Di ruang tamu, nampak seorang wanita paruh baya yang tak lain merupakan pengurus panti tersebut tengah asyik berbicara dengan seorang pemuda yang mengenakan kemeja yang telah usang namun dipakainya dengan sangat rapi. Tanpa meminta izin terlebih dahulu pada pengurus panti, Malik langsung memasuki ruangan tersebut. Kemudian ia segera melepas Syams dari genggamannya. Pengurus panti beserta tamunya itu merasa sangat terkejut dengan apa yang terjadi di depan mereka itu.
Pengurus panti tersebut langsung menghentikan perbincangannya ketika Syams tiba tepat di depan matanya. Ia dan tamunya tersebut tak mengerti tentang maksud Malik membawa Syams ke panti asuhan tersebut.
Di waktu yang bersamaan, Maryam, Halim, dan ketiga adiknya juga memasuki ruangan tersebut.
“Kedatangan saya kemari untuk menitipkannya disini. Mulai sekarang sampai seterusnya dia akan tinggal disini,” ucap Malik dengan nada tinggi.
Pengurus panti beserta tamunya bangkit dari tempat duduknya. Pengurus panti tersebut lalu bertanya, ”Apa maksud anda dengan berkata seperti itu? Semua orang telah mengetahui bahwa anak ini adalah anak bungsu anda. Bagaimana mungkin anda bisa membuangnya ke panti asuhan ini?”
“Justru karena semua orang sudah mengetahui bahwa dia adalah putra bungsuku aku harus segera menghukumnya jika dia berbuat kesalahan. Kalau tidak, maka nama baikku akan tercemar,” lanjut Malik.
“Maaf, jika saya lancang menyela pembicaraan kalian. Memangnya apa yang dia lakukan sehingga membuat anda semarah itu? Sehingga dia harus mendapatkan hukuman sebesar ini di usianya yang masih sangat kecil,” sambung sang tamu.
Mendengar ucapan sang tamu, kemarahan dalam diri Malik semakin bertambah. Ia pun mengarahkan jari telujuknya pada tamu tersebut kemudian berkata dengan nada tinggi, ”Hei diam kau! Kau tidak usah ikut campur, guru miskin! Memangnya apa urusanmu sehingga kau berani angkat bicara membela anak nakal ini?"
Hati sang tamu tak gentar sedikitpun setelah mendapat amarah Malik. Ia malah berkata, “Kalau anda memberi izin, maka saya akan membawa anak ini ke rumah saya. Saya akan membesarkannya seperti anak saya sendiri.”
Malik terdiam. Kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan tamu panti tersebut yang menurutnya sangat tak masuk akal. Ia lalu berkata, ”Memangnya kau mampu merawat anak ini? Apa yang akan kau berikan pada anak ini? Sebagai anak bungsu, dia sudah terbiasa dengan sifat manjanya juga kehidupan yang serba mewah. Apa kau sanggup memberikan semua yang dia inginkan?" Sudahlah, lupakan saja tentang kebiasaanmu yang senang menolong orang lain itu, jika kau memang tidak bisa melakukannya!”