Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #15

Bagian 15

Aku akan berharap hari demi hari berjalan lambat. Aku tak pernah merasa normal lagi sejal peristiwa di rumah pohon itu. Meskipun begitu, aku rela hidup dalam ketidaknormalanku itu dengan lambat. Bangun setiap pagi dan mendapatkan pesan dari Lodaya adalah hal yang berharga.

Lodaya mungkin akan mengambil banyak waktu untuk beristirahat hingga tak sempat mengabariku. Mungkin juga ia tak sempat main karena tiba-tiba harus mengunjungi rumah sakit. Itu juga tak apa. Aku bisa menunggunya atau bahkan datang kepadanya.

Hari-hari tak normal itu akan jadi normal untukku. Jadi, itu tak masalah.

Kondisi Lodaya hari demi hari kian memburuk. Karena kini sudah tak ada rahasia yang coba disembunyikan dariku, aku jadi tahu kapan-kapan saja Lodaya pergi ke rumah sakit. Aku diberi tahu. Sering. Cukup sering. Semakin sering.

Jika kabar itu datang, maka aku akan pergi menemui Lodaya di rumah sakit. Seperti yang terjadi hari ini.

Terkadang, Ilyas dan Damar juga ikut berkunjung. Apalagi saat liburan kenaikan kelas seperti ini. Mereka lebih sering berkunjung. Rasa-rasanya, tempat perkumpulan kami yang tadinya berada di rumahku sekarang pindah ke sini.

“Wah, nilai matematikamu bagus juga ternyata,” puji Damar setelah melihat nilai rapotku yang berhari-hari berada di sini karena belum sempat kubawa pulang.

“Ah!” Aku memukul lengan Damar karena merasa malu dengan itu. “Kamu juga unggul di bahasa Inggris. Kan Mas, kan?” Aku menoleh pada Lodaya yang duduk di ranjang rumah sakitnya.

“Iya, padahal dia nggak pernah belajar loh!” kata Lodaya.

Damar berdecak. “Karna aku udah pernah aja dapet materi itu. Kan udah aku bilang, materi kelas 11 pun siap,” katanya. “Tapi lebih keren Ilyas dong! Nilainya tinggi semua. Makanya dapet ranking dua dia,” puji Damar sambil menunjukkan gestur mempersembahkan Ilyas.

“Halah,” sanggah Ilyas. “Nilai-nilai itu cuma di atas rata-rata. Nggak ada yang bener-bener unggul kayak kalian. Makanya aku nggak pernah ikut lomba,” sambungnya.

“Tapi kan nggak ada yang anjlok juga.” Damar menyanggah balik.

“Iya sih.”

Lihat selengkapnya