Dua belas tahun sudah kematian Lodaya. Mungkin aku sudah berdamai ya?
Yang jelas, dua belas tahun itu tidak singkat. Aku sudah membereskan satu tahun Sekolah Menengah Atas yang tertunda, menyelesaikan studi strata satu, bahkan sudah bekerja. Aku sering berkomunikasi dengan orang tua angkatku, ibu dan ayah yang selama ini kupanggil ibu dan ayah sungguhan. Hubungan dengan orang tua kandungku juga sudah cukup baik. Tidak terlalu dekat memang, akan tetapi setiap aku pulang kampung selama cuti, aku pasti akan berkunjung. Canggung? Awalnya iya, lalu lama kelamaan seperti berinteraksi dengan kerabat saja.
Lodaya sendiri, tentu masih terbaring di tanah. Pusaranhya selalu terurus. Meski tidak ditembok, rumput dan bunga-bungaan di atasnya tidak pernah kering, potongannya rapi, dan selalu basah. Ibu dan ayah membayar orang untuk merawatnya setiap beberapa hari sekali. Papan nisannya pun diganti selalu ketika mulai keropos. Kudengar, Ibu juga sering berkunjung untuk berdoa, kadang-kadang bersama dengan teman-teman lama Lodaya. Ibu yang mengundang. Jadi, pusara itu memang selalu terlihat baru meskii sudah dua belas tahun berlalu.
Hari ini aku pulang kampung. Tentu saja aku akan berziarah ke makam Lodaya. Ini sudah yang kesekian kalinya. Sudah seperti berkunjung ke rumah saudara tau teman seperti biasanya. Walaupun aku tahu Lodaya tak bisa berinteraksi denganku, tetap saja aku berbicara dengannya. Rindu rasanya untuk berbincang seperti dulu. Tapi yang jelas, aku tak pernah berkata bahwa aku berharap dia akan mengganggu seperti dulu. Agak seram ya jika dipikir-pikir.
“Paman, Ma?”
“Paman, Om, bebas,” kataku.
Putraku yang masih berusia dua tahun bercicit dan menghinggap-hinggapkan tangannya di atas pusara dengan wajah girang. Mulutnya yang masih cadel terus menirukan bunyi paman atau om dengan lucu. Seperti mengenali dan menyapa sesuatu yang baru. Aku sudah ceritakan sebelumnya bahwa ibunya ini memiliki kakak laki-laki yang sudah meningga;. Mungkin dia tak tahu apa itu meninggal, tapi dari ekspresinya, sepertinya ia paham bahwa orang di dalam sini adalah orang yang kusayangi.
“Bukan pukul-pukul, Zayn” .Kutangkap tangan Zayn dan meletakkannya di bilah papan. Lalu, kutuntun untuk mengusap seperti membelai kepala kucing yang ada di rumah. “Seperti ini. Paman, Zayn datang,” sambungku.
Zayn tidak peduli. Ia masih girang dan antusias, menarik tangannya dari tanganku dan kembali men-tap-tap tanah pusara Lodaya dengan brutal. Mulutnya masih ber-paman-paman tidak mendengarkanku. Sampai akhirnya Ilyas menariknya dan terkurung oleh kedua tangan yang melingkupi tubuh kecil Zayn. Syukurin!
“Papa, elus Papa, elus,” kata Zayn masih merayu.