Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #9

Bagian 9

Akhir-akhir ini aku merasa sedikit terlalu baik dengan Lodaya.Dia juga berkali-kali lebih baik daripada biasanya. Saat aku ingin bersikap seperti sebelumnya, aku akan merasa tidak enak dengan kebaikan Lodaya. Rasanya seperti sedang disuap. Dan siapa yang terlihat buruk? Aku. Aku seperti manusia materialistis yang dapat dibeli dengan uang dan barang.

Apa aku harus mengasari Lodaya lagi?

Sepertinya bukan hal yang bagus. Eh, tidak. Siapa yang peduli mau terlihat bagus atau tidak? Sebelumnya juga aku biasa mengasari Lodaya. Apakah terlihat bagus? Tidak. Tapi itu lebih baik dari pada akhir-akhir ini. Lodaya itu licik sekali. Belakangan ia membawa trman-temannya srhingga jika aku kasar kepadanya, maka akan ada Damar atau Ilyas yang melihat. Membuat aku terkesan kurang ajar sekali. Huh!

Sebab menganggap barang-barang pemberian Lodaya sebagai ssuap, akhirnya aku mengumpulkan barang-barang itu di pojokan kamar. Aku tidak berniat memakainya. Kurasa jika aku mengasingkan barang-barang itu, aku tidak akan merasa punya hutang kepada Lodaya. Pasti akan lebih mudah untuk menjauhi anak itu. Lama-kelamaan, keadaannya akan kembali seperti sedia kala.

Sebenarnya yang seperti itu saja tidak cukup. Jadi aku mulai melakukan hal lain juga. Aku mulai berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda. Setengah jam lebih awal daripada jam berangkatku seperti biasa. Di sekolah, aku menghindari Maziya dan berusaha sebisa mungkin menyingkir dari pandangannya. Lodaya dan Maziya cukup dekat. Aku khawatir Lodaya menggunakan Maziya untuk mengawasiku.

Kemudian, aku pulang sekolah ketika petang. Jika sebelum itu, aku takut Lodaya akan menghampiriku di rumah. Dia tak akan datang jika hari sudah gela. Jadi aku akan mengalah. Awalnya, aku berdalih mengikuti ekstrakurikuler kepada Ibu. Namun, beberapa waktu kemudian, aku mendapatkan ide mencari kerja sampingan. Saat aku melakukannya, aku bisa pulang lebih petang dari sebelumnya. Dan Lodaya benar-benar tak punya celah untuk mendekatiku.

Ada banyak alasan yang masuk akal ketika aku meminta izin kepada Ibu untuk bekerja sambilan. Aku sudah besar, aku perlu uang, dan pendapatan Ayah hanya cukup. Kalau soal uang dari orang tuaku, aku tak butuh, aku tak mau tau. Aku perlu lebih tanpa harus meminta biaya kepada ibu kandungku. Aku juga menjamin sekolahku tak akan terbengkalai karena ini. Walaupun dengan beberapa perdebatan kecil, akhirnya Ibu setuju juga.

Dan, di sinilah aku sekarang. Seingatku, rencana ini cukup berhasil. Lodaya tak punya banyak waktu untuk menemuiku. Tepatnya aku yang punya. Kalaupun ia benar-benar datang di depan pintu rumah, aku bisa langsng menolaknya karena terlalu lelah pulang dari swalayan. Aku akan bilang aku akan istirahat. Lodaya akan pergi setelah itu tanpa babibu. Esoknya ia akan datang lagi, pun bisa kuperlakukan demikian lagi.

Sayangnya, akhir-akhir ini rasa lelahku bukan alasan sekadar alasan lagi. Aku benar-benar kelelahan. Hingga pada suatu hari, aku tiba-tiba terbangun di UGD rumah sakit. Aku bangun sambil meronta-ronta karena tak menemukan satu pun orang selain seorang wanita paruh baya yang kukenal sebagai ibunya Lodaya. Setengah mati aku berteriak memanggi Ibu yang kumaksud Ibu. Bukan yang ini. Yang di luar, yang merawatku dari kecil, walaupun suka marah-marah dan mengataiku bukan anaknya.

Aku tak ingat bagaimana aku sampai di sini, bagaimana aku bisa bangun, bagaimana wanita itu bisa duduk di samping ranjangku, bagaimana aku tak ingat apa-apa lagi setelah itu, dan bagaimana aku bangun kembali dengan semua orang mengelilingiku. Sepertinya setelah program jerit-menjerit karena tak mau ibu kandungku ada di sini, aku tak sadarkan diri lagi. Begitu siuman untuk kedua kalinya, sudah ada Ibu, Farhan, Lodaya, dan Damar. Aku terjaga seperti orang ling lung selama beberapa saat.

Beberapa saat setelahnya, orang-orang berbicara seperti biasa. Seperti tak ada apa-apa. Tak menyinggung soal ibu kandungku sama sekali yang barusan muncul seorang diri saat aku siuman yang pertama. Mereka ini malah membahas kesibukanku belakangan. Aku baru sadar bahwa pekerjaanku terancam. Terlebih Ibu juga bilang bahwa aku tak perlu bekerja lagi. Lodaya menimpali hal yang sama, Damar juga ikut-ikutan. Payah. Usahaku menjauhi Lodaya jadi gagal.

Seperti saat aku dipukuli anak badung beberapa minggu lalu, Lodaya juga jadi sering menjengukku. Bahkan lebih sering dari biasanya. Padahal aku tidak sakit seserius kelihatannya. Hanya kelelahan dan darah rendahku kambuh. Karena itulah tubuhku jadi lemas. Namun, orang-orang memperlakukanku seperti aku akan mati. Bahkan saat aku sampai di rumah untuk istirahat lanjutan.

Dengan alasan lemas, aku tidak banyak menanggapi Lodaya. Sengaja. Aku berusaha sedingin mungkin. Bahkan ketika Damar ikut berkunjung dan melawak seperti biasa, aku bertindak seolah-olah tidak tertarik. Wajahku hanya datar, kuyu, dan diam. Terkadang aku juga tidur saat mereka sedang berkunjung. Masa bodo reputasiku kali ini. Kalau aku membuka celah lagi, maka usahaku selama ini akan sia-sia.

Lihat selengkapnya