Hubunganku dan Lodaya perlahan membaik. Aku sedikit terbiasa karena sebelumnya sudah punya saudara meskipun saudara angkat. Sementara Lodaya, dia sepertinya cukup kesulitan. Di rumahnya, dia adalah anak semata wayang. Sejak kami tumbuh terpisah, hubungan kami hanya sebatas orang asing. Paling dekat hanya sebatas tetangga. Jadi, aku sedikit mengerti kenapa Lodaya mengacaukan hubungan persaudaraan kami seperti hubungan teman sepermainan. Jujur saja, rasanya Lodaya masih temanku saja.
Entah ini karena kita tinggal di rumah yang berbeda atau karena kita terbiasa hidup sebagai teman, hubunganku dengan Lodaya rasanya sama saja dengan hubunganku dengan Damar atau Ilyas. Hanya teman biasa. Menurutku Lodaya juga membuat dirinya terlalu baik dengan memberiku macam-macam hadiah, membuatku sedikit risih karena ia terlalu canggung jika kami hanya berdua saja, hingga membuatku sedikit takut karena dia mulai menjauhi keluarganya sendiri. Tidak sampai kabur dari rumah sih. Hanya saja, aku beberapa kali mendengar kalau Lodaya sering tinggal di tempat Damar untuk menghindari orang tuanya.
Keluarga asliku sangat dipengaruhi klenik dan mitos. Ya, karena itulah aku bisa berakhir di sini. Sebagai pemuda modern, sepertinya Lodaya sudah tidak bisa menerima itu. Kedekatannya denganku sepertinya bertentangan dengan keputusan mendiang nenek enam belas tahun lalu, juga ayahnya yang masih memegang itu.
Hal itu juga membuat para tetangga yang menyaksikan jalan hidupku dan Lodaya selama ini mulai mencemooh nilai-nilai yang orang tua kami pilih. Secara tidak langsung tentunya. Mereka rupanya menanti hal seperti ini tiba. Sesuatu yang bagaimana akan mengakhiri prinsip-prinsip tak masuk akal mereka. Dari situ, aku sadar, orang-orang banyak mengasihani kami, tapi hanya menunggu bagaimana kami menyelamatkan diri sendiri untuk itu.
Aku tak tahu betul apa yng terjadi di rumah orang tua Lodaya.. Aku hanya pernah mendengar dari Damar bagaimana Lodaya beberapa kali bermalam di kediaman tumpangan Damar setelah bertengkar dengan orang tuanya. Alasan pertengkarannya, aku tidak tahu. Aku menganggapnya karenaku, sebab itu mulai terjadi sejak kami sama-sama pergi ke pantai beberapa waktu lalu, laliu setelahnya, setelah tuntu saja kami semakin dekat.
Hm, aku tidak tahu harus apa? Pun sepertinya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya melamun, termenung, bermimpi, semua tentang itu. Ya, sebaiknya tidak usah melakukan apa-apa juga sih. Ada apa denganku? Biasanya juga aku bersikap masa bodo.Dari pada termenung saja, aku kemudian menatap kamera di pangkuanku. Sepertinya membidik beberapa objek foto akan lebih menyenangkan.
Sejak punya benda ini, aku jadi sering keluar rumah untuk berkeliling kampung. Aku banyak memotret beberapa sudut langit, hewan-hewan kecil, atau anak-anak nakal yang tiba-tiba menjadi penggemarku. Orang-orang jadi sering melihatku. Beberapanya mulai menegur dan menyapaku. Aku jadi merasa senang.
Belakangan tetangga mulai mengenalku. Aku baru tahu kalau mereka sering menyeret orang-orang di jalan untuk dibawa ke teras, lalu mempersilakan untuk mencicipi beberapa makanan dari rumahnya. Mereka juga melakukan itu kepadaku. Bahkan ketika aku pulang, mereka juga menyuruhku membawa sesuatu. Kadang jajanan, kadang sayur atau buah hasil berladang, kadang juga sayur matang untuk diberikan kepada Ibu. Ya, begitulah.
Pernah aku merasa senang sekali. Dalam suatu hajatan di rumah penduduk, aku didapuk untuk memotret beberapa momen penting. Padahal mereka juga sudah menyewa fotografer. Dan aku juga tidak seing berbaur penduduk. Hanya karena sering melihatku menenteng kamera, mereka pikir aku bisa diandalkan. Aku hanya iya iya saja mendapatkan tawaran itu. Aku sempat menolak sebenarnya, tapi itu tidak berpengaruh.
Sampai hari H, aku ternyata diberi kebaya, juga riasan. Aku senang, senang sekali. Padahal, Lodaya dan Ilyas yang juga ada di sana untuk sinom hanya pakai pakaian sederhana. Aku merasa istimewa. Dengan perasaan bagus itu, aku bekerja dengan senang hati. Aku bukan seorang fotografer, jadi aku bekerja sebisanya, semaksimal mungkin, dengan standarku sendiri. Sampai Ibu hajat yang baik hati memaksaku untuk menyapa si fotografer asli. Hari itu aku belajar beberapa teknik potret secara singkat
“Bagus,” gumamku sambil melihat kembali foto-foto itu tempo hari, beberapa hari setelah hajatan berakhir. “Sekarang aku harus memotret dari mana, ya?”
Aku mencoba keluar dari teras rumah untuk melihat pemandangan sekitar. Sepertinya tempat ini saja sudah kubabat habis dengan satu keping kartu memori untuk mengabadikan banyak hal. Tidak bisa di sini untuk membidik objek baru. Harus ke tempat lain. Tapi, di mana?
Aku berkeliling kampung untuk mencari apa yang bagus. Timur ke barat, ke selatan, ke utara, tidak ada yang menarik. Ak belum membidik satu pun objek. Harus keluar kampung kah? Tapi jauh. Aku tak punya motor dan berjalan kaki keluar kampung akan sangat melelahkan. Dan yang jelas, saat ini aku sudah lelah karena berjalan tanpa tujuan sejak tadi.
Aku awalnya berpikir akan pulang. Namun, dala perjalanan menuju rumah, aku teralihkan dengan rumah pohon. Ya, rumah pohon yang biasanya kutempati. Dulu. Setelah Lodaya dan Damar lebih sering ke rumah, aku jadi meninggalkan tempat itu. Sudah sejak kapan aku tidak singgah di situ ya?
“Kenapa tidak membidik dari atas sana?” pikirku.
Tanpa pikir panjang aku naik ke sana. Sampai di atas, aku agak menyesal. Rumah pohon ini tidak terlalu tinggi untuk melihat pemandangan dari atas secara signifikan. Sebenarnya, memang tidak tinggi sama sekali. Karena itulah rumah pohon ini bisa dibangun besar. Ada terasnya pula. Hih, menyebalkan!