Aku tidak tahu apa yang dikatakan Damar kepada Lodaya. Aku juga tak tahu ada pembicaraan apa sebelum Lodaya mengajakku ikut serta ke pantai. Yang jelas, sekarang aku curiga. Jangan-jangan Damar sengaja mengajakku ke pantai atas permintaan Lodaya? Sejak Damar, Lodaya, dan Ilyas menjemputku pagi ini di rumah, mereka semua memasang raut wajah yang tidak menyenangkan. Setidaknya tidak menyenangkan untukku.
Sebenarnya raut wajah Lodaya kepadaku biasa saja. Ia tersenyum bodoh seperti biasa. Hanya saja, ia juga tersenyum kepada Damar dan Ilyas saat arah mata mereka bertemu. Mata mereka berbicara dan itu tidak biasa. Damar dan Ilyas juga agak aneh. Mereka sepertinya membuatkan ruang untukku dan Lodaya untuk lebih sering bersama. Apa tuannya? Untuk membuat kami berbincang kah? Dan yang paling aneh Ilyas. Dia anak yang lebih banyak diam dan menurutku sedikit dingin, tapi hari ini dia kerap tersenyum kepadaku dan Lodaya.
Menyebalkan. Aku sepeti sedang dibodohi. Dibodohi dengan tingkah laku mereka yang berbicara dalam diam, juga dengan perbuatan mereka yang membuatku dan Lodaya semakin dekat. Seperti saat ini, Ilyas dan Damar bermain air laut di salah satu sisi. Aku dan Lodaya ada di sisi yang lain. Ketika aku mendekati mereka berdua, mereka akan menjauh dan meninggalkan aku bersama Lodaya.
Seharusnya aku tidak boleh kaget. Pasalnya, Damar sedikit memberikan petunjuk kepadaku beberapa hari terakhir. Kami bertukar pesan. Ia tak habis-habisnya bercerita tentang Lodaya. Percakapan terakhir kami adalah tentang kunjungan ke pantai ini. Dia berkata bahwa mungkin tempat ini cocok untukku mengutarakan semuanya pada Lodaya. Tidak peduli apakah itu curahan hati biasa, dendam, iri, kutukan, atau permintaan. Katanya, yang selama ini kupendam dalam diriku, lebih baik luapkan saja di sini. Kalau yang kuluapkan adalah hal yang buruk, maka akan lebih baik jika itu kutinggalkan sekalian di sini.
Karena ceramah-ceramah Damar pula, aku sedikit memiliki niat untuk berbaikan dengan Lodaya. Sedikit. Aku mungkin akan memulai hubungan baru yang sudah rusak bertahun-tahun ini. Namun, masalahnya, dari mana aku bisa mulai? Dan sejujurnya, apa yang akan kudapatkan? Apa yang akan terjadi saat aku mulai terbuka? Dan bagaimana menghadapi diriku di masa lalu saat aku alergi betul akan keberadaannya?
Sedari tadi aku berharap Lodaya memulai. Namun, yang ada dia malah bertindak seperti biasa. Dia hanya menanyaiku hal-hal tidak penting, menawariku macam-macam makanan yang tak ingin aku makan, juga menawari mainan-mainan yang dijajakkan sepanjang jalan di mana mainan itu sudah jelas sekali adalah mainan anak-anak. Dia pikir berapa selisih usia kami?
Aku bosan. Mengejar Damar dan Ilyas tidak diterima, menunggu Lodaya membicarakan hal yang berarti juga tidak terjadi. Akhirnya aku mengambil tempat untuk duduk di bawah payung sewaan yang paling dekat dengan bibir pantai. Aku mengamati laut luas dari sana. Bersama Lodaya, tentu saja.
“Mau es krim?” tanya Lodaya di tengah keheningan kami.
Aku menggeleng sambil terus menatap laut. Sesekali aku mengarahkan lensa kameraku ke sana untuk menghilangkan canggung. Sudahlah, aku menyerah.
“Coba pinjem kameranya,” celetuk Lodaya.
Aku pun memberikan kamera pemberiannya itu kepada Lodaya. Alih-alih menggunakannya, ia malah menyimpannya dalam tangannya sendiri. Secara tidak sadar aku menatapnya heran karena bertanya-tanya mengapa ia tidak menggunakannya? Namun, rupanya itu jebakan. Saat akalku sampai pada pikiran Lodaya, aku tahu Lodaya ingin mengatakan sesuatu?
“Gimana kabarnya?” tanya Lodaya.
Pertanyaan sederhana. Aku akan menjawabnya dengan singkat jika memang sesederhana itu. Ya, sehat, atau tidak begitu baik, aku sedang tidak enak badan. Lagi-lagi aku mengerti maksud pertanyaan itu. Tentang kabarku, aku yang paling dalam dari diriku.
Sayangnya aku tak bisa menjawab. Bingung, tidak enak, dan tidak ingin menyakiti. Aku hanya diam dan atas diamnya aku itu, Lodaya tahu bahwa dia harus mengambil alih ini sampai aku benar-benar siap.
“Buat enam belas tahun ini, maafin aku, ya,” kata Lodaya.
Aku tidak terkejut, aku tidak terkejut. Kata-kata ini adalah salah satu yang sudah kuprediksi sebelumnya. Tetap saja, aku tak tahu bagaimana mananggapinya. Satu-satunya responku yang dapat dilihat Lodaya adalah naiknya alis bagian kananku secara tidak sengaja.