Aku bodoh. Sudah selama itu dan aku tidak menyadarinya. Aku bodoh!
Saat Lodaya di bawa ke rumah sakit sore itu, aku ikut Ilyas menuju rumah Lodaya untuk membawa kabar. Aku juga sempat ikut serta. Aku menunggu di gerbang pagar, sementara Ilyas masuk ke halaman dan mengetuk-ngetuk pintu. Saat ibunya keluar Ilyas langsung memberitahu bahwa Lodaya dilarikan ke rumah sakit karena entahlah apa yang terjadi kepadanya. Aku bisa melihat dari jauh, ibunya Lodaya menangkap sosokku yang berdiri di gerbang pagar selama beberapa saat sebelum kemudian berbicara lagi dengan Ilyas.
Setelah pemberitahuan singkat dan panik itu, ibunya Lodaya langsung meluncur dengan mobil mengajak Ilyas dan aku serta. Aku ingin menolak, pasti. Ilyas dan wanita itu pasti tahu. Tapi Ilyas sendiri mengiyakan dan aku merasa Ilyas juga memaksaku. Dia tak mengatakan apa-apa. Aku hanya merasakan saja saat dia selalu menungguku bergerak lebih dulu entah masuk ke mobil, atau berjalan ke lorong rumah sakit, dan sebagainya. Sepwrtinya ia ingin bilang bahwa aku tidak punya kesempatan untuk berkeras diri di saat-saat seperti ini.
Selebihnya, Ilyas tak memaksaku sih. Dia mengambil alih seluruh interaksi dengan ibunya Lodaya. Bahkan samapi di rumah sakit, saat menunjukkan jalan atas arahan pesan Damar. Hingga akhirnya kami menemukan ruangan Lodaya di suatu ruangan berjendela lapis satu arah. Sayangnya, dia tidak bisa ditemui dulu. Malamnya aku pulang tanpa menemui Lodaya sementara ibunya Lodaya tinggal.
Aku sempat bertanya kepada Ilyas dan Damar tentang Lodaya di lorong rumah sakit. Hanya kami bertiga dan hanya aku seoranglah yang terlihat bodoh. Betapa tidak? Lodaya sudah sakit berbulan-bulan, tapi hanya aku yang tidak tahu. Sejujurnya aku tidak bisa menangkap penjelasan mereka berdua tentang apa yang diderita kakakku. Aku tak punya wawasan untuk itu dan ceritanya terlalu rumit. Yang jelas, nyawaku terasa melayang saat Ilyas bilang bahwa Lodaya dapat pergi kapan saja.
Aku tak ingat apa pun sebelum kami benar-benar pulang saat membicarakan sakitnya Lodaya. Aku pingsan, tapi menurut penuturan Damar, penyebabnya hanya stress dan tertekan. Tak butuh perawatan, aku diantar pulang. Bahkan aku siuman di perjalanan pulang. Aku tidak melawan dan sejujurnya, aku masih bingung menyatukan puzzle-puzzle kejadian di kepalaku.
Saat aku di rumah sampai pagi ini, aku belum berbicara dengan siapa pun. Aku hanya diam di atas kasur. Aku tak berniat sarapan apalagi datang ke sekolah. Aku ingin pergi ke rumah sakit lagi, tapi pandanganku berputar tiap kali aku bergerak. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah duduk tenang sambil menatap ponsel untuk memastikan ada pesan baik yang masuk ke sana.
Di tengah-tengah itu, Ibu membuka korden perlahan sambil membawa baki berisi makanan. Seperti biasa, makan sederhana kami, nasi putih, tumis sayur, dan goreng tahu ala kadarnya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil menjauh dari arah datangnya Ibu. Aku tak mau makan.
“Biar apa nggak mau makan? Makan, ya?” kata Ibu. Ia tetap memaksaku makan dari suapan yang ia beri. Kalau aku, saat itu aku tetap menolak. Bahkan menangis. Aku baru mau makan saat Ibu bilang akan membawaku menemui Lodaya saat sarapanku sudah habis.
Aku pun membuka mulut dan berharap Ibu berkata benar. Namun, satu suapan saja tak dapat melewati leherku. Aku memuntahkannya. Aku memuntahkannya bukan tanpa sengaja. Dengan kondisi kepalaku yang berputar itu, tak ada makanan yang dapat mencapai lambungku. Semua keluar saat makanannya mencapai kerongkongan. Bahkan ketika aku berusaha memasukkan makanan itu dari tanganku sendiri, aku tidak bisa melakukannya. Isi perutku yang sebelumnya ikut keluar hingga membuat tubuhku lemas dan lemah.
Aku tak tahu bagaimana bisa begini? Apa yang harus kulakukan? Aku harus segera menghabiskan makananku untuk pergi ke rumah sakit. Aku putus asa. Aku tak bisa apa-apa.
***
Akhirnya aku juga berakhir di rumah sakit sehari kemudian. Ibu tak bisa menanganiku di rumah. Tak ada makanan yang dapat masuk karena ya rasanya tidak wnak dan semuanya membuatku ingin muntah. Penghuni rumah sudah putus asa. Adik-adikku malah mulai merengek karena ketakutan karena aku jatuh sakit. Aku perlu mendapat infus karena itu.
Aku tak tahu apa ini keberuntungan atau bukan, tapi aku dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Lodaya. Tepat ketika aku pertama di rumah sakit, aku juga diberitahu bahwa Lodaya sudah membaik. Dan untuk mempertahankan itu, aku yang sakit tidak boleh memperlihatkan diri di depan Lodaya. Lodaya tidak boleh tahu aku sakit. Jadi, meskipun kami berada di rumah sakit yang sama, aku tidak bisa menemui Lodaya.
Untuk sesekali karena penasaran, aku diam-diam melihat Lodaya dari jauh. Dengan kepala pusing dan tertatih-tatih berjalan ke luar kamar, aku berusaha melihat Lodaya dari jendela kamarnya. Harus berhati-hati dengan infusku sendiri, juga harus berhati-hati agar Lodaya tak melihat.
Benar. Lodaya terlihat membaik. Ayah ibunya ada di sekelilingnya, di mejanya buah susu terhampar melimpah. Sepertinya ia juga mulai lebih segar daripada aku saat ini. Bahkan, esoknya Lodaya sudah pulang lebih dulu. Aku perlu satu hari lagi untuk pemulihan. Untungnya, itu membuatku tidak berpapasan dengan Lodaya saat pulang.
Begitu sampai di rumah, aku tidak langsung menemui Lodaya. Aku belum siap menampakkan diri seperti ini. Bukan tentangku yang baru saja sembuh, tapi tentang tatapanku kepada Lodaya nantinya. Karena sekarang aku sudah tahu semuanya. Tahu bahwa Lodaya mungkin tak akan hidup lama.
Aku tidak ingin ekspresi yang salah. Aku tidak ingin Lodaya jadi tambah tidak percaya diri dengan kesembuhannya. Aku juga tak ingin Lodaya merasa sedih karena kukasihani. Namun, aku juga tak ingin Lodaya merasa aku tak peduli padanya. Semua berkumpul di kepalaku untuk kupikirkan.
Mungkin aku perlu beberapa hari lagi. Aku juga harus mempersiapkan diri untuk ke rumah itu. Rumah itu bukanlah tempat di mana aku bisa keluar masuk dengan tenang. Tempat itu tidak biasa. Orang-orangnya tidak biasa.
Meskipun begitu, aku harus ke sana untuk Lodaya.
***
Aku siap, tapi masih ragu-ragu mengetuk pintu kayu berbingkai ukiran salur itu. Bagaimana jika bukan Lodaya yang membuka? Apa yang harus kulakukan jika ibunya yang membukakan pintu? Aku menedikkan wajahku. Ah, tidak. Paling yang membukakan pintu asisten rumah tangganya. Kudengar rumah besar ini juga diurus oleh beberapa asisten rumah tangga.
Perlahan, aku mengetuk pintu coklat mengkilap itu. Satu ketukan, dua ketukan, aku baru sadar saat akan mengetuk yang ketiga kalinya. Ada bel!