Separuh Usia Delima

Wanda Alia
Chapter #16

Bagian 16

Tanganku berhenti menulis apa yang kuingat tentang Lodaya sepanjang kami berinteraksi. Aku tak bisa mengayunkan penaku lagi. Tak ada yang bisa kutulis lagi. Semua berhenti di situ, di rumah sakit itu. Setelah malam itu, aku tak lagi dapat melihat Lodaya lagi. Lagi-lagi bukan karena kemauanku.

Malam itu aku tak sadarkan diri di depan jenazah Lodaya. Di pagi harinya, aku jatuh sakit. Tubuhku demam hebat dan vertigoku kambuh. Aku bahkan tak sanggup membuka mata. Saat mataku terbuka, perutku langsung mual dan aku akan memuntahkan isi perutku. Seharian itu tubuhku lemah dan lemas. Dari ruangan Lodaya, aku dilarikan ke ruangan lain untuk dirawat.

Aku tak dapat mengantar Lodaya ke pemakaman. Bahkan saat aku memaksa, orang-orang tidak mengizinkanku. Mereka pikir aku tak akan kuat menghadapinya. Dan Lodaya tidak bisa menunggu hingga aku tuntas mempersiapkan diri. Maka semua berjalan cepat untuk diselesaikan. Lodaya pulang ke pusara tanpa kulihat lagi wajahnya.

Sejujurnya, sampai sekarang pun aku masih belum bisa mengatasi diriku sendiri. Sudah satu tahun berlalu, sudah berbagai upaya dan terapi dilakukan, aku masih merindukan Lodaya. Aku menyesali waktuku yang sedikit. Aku menyesali tindakanku yang mengacuhkannya hingga kami hanya punya sedikit waktu. Aku juga menyesal tak dapat mengatasi diriku sendiri pada saat-saat terakhir Lodaya. Aku menyesal.

Aku memeluk buku yang konselorku suruh untuk menuliskan ingatan-ingatanku tentang Lodaya. Aku bisa menyelesaikannya karena hanya sedikit yang dapat kuingat dari Lodaya. Diariku saja lebih tebal dari ini. Andai aku tahu bahwa kekonyolan-kekonyolan yang Lodaya lontarkan padaku berartikan “Tunggu sebentar!”, maka aku pasti akan menunggunya.

Tapi seharusnya usahanya yang keras sudahlah cukup, akulah yang salah.

Kurasakan kedua tangan yang lembut menuntun bahuku agar tubuhku menghadapnya. Orang itu kemudian memelukku dan membelai rambutku seakan-akan aku adalah anaknya. “Jangan putus asa untuk hidup, Mala. Kalau kita sedang kehilangan tujuan hidup, maka kita hanya perlu bertahan hidup. Jangan pikirkan yang lain, tetap hidup,” katanya.

Aku memeluk tubuh Bu Rasti erat-erat. Menangis dalam pelukannya adalah keadaan paling nyaman yang pernah kurasakan dalam hidupku. Aku juga baru tahu bahwa ada orang yang seperti ini. Bukan baik seperti Lodaya, ibu angkatku, atau semacamnya. Dia baik, san aku suka berada di sini.

Bu Rasti meraih buku catatanku dan membacanya sekilas. “Bu Rasti perlu membaca ini. Ibu pinjam, ya?” pintanya.

Aku pun mengangguk. Aku tahu Bu Rasti perlu melakukan itu. Toh dia adalah seorang konselor.

Aku tak tahu siapa yang memanggil Bu Rasti dulu. Yang jelas, dulu aku pernah melakukan hal bodoh tak lama setelah kepergian Lodaya. Aku pernah berpikir untuk tak hidup lagi karena semua sudah tak ada artinya. Namun, usahaku digagalkan. Orang-orang memergokiku ada di atap rumah sakit dan menurnkanku secara paksa. Walau aku meraung-raung pun, aku tetap digotong turun.

Semua orang menasihatiku, tapi aku tak peduli. Karena tak ada yang mau aku melakukan bunuh diri, jadi aku memutuskan untuk tak melakukan apa pun. Aku diam, benar-benar diam. Aku tak tahu kapan matahari terbit dan tenggelam. Yang ada hanya sorot lampu kamar yang tak pernah padam. Aku juga tak tahu berapa lama itu terjadi hingga akhirnya Bu Rasti datang ke kamarku.

Sebenarnya, Bu Rasti masih tetanggaku, putrinya eyang yang merawat Damar. Dia sudah lama merantau dan aku sangat jarang melihatnya sebelum ia merantau. Bu Rasti bilang, suaminya bekerja jauh. Dia kesepian. Karena itu dia menawariku apakah mau menemaninya atau tidak di Jogja. Aku tentu menolak. Namun, entah bagaimana akhirnya aku menerima tawaran itu juga.

Sampai di Jogja, aku baru tahu Bu Rasti adalah seorang Guru Konseling yang juga sedang menempuh pendidikan psikologi lanjutan. Ia hidup seorang diri sedangkan suaminya ada di luar kota untuk bekerja. Jadi, saat di rumah, Bu Rasti benar-benar hanya mengurusiku saja. Sejak saat itulah dia membimbingku sampai saat ini.

“Bu,” panggilku ragu.

Mendengar suaraku yang lirih, Bu Rasti menaikkan kedua alisnya dengan raut wajah yang tersenyum ramah seakan-akan menanyakan maksud panggilanku barusan. Dia masih muda, sungguh. Sebelumnya aku memanggilnya Mbak, tapi karena banayak orang dan anak-anak memanggilnya Ibu, aku juga ikut sajam Dan lama-kelamaan, rasanya ia seperti ibuku sungguhan.

Lihat selengkapnya