Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #11

11.Kerinduan Keluarga Pada Syams

Maryam duduk di atas sebuah sofa yang terletak di ruang keluarga. Tangannya diletakkannya di atas kepala Halim yang tengah duduk di bawahnya dengan raut wajah yang lesu. Kemudian ia menggunakan tangan kanannya tersebut untuk mengelus-elus kepala putra sulungnya itu sambil mengenang Syams yang kini tak ada lagi di sisinya.

Dalam kenangannya itu, ia teringat akan Syams yang selalu berlari-lari di dalam rumahnya dengan memegang sebuah mainan di tangannya. Yang mana mainan tersebut terus berganti jenis setiap harinya. Sering kali Syams memegang bola di kedua tangannya dan hendak menendangnya di dalam rumah itu juga. Namun ia melarangnya dengan tegas. Sehingga putranya itu langsung berlari ke halaman rumah dengan memasang raut wajah muramnya.

Seperti biasa, Syams cepat merasa lelah dalam bermain. Belum lama Syams bermain sepak bola, putranya itu sudah kembali ke dalam rumah dan mengembalikan bola yang dipegangnya di tempatnya semula. Putranya itu lalu berlari ke kamarnya dan kembali dengan beberapa buku di tangannya. Kemudian Syams duduk dengan tenang di ruang keluarga dan meletakkan buku-bukunya di atas meja. Tepat di depannya saat ini. Syams membaca buku-buku di hadapannya dengan tingkat kefokusan yang tinggi. Sehingga apabila ada yang memanggilnya, sang putra sering tak mendengar panggilan tersebut.

Maryam masih ingat dengan suara putra bungsunya itu yang terkadang berselisih dengan Aisyah. Semua itu membuat hatinya meblnjadi tenang dan senyuman terlukis indah di wajahnya. Namun ia kembali bersedih ketika menyadari bahwa Syams kini tak berada di dekatnya lagi.

Walau baru satu hari berpisah dengan putra bungsunya itu, Maryam tetap tak bisa menerimanya. Hatinya terus bertanya tentang keadaan Syams. Apa yang dilakukannya di luar sana? Apakah ia dapat hidup dengan bahagia atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus muncul dalam hati kecilnya.

“Amak, mengapa semua ini terjadi? Syams masih terlalu kecil untuk menerima hukuman seberat itu. Aku tidak pernah menyangka bahwa nasib Syams akan lebih buruk dariku. Sebagai seorang kakak tertua, aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Kapankah Syams akan kembali ke rumah ini? Dan mungkinkah semua itu dapat terjadi?” keluh Halim.

Maryam melepaskan tangannya dari kepala Halim lalu berkata, ”Amak juga tidak tahu. Tapi kita harus tetap yakin bahwa Syams pasti akan kembali pada kita.”

“Sudahlah! Kalian tidak usah memikirkan anak nakal itu lagi! Sekarang, dia bukanlah bagian dari keluarga kita. Jadi kalian harus belajar untuk melupakannya,” ucap Malik yang secara kebetulan sedang melewati ruangan tersebut.

Mendengar suara Malik, Halim langsung mengangkat kepalanya dan membenarkan posisi duduknya. Kemudian Maryam bangkit dari tempat duduknya. Melihat sang ibu yang berdiri, Halim pun ikut berdiri.

Hati Maryam serasa terbakar setelah mendengar pernyataan dari Malik. Raut wajahnya memerah seketika. Dengan tegas, ia pun berkata, ”Mudah sekali kau berbicara seperti itu. Bagaimana mungkin kami dapat melupakan Syams dengan sangat mudah? Sampai kapanpun Syams tetaplah bagian dari keluarga kami. Dan kami yakin bahwa dia pasti akan kembali pada kami. Karena dia adalah milik kami.”

“Terserah kau saja! Anak nakal seperti dia kalian bela," Balas Malik.

Lihat selengkapnya