Siang hari yang begitu terik membuat orang-orang merasa malas untuk keluar rumah. Namun berbeda dengan Syams yang sangat bersemangat untuk bermain. Syams terus belari sambil menendang bolanya. Ketika tiba di depan rumah Wolter, bolanya tak sengaja memasuki rumah temannya itu ketika pintu gerbang rumah tersebut masih terbuka lebar. Ia pun meminta izin pada penjaga gerbang untuk mengambil bolanya itu.
Setelah mendapatkan izin dari sang penjaga gerbang, Syams segera memasuki rumah temannya tersebut dan mengambil bolanya itu. Bola yang tak sengaja berhenti tak jauh dari tempat duduk Wolter itu membuatnya menjadi sangat geram. Dengan cepat, ia segera membawa bolanya itu keluar dari rumah teman yang sangat dibencinya itu.
Wolter yang tengah sibuk mengerjakan tugas sekolahnya itu kemudian meletakkan penanya di atas meja ketika tak sengaja melihat Syams berada di rumahnya. Dengan sangat kesal ia berkata, ”Syams, apa yang kamu lakukan disini? Kamu tidak mengerjakan tugas sekolahmu?"
"Oh, sekarang kamu sudah merasa sok pintar ya sehingga kamu ingin pamer bahwa semua tugas sekolahmu sudah selesai,” lanjut Wolter.
Syams membalikkan tubunya lalu menjawab, ”Aku tidak ingin pamer apapun. Aku hanya ingin mengambil bolaku yang tak sengaja masuk ke rumahmu. Lagi pula, aku memang belum mengerjakan tugas sekolahku. Kalau kau memang mau mengerjakannya di siang bolong ini silakan saja. Aku ingin sangat bebas bermain hari ini. Aku tidak ingin mendapatkan gangguan sedikitpun darimu.”
“Apa? Kamu masih memiliki waktu untuk bermain?" tanya Wolter seolah tak percaya.
"Tumben. Biasanya kamu sangat rajin belajar. Apalagi jika ada tugas sekolah yang menumpuk. Kamu pasti tidak akan mempunyai waktu untuk bermain. Ada apa denganmu hari ini?” lanjutnya.
“Itu bukan urusanmu. Aku pergi dulu. Terima kasih telah mengizinkanku untuk masuk ke dalam rumahmu.”
Syams kembali membalikkan tubuhnya. Ia pun menendang bolanya dengan tendangan yang kuat. Ia pun mempercepat larinya agar dapat keluar dari rumah teman yang sangat memusuhinya selama ini. Sementara itu, Wolter tak mengerti tentang sikap aneh yang ditunjukkan Syams padanya. Ia sungguh tak menyangka bahwa ia akan melihat Syams tersenyum bahagia di saat ia tengah sibuk mengerjakan tugas sekolahnya. Namun ia tak memperdulikannya. Ia kembali mengambil penanya dan fokus mengerjakan tugas sekolahnya.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tanpa ada teguran dari keluarganya, Syams tak pernah merubah sikapnya. Ia terus bermain dan bermain tanpa menyeimbangkannya dengan belajar. Hal tersebut mempengaruhi prestasinya di sekolah.
Saat itu raport Syams tengah berada di dalam genggaman Malik. Sementara Syams berdiri di hadapan sang ayah dengan jantung yang berdebar-debar. Ayahnya itu memperhatikan raportnya dengan seksama. Sehingga membuatnya merasa semakin ketakutan karena ia telah menyadari tentang apa yang baru saja ia lakukan beberapa minggu terakhir.
Mata Malik menjadi memerah ketika melihat nilai-nilai yang tertulis dalam raport sekolah Syams. Ia pun berdiri dari tempat duduknya dan mengarahkan pandangan matanya yang tajam itu pada Syams. Tubuh Syams pun mulai kaku. Kepalanya terus tertunduk. Malik membanting raportnya itu hingga membuat tubuh Syams mulai gemetaran.
“Syaaaams!!! Kau ini benar-benar keterlaluan! Berani sekali kau berbuat kesalahan yang begitu besar di rumah ini. Berani sekali kau mencemarkan nama baikku dengan kebiasaan burukmu itu. Ini tidak bisa dibiarkan. Kau harus menerima akibat dari perbuatanmu itu,” ucap Malik dengan nada tinggi.
Syams terus terdiam tanpa menjawab sepatah katapun. Tubuhnya semakin gemetaran. Maryam pun mulai mendekati Malik dan berkata, ”Sudahlah, jangan memarahinya seperti itu! Dia hanya anak-anak. Maafkanlah dia. Aku yakin dia pasti tidak akan mengulangi kesalahannya lagi setelah ia mendapatkan akibat dari kebiasaan buruknya selama ini.”
Malik mengalihkan pandangan tajamnya pada Maryam. Kemudian ia berkata kepada istrinya itu dengan nada marah, “Apa? Maafkan?"
" Tidak! Kesalahan seperti itu tidak bisa dimaafkan. Justru karena dia masih kecil dia harus dihukum agar dia tidak mengulangi kesalahannya kembali," lanjut Malik.