Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, Jaya mengambil Al-qur'an yang disusun rapi di sebuah rak di dekatnya. Syams dan anak-anak lainnya pun mengikuti apa yang dilakukannya. Secara bergantian, mereka mengambil Al-qur'an yang berada di dalam rak tersebut. Kemudian mereka duduk berjajar di hadapannya dan meletakkan Al-qur'an mereka di atas sebuah meja kecil yang panjang yang memang disediakan untuk mengaji dan belajar. Setelah semua muridnya duduk dengan rapi di tempat mereka masing-masing, Jaya memulai pelajarannya. Ia menyampaikan sebuah materi mengenai hukum tajwid kepada anak-anak yang telah duduk di hadapannya tersebut. Mereka pun menyimak apa yang tengah disampaikannya dengan seksama. Tak terkecuali dengan Syams.
Setelah selesai memberikan penjelasan tentang hukum tajwid kepada para muridnya, Jaya kemudian menunjuk satu persatu dari mereka dan menyuruhnya untuk duduk di hadapannya lalu membacakan satu surat untuknya. Satu persatu dari mereka membuka Al-qur'annya. Dengan suara yang bergetar karena merasa malu dengan kemampuan membaca mereka, mereka muai membaca sebuah surat pendek. Jaya mendengarkan bacaan setiap muridnya dengan baik. Tak lupa ia untuk langsung menegur mereka jika ia mendapati dalam cara membaca mereka. Hingga tibalah giliran Syams untuk membacanya.
“Syams, ayo maju! Sekarang giliranmu untuk mengaji. Aku ingin mendengar suara indahmu saat membaca Al-qur’an,” panggil Jaya pada Syams.
Setelah mendengarkan materi yang diterangkan oleh Jaya, Syams yang kembali terlarut dalam kenangannya bersama keluarganya. Ketika masih tinggal bersama keluarganya, ia selalu berebut dengan Aisyah untuk disimak oleh ibunya saat mengaji. Mendengar namanya dipanggil oleh Jaya, Syams langsung terbangun dari lamunannya. Karena masih merasa terkejut, ia berkata dengan sedikit gugup, "Iya, Pak Guru. Pak Guru ingin saya mengaji di depan Bapak?”
“Iya. Ayo cepat buka Al-qur'anmu dan bacalah!” jawab Jaya.
Dengan sigap, Syams segera memenuhi perintah dari Jaya. Ia pun langsung membuka Al-qur'an di hadapannya dengan tangannya yang gemetaran karena masih merasa terkejut dengan panggilan Jaya. Syams kemudian membuka Al-qur’an yang berada di hadapannya dan mulai membacanya dengan tartil. Cara membacanya yang tartil serta keindahan suaranya membuat semua orang yang berada di dalam langgar itu merasa takjub. Tak terkecuali Jaya sendiri.
Suaranya yang merdu menggetarkan seluruh isi ruangan. Membuat suasana pagi hari yang baru saja dimulai itu menjadi tenang. Jaya menutup kedua matanya dan memuka kedua telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan bacaan Syams tersebut dengan seksama. Ia terus menikmati bacaan Syams. Hingga ia tak menyadari bahwa Syams telah mengakhiri bacaannya.
“Sudah selesai, Pak Guru. Sekarang, apa yang harus saya lakukan?” ucap Syams.
“Hei, apa yang kau katakan? Sudah selesai? Aku baru mendengarkannya sebentar. Masa sudah selesai?” jawab Jaya terkejut.
“Memang sudah selesai, Pak. Tapi kalau Pak Guru ingin mendengarkannya lagi, saya akan membacanya lagi untuk Bapak."
“Tidak usah. Sekarang lebih baik kau belajar bersama teman-teman yang lain! Baca saja buku-buku yang ada di ruang belajar.”
“Baik, Pak Guru.”
Jaya bangkit dari duduknya. Kemudian ia berjalan keluar dari ruangan. Sementara Syams dan teman-teman lainnya mulai merapikan tempat yang baru saja mereka gunakan untuk mengaji. Setelah selesai merapikannya, Satria dan beberapa anak lainnya termasuk Syams berpindah ke ruang belajar yang berada di samping ruang mengaji tersebut. Satria kemudian mengajak Syams untuk membaca buku yang tertata rapi di dalam sebuah rak yang diletakkan di sudut ruangan tersebut. Syams ternganga melihat buku yang jumlahnya amat banyak itu. Ia lalu mencoba mengambil salah satu di antaranya. Saat tangannya mulai mengambil buku tersebut, seketika beberapa lembar dari buku tersebut terjatuh ke lantai. Ia pun segera mengambilnya. Kemudian ia pun menyusunnya sesuai dengan halaman yang tertulis di dalamnya dan memasukkannya ke dalam buku tersebut
“Apa ini? Kenapa bukunya sudah rusak? Banyak halaman yang sudah sobek?” keluh Syams.
Satria yang mendengar Syams mengeluh sontak menolehkan wajahnya padanya. Kemudian ia berkata, “Buku itu memang sudah lama. Tidak heran kalau sudah rusak. Kami sudah terbiasa membaca buku-buku yang sudah rusak disini."