Jaya tak mengerti mengapa Syams dan Satria nampak begitu gembira di ruang makan. Wajah-wajah ceria dari keduanya seakan menyiratkan sebuah makna. Namun ia tak tahu apa makna tersebut.
Aroma makanan yang begitu sedap telah tercium di hidungnya. Ia pun tak ingin melewatkan kesempatan baik untuk segera menyantap makanan yang masih panas itu. Ia pun segera duduk di kursi dan mengambil sebuah piring di dekatnya.
Satria membuka tudung saji yang terletak di atas meja. Mata Jaya terbelalak ketika melihat makanan di balik tudung saji tersebut. Satria mulai mengambil nasi serta lauk pauk untuk sang ayah. Diikuti dengan Syams yang menuangkan segelas air putih yang ditujukan untuk orang yang sama. Syams dan Satria kemudian duduk berjajar. Mereka pun mulai mengambil makanan untuk mereka makan pada pagi hari itu.
“Satria, kenapa kamu membeli ayam hari ini?Bukankah uang yang kuberikan padamu tidak cukup untuk membeli ayam ini?” tanya Jaya.
“Bukan aku ayah yang membelikan ayam itu. Tapi Syams. Syams memberikan sedikit uangnya untuk kita. Dan dia memintaku untuk membeli ayam dengan uangnya itu," jawab Satria.
“Benarkah Syams? Kamu benar-benar melakukannya?” tanya Jaya pada Syams.
“Iya, Pak Guru. Saya merasa tidak tega saja jika harus melihat kalian terus makan tahu dan tempe saja. Kalau sesekali kita makan makanan yang lain, maka gizi yang diserap oleh tubuh kita juga semakin banyak. Tubuh kita pun akan semakin sehat. Maka segala kegiatan yang kita lakukan pun akan berjalan dengan baik. Kalian tidak akan mudah sakit. Terutama untuk Bapak yang memiliki banyak kegiatan. Bukan begitu, Pak guru?” jawab Syams menjelaskan.
Jaya tersenyum bangga mendengar jawaban Syams. Ia menunjukkan senyumannya itu pada Syams lalu berkata, ”Kamu benar-benar anak yang baik. Yang kamu lakukan itu menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya. Menunjukkan bahwa kamu adalah seorang ksatria sejati. Yang selalu peduli dengan orang-orang di sekitarmu. Terutama pada orang-orang yang berada di bawahmu. Karena seorang ksatria sejati bukanlah dilihat pada jumlah harta yang dimilikinya. Tapi ksaria sejati itu dapat dilihat dari jiwa dan ilmu pengetahuannya.”
“Oh, jadi begitu Pak Guru?” ucap Syams sambil menggut-manggut.
“Tapi ingat, jangan karena kamu peduli pada orang lain, kamu jadi memanjakan mereka! Jangan membeli makanan atau barang mewah setiap hari! Itu namanya pemborosan,” tambah Jaya.
“Baik, Pak Guru.”
“Iya. Sudahlah, ayo kita makan!” jawab Jaya.
Jaya mulai mengambil makanan dengan sendoknya. Lalu ia memasukkannya ke dalam mulutnya. Syams dan Satria kemudian melakukan hal yang sama. Satria nampak sangat menikmati makanan yang disantapnya. Ia terlihat sangat lahap memakan makanan tersebut. Ia terus menggigiti ayam yang dipegangnya. Melihat sikap Satria yang demikian tersebut membuat Syams dan Jaya tertawa.