Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #8

8.Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

Siang hari yang begitu terik tak membuat Jaya merasa lengah dalam melakukan tugasnya untuk mengajar anak-anak yang tidak mampu bersekolah belajar di sebuah rumah kosong yang disebutnya sebagai langgar itu. Rasa lelahnya telah terbalaskan dengan senyuman yang dipersembahkan Satria untuknya. Ditambah dengan sebuah makanan yang telah disajikan oleh putranya itu di atas meja makan. Aroma makanan dari masakan tersebut telah tercium olehnya bahkan ketika ia baru saja memasuki rumah.

Jaya duduk di sebuah kursi di depan meja makan. Dengan sigap, Satria mengambilkan nasi beserta lauk pauk yang terdiri dari sayur bayam dan tempe goreng untuknya. Jaya lalu menuangkan air putih ke dalam sebuah gelas dan langsung meminumnya. Saat mulai mengambil sesendok nasi, tiba-tiba ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang. Ia pun kembali meletakkan sendok yang dipegangnya itu.

“Kenapa, Ayah? Kenapa Ayah tidak jadi memakannya? Apa Ayah ingin lauk yang lain?Tenang saja! Aku mau memasak kembali untuk Ayah,” tanya Satria heran.

“Tidak. Ayah hanya ingin bertanya dimana Syams. Kenapa dia tidak ikut makan siang bersama kita?” jawab Jaya.

“Hmmm... Syams masih sedih, Ayah. Dia terus menyendiri di dalam kamar. Mungkin dia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Maklum Yah, dia kan anak orang yang sangat kaya. Bagaimana mungkin dia bisa langsung nyaman tinggal di lingkungan barunya yang sangat jauh berbeda dari rumahnya yang megah itu?”

“Kalau begitu ajak dia makan bersama kita! Atau bawakan saja makanannya ke dalam kamar.Biarkan dia makan di dalam kamarnya,” perintah Jaya.

“Baik Ayah.”

Satria mengambil sebuah piring di depannya dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang telah dimasaknya. Ia juga menuangkan air putih ke dalam sebuah gelas kecil untuk diberikannya kepada Syams. Dengan sangat hati-hati, ia membawa sepiring makanan tersebut di tangan kanannya. Juga segelas air putih di tangan kirinya.

Setelah tiba di dalam kamar, Satria masih melihat Syams yang duduk termenung di atas tempat tidur. Ia lalu meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya itu di atas meja kecil yang terletak di sebelah tempat tidur. Kemudian ia duduk di atas tempat tidur tersebut lalu menatap wajah Syams. Syams langsung memalingkan wajahnya ketika mengetahui bahwa ia berada di depannya.

Satria menghela nafas pendek lalu berkata, ”Syams, aku tahu ini sangat sulit bagimu. Tapi kamu harus bisa menerimanya. Inilah kehidupan yang harus kamu jalani sekarang. Aku yakin bahwa suatu saat nanti kamu akan kembali ke rumahmu dan hidup berbahagia kembali. Tapi untuk sekarang, kamu harus menerima kenyataan ini. Sekarang kami adalah keluargamu. Aku adalah kakakmu. Aku berjanji, aku akan menjadi kakak yang baik untukmu.”

Mendengar ucapan Satria, Syams langsung menolehkan kepalanya pada seorang yang duduk di sampingnya tersebut. Syams.bangkit dari tempat duduknya lalu membantah perkataan Satria dengan berkata, ”Tidak! Sampai kapanpun kalian bukan keluargaku. Aku akan tetap menganggap kalian sebagai orang asing.”

Melihat Syams yang telah berdiri, Satria pun ikut berdiri. Ia mencoba untuk tetap tenang dalam menghadapi Syams yang sedang terbawa emossinya. Dengan penuh kesabaran, ia berkata, “Baiklah. Terserah kau saja! Tapi tetap saja kan, kau harus memanggilku dengan sebutan kakak? Karena usiaku lebih tua darimu."

Lihat selengkapnya