Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #10

Bagian 10

Jika pendewasaan adalah bagaimana kita menghadapi masalah dengan hati penuh ketulusan dan kesabaran, maka aku belum dewasa. Namun, aku bukannya tidak akan mencoba. Sebetulnya aku sudah pernah, bahkan berkali-kali. Seperti biasa, usaha itu gagal. Ada kelebat kebencian, kedengkian, dan iri hati yang menghancurkan tekadku yang masih ragu-ragu. Orang tak akan melihat bahwa aku belum kuat.

Aku tahu, Lodaya tak punya andil apa-apa dalam pembuanganku. Kami sama-sama seorang bayi, sama-sama bodoh, dan menerima apa pun takdir yang datang hari demi hari. Sayangnya, kami dibesarkan dengan bisa memandang kehidupan kami satu sama lain. Saat itulah aku merasakan betapa timpangnya nasibku dengan Lodaya. Dan aku merasa semua orang salah, termasuk Lodaya. Kenapa harus dia yang dipertahankan?

Belakangan, saat aku merasa Lodaya berusaha keras membagi nasibnya denganku, aku merasa Lodaya harus merasakan bagaimana rasanya terbuang. Toh sebenarnya kehilangan aku sebagai adiknya juga tak berarti apa-apa di hidupnya. Kalau aku memang sangat ingin Lodaya merasa terbuang, aku akan membuat semua orang membuang Lodaya. Tapi aku tak bisa. Aku tak mau. Aku tak peduli. Sebenarnya aku hanya tak mau Lodaya bisa mendapatkanku yang telah dibuang.

Aku selalu menutup telingaku dari nasihat-nasihat orang yang tak tahu apa-apa tentangku. Aku tak mau dengar. Mereka yang tak tahu seperti apa rasanya bernasib begini, tak pantas menceramahiku. Mana tahu mereka bagaimana rasanya hidup dengan orang tua yang bukan orang tuanya, saudara yang bukan saudaranya. Mendengar orang-orang berkata harus bersyukur dengan keterbuanganku, dan mengutukku yang urakan karena hidup seperti ini.

Sebenarnya, Lodaya sendiri bisa meluluhkanku tanpa membuatku mendengar nasihat apa pun. Itu sudah terjadi berkali-kali. Sayangnya, karena Lodaya jugalah aku memilih menjauh lagi. Aku sendiri tak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Hatiku mengalir begitu saja dengan cara yang aneh. Mengalir ke mana, itu lebih aneh. Sebab, aku tak tahu jawabannya, juga tak tahu tujuannya. Semua terjadi begitu saja.

Hampir saja Maziya membuatku sedikit mendengarkannya. Lagi-lagi karena aku merasa tak ada yang merasakan apa yang kurasakan, aku pun menganggap Maziya demikian. Aku menutup telingaku lagi dengan separuh kisah bahwa Lodaya sangat merindukanku sebagai adiknya.

Karena kisah yang Maziya berikan itu, aku sampai berani mengambil banyak keputusan. Keputusan untuk lebih menjauhi Lodaya, menambah jam belajar, mengisi waktu luang, bahkan bekerja sampingan. Dengan begitu, aku berharap diriku tak merasa bersalah. Tak perlu merasa jahat karena selama ini mengabaikan Lodaya. Namun, akhirnya aku terkapar karena kelelahan. Semua usai.

Dalam usahaku menjauhi Lodaya lagi, kini Damar datang. Damar datang dengan wajah aslinya. Ia menampakkan babak belur luka jiwanya kepadaku. Tentang kehancuran keluarganya, perpisahannya dengan adik, ayah, dan ibunya, serta tentang dirinya yang terbuang. Ia memberi kesan bahwa aku dan Damar merasakan hal yang sama, tapi dengan posisi Damar yang berada di tempat Lodaya yang mana aku tahu, itu tidak sama.

Bagaimanapun juga, percakapanku dengan Damar di atas pohon tempo hari menggoyahkan tekadku lagi. Kali ini benar-benar membuatku terjatuh untuk melihat bahwa Lodaya juga tak hidup bahagia. Aku dipaksa melihat bahwa usahaku untuk menjauhi Lodaya tak ada gunanya. Sama sekali. Baik untuk lukaku sendiri maupun untuk lukanya Lodaya.

Karena aku tetap berkeras hati sore itu, kupikir Damar akan berhenti. Rupanya tidak. Setelah ia pergi bersama Lodaya, dan aku tetap tinggal di dahan menunggu wajahku kering, tak lama kemudian sosok Damar muncul dari tikungan. Ia kembali ke tempatku, ke pohon itu, dan mengantarku pulang. Dalam perjalanan pulang kami berbincang. Damar yang asli telah kembali bersembuyi. Sore itu hanya tersisa Damar yang kukenal, Damar yang ramah dan pintar bicara.

Damar banyak bicara hal tak penting, tapi menyenangkan. Mungkin karena kami hanya berdua saat itu, jadi pembicaraan kami agak aktif. Seperti biasa, gaya bicara Damar menarik. Ada saja yang bisa ditertawakan dari sana. Atau mungkin Damar sengaja melawak? Entahlah. Rasanya aku agak cocok dengan topeng Damar ini.

“Adek aku gak bakal ketawa aku ngomong begini mah,” kata Damar soal omongannya, soal pembicaraan kosong kami

“Kenapa gitu?” tanyaku.

“Ya kayak kamu ke abangmu gitu, deh,” ujar Damar sambil terkekeh.

Aku tidak bisa tidak tersenyum mendengar pengalihan topik itu. Bisa saja dia bicara. Terlalu kreatif.

“Oh, iya,” kata Damar terpotong.

“Apa?”

“Katanya di sini banyak pantai?” tanya Damar.

Lihat selengkapnya