benar menemuiku. Sepertinya, anak laki-laki itu sudah benar-benar tidak menerima pantangan dari mana pun.

***

Aku menyingkap korden ruang tamu perlahan. Baru terbuka sedikit, aku langsung menutupnya kembali dengan cepat hingga suaranya membuat orang-orang menyadari kedatanganku. Ya, orang-orang, kata jamak. Selain Lodaya ada orang-orang lain yang belum kuketahui siapa mereka.

Aku diam di belakang korden tanpa berani mudur ataupun membukanya kembali. Aku harus bagaimana? Kembali ke kamar saja? Keluar saja? Atau bagaimana? Di tengah-tengah kebingunganku itu, Lodaya kemudian membuka korden di tanganku dengan paksa. Ia juga memaksaku untuk bergabung dan duduk bersama di ruang tamu.

Aku menggeleng-geleng saja karena tidak mau ikut bergabung di sana. Namun, Lodaya menarik tanganku. Ia tak peduli dengan penolakanku dan langsung mengajakku duduk di kursi persis di sebelahnya. Saat itulah aku mengetahui siapa saja yang duduk di sana. Hanya tiga orang termasuk Lodaya rupanya. Lodaya, Ilyas, dan siapa dia?

“Nah, ini!” Lodaya seakan-akan menunjukkanku dengan bangga pada teman-temannya itu.

Aku hanya diam saja. Bingung? Tentu. Tapi lebih dari itu, aku bingung harus menanggapi bagaimana. Aku sangat membenci Lodaya sebelumnya. Sekarang pun masih ada sisa-sisa perasaan itu. Namun, ada perasaan lain yang mencegahku untuk berbuat kasar kepadanya. Apalagi di depan teman-temannya. Sebenarnya, biasanya aku malah mempermalukannya di depan orang banyak sih. Ada apa denganku?

Lodaya sempat menanyakan kondisi wajahku yang babak belur. Ia juga menanyakan apakah wajahku sakit atau tidak. Aku hanya menggeleng tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

“Bener mirip ternyata,” kata orang yang tak kukenal tadi kepada semua orang. “Padahal cowok cewek tapi bisa mirip gitu, ya?”

“Saudara,” timpal Ilyas. “Wajar.”

Sementara kedua temannya saling bersahutan, Lodaya sibuk sendiri dengan kantong-kantong di atas meja. Aku sempat melirik ke arah wajahnya yang seperti salah tingkah. Ia juga menghentikan celotehan-celotehan teman-temannya dengan memasang senyum yang tertahan. Sayangnya dengan wajah kurusnya, daging di pipinya malah semakin tinggi.

“Ini, makan, makan,” kata Lodaya kepada kedua temannya. Ia mengeluarkan banyak makanan dari kantong-kantong tadi dan menyodorkannya kepada mereka. “Kamu mau makan yang mana?” Lodaya menoleh ke arahku.

Aku kembali menggeleng.

Lodaya tidak berhenti atau menunjukkan rasa canggung karena penolakanku. Sebaliknya, ia malah melanjutkan dengan mencari bagian wajahku yang lain, tempat luka-luka tempo hari berada. Kemudian, ia mencari satu di antara makanan-makanan di atas meja. Pilihannya jatuh pada sebuah kotak karton persegi yang berisi kue ketika dibuka. Sejenis kue bolu? Entahlah. Warnanya merah gelap dengan krim putih dan hiasan ceri.

Lihat selengkapnya