Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #8

Bagian 8

Untuk pertama kalinya sejak aku menjadi teman sekelas Maziya, kami akan mengobrol. Perilakuku pagi tadi sepertinya tidak membuatnya senang. Dia juga tak menerima permintaanku untuk dititipi jaketnya Lodaya. Malahan, dia mengajakku keluar sepulang sekolah. Dan walaupun aku telah menolak, Maziya terus memaksa.

Akhirnya di sinilah kami. Maziya membawaku ke sebuah sungai besar jauh dari sekolah kami. Sungai ini begitu besar hingga terlihat seperti danau. Sebenarnya tempat ini popular sebagai tempat wisata di kabupaten kami. Sayangnya, baru kali ini kakiku memijak tanah di sini.

Aku sempat berterus terang kepada Maziya bahwa aku tak punya uang. Namun, Maziya tetap memaksa. Dan karena Maziya berdalih bahwa ia yang mengajak, maka semua tanggungan yang perlu mengeluarkan uang, itu adalah tanggungannya.

Karena kami tidak akrab sebelumnya, kami pun memulai obrolah dengan basa-basi. Bukan kami, Maziya. Walaupun pendiam, rupanya dia cukup lancar berbincang. Aku terkesan dengan intonasi lembut dan feminimnya. Dengan cara bicaranya yang lancar, aku masih mendapatkan sifat pendiam dan pemalunya. Menarik.

Maziya juga berbicara pelan, sopan, dan berhati-hati. Aku bahkan tidak menyadari saat topik pembicaraannya perlahan beralih ke hubunganku dan Lodaya. Awalnya ia hanya membahas tetang bagaimana ia bisa mengenal Lodaya. Lama-kelamaa, ia mulai menanyaiku macam-macam tentang Lodaya juga. Aku jadi curiga jangan-jangan Maziya mengajakku ke sini hanya untuk mendapatkan informasi tentang Lodaya. Kalau benar begitu, Maziya telah bertanya pada orang yang salah.

Saat aku mengutarakan kecurigaanku itu pada Maziya, gadis itu langsung menepisnya. Katanya ia hanya penasaran saja denganku. Ia juga bilang kalau ia dan Lodaya sudah cukup dekat karena mereka berasal dari SMP yang sama. Hanya saja,di antara mereka tidak ada hubungan spesial. Hanya seperti kakak dan adik.

“Kakak adik?” tanyaku.

Maziya memberikan dugaannya sendiri mengapa Lodaya melakukan itu. Awalnya, Maziya juga merasa aneh. Hingga akhirnya ia tahu Lodaya punya seorang adik, yaitu aku, yang sudah berpisah sejak kami sama-sama dilahirkan. Jadi, Maziya merasa perilaku Lodaya dapat dimaklumi. Laki-laki itu hanya rindu pada adiknya, kata Maziya.

“Kamu nggak kangen?” tanya Maziya.

Kangen? Aku hanya menggeleng. Lagi pula kami sering berpapasan karena masih tinggal di desa yang sama. Dan sejujurnya juga aku tidak rindu sama sekali. Mungkin akan lebih baik jika kami tidak bertemu sama sekali. Hidup saling berjauhan tanpa tahu masing-masing kami saling bersaudara.

Maziya tersenyum canggung setelah mendengar kata-kataku. “Kenapa kamu membenci Awan?” tanyanya.

“Aku nggak benci,” kataku. Hanya saja, aku tidak suka kalau kami melanggarapa yang sudah dibataskan. Hidup seperti ini saja sudah menyusahkan. Aku tidak mau lebih susah lagi dengan tekanan dari sana sini agar kami saling menjauh. Ah, sudahlah. Lagipula Maziya tak akan mengerti.

“Sebenarnya kalian sama saja,” kata Maziya. “Awalnya kukira Awan adalah anak yang ceria. Setelah lebih jauh kenal, aku baru sadar keceriaannya itu nggak lengkap. Benar kata orang-orang, semakin terang cahayanya, maka semakin gelap pula bayangannya. Kalian dipisah bukan karna keinginan Awan.”

Lalu? “Lodaya bisa hidup enak sama orang tuanya. Nasibnya juga bagus. Jadi mau gimana?” Aku berusaha mendebatnya.

“Awan ngga pernah ngomong gamblang, tapi aku tau dia merasa bersalah atas nasibmu,” kata Maziya.

Lihat selengkapnya