Pagi itu aku berangkat sekolah dengan setelan putih-abu-abuku, berjalan kaki seperti biasa. Entah kenapa aku merasa was-was orang-orang memperhatikan gaya rambut baruku. Sejujurnya, modelnya tak seperti rambut laki-laki kok, hanya lrbih pendek dari potongan rambut kebanyakan wanita saja. Sepertinya mereka tidak memperhatikanku, perasaanku saja. Tapi tetap, rasanya tidak nyaman. Memang benar seharusnya tadi aku memakai jaket saja yang berkupluk supaya rambutku tertutup.
Berkat ketidakpercayaandiriku itu, aku menunduk sepanjang jalan. Aku berharap sekolahku tinggal berjarak seratus meter lagi, lima puluh meter, oh tapi rasanya tidak sampai-sampai. Karena penantianku tak kunjung terjadi, aku menegakkan wajahku. Tepat saat itu, seseorang yang kukenal melewatiku dengan motor matic-nya seorang diri.
Aku hampir tercekat dan entah bagaimana tanganku terasa ingin terangkat. Tidak, reflekku yang lain mencegahnya kemudian kakiku kembali melangkah. Dia sudah melesat jauh, bahkan hilang dari pandanganku di tikungan. Lagi pula aku juga tidak akan menghentikannya walau di berjalan lambat.
Beberapa pertanyaan tersisa di kepalaku. Apakah dia tidak mengenaliku? Atau karena perkataanku tempo hari, ia benar-benar menjauhiku lagi? Atau dia hanya tidak menyadari keberadaanku karena gaya rambut baruku ini? Semua pertanyaan itu berputar dikepalaku. Aku menggidikkan wajah. Apa pun jawabannya, itu tidak penting.
“De?” Seseorang tiba-tiba berkendara pelan di sampingku.
Aku tidak bisa tidak terkejut untuk itu. Bahkan aku sampai berjingkat beberapa langkah menjauhi dia. Aku jelas lihat sendiri tadi anak itu sudah melewatiku. Bahkan, ah, iya benar, dia sudah melewatiku tadi. Tidak mungkin tidak.
“Aku tadi lewat kayak liat kamu, jadi aku muter balik,” katanya bahkan sebelum aku sempat menanyainya. “Potong rambut?”
“Kamu liat apa, hah? Iyalah jelas-jelas potong rambut.” Hm aku menyesal bicara. Aku tidak tahu kenapa jika berbicara dengan Lodaya amarahku terus mendidih. Padahal aku tidak bermaksud begitu.
Meskipun begitu, seperti biasa Lodaya tak memasang wajah kecewa karena dimarahi. Dia malah terkekeh hingga celah matanya menyempit. Ia bahkan menawarkan diri untuk mengantarku.
Aku menggeleng cepat. Lalu seperti biasa, Lodaya memaksa seakan-akan aku tidak terpaksa. Ia menarik lenganku begitu saja dan menggeser arah berdiriku sejajar dengan jok belakang, seperti anak kecil yang disuruh naik di belakang setelah dinasihati kalau dia sudah terlalu besar untuk duduk di depan.
Setelah insiden pemukulan tempo hari, inilah kali keduaku dibonceng oleh Lodaya. Tak seperti saat itu, dia sekarang lebih banyak omong. Seakan tidak terjadi apa-apa antara aku dan dia tempo hari. Tidak ada marah, tidak ada malu, hanya perilaku normal seorang Lodaya.
Aku jadi teringat kata Damar di rumah pohon. Sebelumnya aku ragu dengan keyakinannya tentang Lodaya. Tapi ternyata dia benar. Rasa-rasanya, aku kalah dari Damar soal mengenal Lodaya. Padahal aku adiknya. Terlebih, Damar juga orang terhitung yang baru bertemu Lodaya.
“Eh, eh, Damar! Damar!” Lodaya ribut sendiri melihat Damar berjalan kaki di depan kami.
Anehnya, ada sinyal yang sampai di kepalaku. Keributan Lodaya membuatku mengerti bahwa kami harus mengganggu Damar yang berjalan seorang diri. Karena itulah, begitu motor Lodaya sampai di samping Damar, kami berseru-seru untuk mengganggunya kemudian meninggalkannya dengan tarikan gas yang kencang.
Aku bisa merasakan otot wajahku menegang karena tertawa. Itu menyenangkan! Lalu mendebarkan karena Lodaya tak kunjung menurunkan gas motornya.