Orang tua angkat yang telah ikut membimbing pemisahan antara aku dan Lodaya di keluarga besar sudah memberikan lampu hijau. Aku tidak tahu datang dari mana inisiatif itu. Aku tidak pernah memintanya barang sekali pun. Namun, aku merasa kata-kata yang keluar dari mulutnya sore itu amat tulus. Dia membiarkan air mataku habis di pelukannya bahkan tanpa aku sendiri tahu untuk apa air mata itu keluar.
Hari-hari itu terasa nelangsa bagiku. Bahkan setelah ucapanku pada Lodaya terakhir kali, aku merasa tambah kosong. Lodaya tidak menemuiku atau menggangguku lagi. Seperti ada yang hilang, tapi tak bisa kukembalikan. Apakah Lodaya benar-benar mematuhiku? Dia akan benar-benar menyerah menjadi kakakku? Kalau iya bukankah seharusnya aku senang? Aku tak perlu sibuk mengusirnya, pun mrnjelaskan jika ada keluarga besar yang bertanya. Entahlah.
Hari ini, sepulang dari sekolah aku tidak langsung pulang. Aku memilih naik ke rumah pohon ujung kampung untuk melihat hamparan sawah yang diselimuti sinar hangat mentari sore. Suasananya cocok untuk melamun. Meskipun begitu, otakku tidak sampai ke sana. Ia berada di antara sadar dan lamunanku. Maka dari itu ketika senandung orang lewat di bawahku, aku dapat menyadarinya. Aku ingat suaranya. Itu Damar! Tanpa sadar, aku menggumamkan namanya untk memastikan.
Damar yang menyadari suaraku terkejut ketika melihat ke atas. Mungkin dia tidak sadar ada rumah pohon di atas sini. Matanya yang bergaris grlap membingkai matanya yang terbelalak ke arahku. Ekspresinya konyol, lucu. “Loh, adeknya Awan, kan?” tebaknya.
Aku mengangguk. Tidak, seharusnya tidak perlu seperti itu kan? Kok aku mengaku adiknya Lodaya? Lalu entah ada angin apa, tanpa malu aku malah memanggilnya untuk ikut naik ke rumah pohon. “Cukur rambut?” tanyaku sekenanya. Sepertinya runtutan perilakuku ini lrbih cepat dari apa yang aku pikir akan lakukan.
“Bagus?” Anak asing itu malah balik bertanya, minta penilaian.
Aku menggeleng. Kurasa rambutnya lebih bagus saat sedikit panjang kemarin. Walaupun yang sekarang tidak terlalu pendek, tapi rasanya ada yang kurang saja. Apa ya? Terlihat agak culun mungkin. Karena terlalu rapi seperti kartun bapak-bapak kantoran yang rambutnya mengkilap tanpa belahan.
“Wah, tapi kan lebih rapi,” kilahnya. Ia tak coba mengatur ulang posisi rambutnya. Kurasa penilaiaanku yang kurang tidak membuatnya perlu mengubah. “Btw, Awan di mana?” tanya Damar.
Aku mengedikkan bahuku. “Kan kamu satu sekolah?” Aku balik bertanya.
“Loh, kan kamu adeknya?” Damar membalikkannya lagi. “Ah, berarti dia belum nemuin kamu, ya?”
Aku menggeleng sementara Damar mengangguk-angguk mendengar jawabanku.
“Dia udah nggak bakal nemuin aku lagi kayaknya,” kataku spontan.
Aku mengharapkan reaksi terkejut atau bertanya-tanya dari wajah Damar. Namun, yang anak itu tunjukkan tak lain adalah hanya mengangguk-angguk atau memberi pemakluman atas cerita yang ia dengar. Seakan ini bukan suatu yang besar, ya memang tidak besar sih, tapi Damar sepertinya punya level cuek yang agak tak lazim.
“Dia bakal nemuin, kok. Mungkin dia cuma belum siap atau lagi nunggu sesuatu,” katanya kemudian. Oh, masih lazim.
“Dia ada cerita sama kamu?” Aku bertanya lagi tanpa tedeng aling-aling. Sejujurnya, rasanya tidak beres, percakapan ini aneh. Damar terdengar lebih seperti saudara Lodaya daripada aku sendiri.
“Enggak. Aku nebak aja.” Damar menyeringai. “Betulan, dia Cuma cari waktu. Bocah kayak dia ga bakal marah-marah, kok. Gak bakal kemusuhan, tenang.”
Sekarang gantian aku yang mengangguk-angguk saja. Aku bukannya berharap, tapi memang tak punya stok ekspresi lagi untuk menanggapi Damar. “Kamu punya adik, kan?” tanyaku.
“Punya, dua, kembar, kenapa?” tanya Damar sambil mengangguk pada setiap sela kata-katanya.
“Biasanya mereka ngapain di rumah?” tanyaku.
Damar menjawab pertanyaanku dengan rasa yang tak dapat aku artikan. Dia tampak ceria untuk beberapa keadaan, tertawa saat mengingat-ingat jalan cerita adik-adiknya, tapi selalu menyelipkan kesedihan di setiap ceritanya. Kalaulah aku ingin terlihat peduli, pasti sudah kutanyakan apa yang membuatnya tersedih.