Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #14

Bagian 14

Dengan satu hal yang kuketahui, aku dapat memahami banyak hal. Mungkin karena aku tak sampai memikirkannya dulu. Atau mungkin karena aku terlalu abai dan tidak peduli. Oleh karena itu, semua tampak baik-baik saja bagiku.

Lodaya sebenarnya sudah tidak baik-baik saja sejak lama. Kata Ilyas, sudah sejak kecelakaan yang dialami Lodaya hingga membuat temannya meregang nyawa. Sejak saat itu, Lodaya tidak baik-baik saja. Aku tak tahu betul detailnya saat Damar dan Ilyas bercerita. Hanya ada seperti kata organ rusak, atau sebagainya hingga yang paling aku ingat: Lodaya tidak pernah mencoba mencari tahu sampai pada tahap kerusakannya sudah terlalu parah.

Semua yang kulihat selama ini, Lodaya yang kurus, air wajahnya yang pudar dan kuyu, kemunculannya yang tak jelas, kadang intens, kadang menghilang, semua itu ada artinya. Semua itu ada alasannya. Dan aku tak menyadari itu. Beberapa bula terakhir setelah keluarganya tahu, rupanya Lodaya sudah dalam perawatan, sudah beberapa kali diusahakan. Namun inilah akhirnya.

Sangat menyesakkan mendengar Lodaya berkali-kali bilang ia mungkin tak punya banyak waktu lagi. Sok tahu!

Meskipun begitu, aku berharap Lodaya dapat mengatakan kepadaku lebih awal. Aku berharap Lodaya terus terang mendekatiku karena ia mungkin akan kehabisan waktu. Aku juga mengatakan itu pada Lodaya tempo hari. Namun, Lodaya malah bilang, jika ia melakukannya, maka semua yang didapat dariku hanyalah sebuah kepalsuan. Lodaya tak ingin aku menerima karena kasihan.

“Kamu aja belum bisa nerima Ibu waktu dia minta maaf tadi, kan?” kata Lodaya kemarin.

Iya sih. Tapi itu karena Ibu bukan Lodaya. Ibu tidak melakukan seperti yang Lodaya lakukan. Ah, ya, benar. Lodaya benar lagi.

Sejak hari sial itu, sejak mengetahui Lodaya punya kondisi yang mematikan, ditambah mengetahui fakta bahwa Damar menyukai wanita lain, hari-hariku berjalan berbeda. Makanan yang disajikan Ibu tak pernah terasa enak lagi, berkumpul dengan Lodaya dan teman-temannya sudah tidak menyenangkan, dan malam-malamku larut semakin malam.

Aku selalu melihat layar ponselku. Berkali-kali was-was dan waspada pada macam-macam notifikasi yang masuk. Walaupun enggan membayangkannya, tapi aku selalu takut ada kabar yang tidak baik datang ke layar ponselku. Sepertinya harapan dan doaku bahkan kalah. Yang saat ini membuatku khawatir bukan ketakutan, tapi kenyataan yang ditangguhkan, yang suatu saat bisa terjadi kapan saja.

“Mbak, ada Mas,” seru Farhan dari balik pintu kamarku. Adikku menggelayuti daun pintu berharap aku keluar menemui Lodaya.

Padahal aku sudah berkali-kali bilang pada Lodaya bahwa aku yang akan datang ke rumahnya jika ia ingin bermain. Namun, ia tetap ke sini setiap saat. Katanya, ia butuh udara segar. Mungkin dia pikir aku begitu lugu hingga tak tahu bahwa dia bocah nakal yang kerap membolos sepertiku setelah mengelabuhi guru. Aku tahu Lodaya memahami kecanggunganku bertemu dengan orang-orang rumahnya sehingga ia yang mengalah datang ke sini.

Aku segera menemui Lodaya di ruang tamu. Oh, ternyata bukan hanya Lodaya. Ada Damar dan Ilyas juga. Damar? Hm, sebenarnya aku masih enggan berbaik hati dengannya. Bermainlah saja dengan perempuan yang dia sukai itu! Kenapa ke sini? Tapi karena dia teman Lodaya, ya sudahlah.

“Aku bawa sesuatu,” kata Lodaya. Ia mengeluarkan sebuah album foto jadul yang tipis. “Dulu, Ibu pergi diam-diam, terus pinjam kamu buat dibawa main. Kita pernah main bareng. Sampai nenek meninggal, dia nggak tau,” sambungnya sambil terkekeh.

Lodaya membolak-balik foto-foto itu dan mempertunjukkannya kepadaku, Damar, dan Ilyas. Hanya ada tiga orang di dalam masing-masing foto itu, seorang wanita muda dan dua bayi. Mungkin sekitar usia delapan bulan di mana mereka bisa duduk, tapi belum bisa berjalan. Kata Lodaya, itu aku dan dia. Lucu.

“Yang mana aku?” Aku mencoba antusias. Lodaya lebih antusias lagi membolak-balik isi albumnya. Aku yang ini, dia yang itu, kami di mana saat itu. Sayangnya, hatiku tidak seantusias itu. Aku tak peduli dengan foto-foto itu. Aku lebih peduli pada foto-foto yang akan kami ambil di masa depan. “Jadi, hiduplah,” batinku.

Lihat selengkapnya