Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #13

13.Apa itu Ksatria?

Satria memperhatikan wajah Syams yang tertunduk. Rasa sedih tergambar jelas di wajahnya. Melihat Syams yang nampak sedih, hati Satria pun menjadi iba.

Satria kembali menolehkan wajahnya pada teman-temannya. Lalu ia berkata pada temannya yang beru saja bertanya itu, ”Sudahlah, jangan membahas itu! Nanti kalian juga akan tahu. Hanya yang perlu kalian tahu adalah Syams itu istimewa. Dia adalah cahaya bagi kita. Baik di rumah Pak Jaya maupun di langgar.”

Anak itu merasa puas mendengar jawaban dari Satria. Ia pun tersenyum dan mulai melupakan pertanyaannya itu. Tak hanya itu

Anak-anak yang lain pun mempercayai ucapan Satria begitu saja. Mereka ingat bagaimana Syams memiliki bakat yang tak dimiliki oleh anak-anak lain di langgar. Termasuk Satria. Ia juga telah memberikan jajan yang begitu banyak. Yang jarang mereka dapat sehari-hari. Syams pun mulai tersenyum kembali setelah melihat kepercayaan dalam diri teman-temannya tersebut.

Tak berselang lama, anak-anak itu telah menghabiskan makanan mereka. Mereka pun berdiri dari tempat duduk mereka untuk melanjutkan permainan mereka yang sempat tertunda sejenak. Syams dan Satria pun tak ingin ketinggalan.

Hari berjalan seperti biasanya. Tak ada yang berubah. Rutinitas yang telah diterapkan oleh Jaya berusaha Syams ikuti dan jalani dengan sebaik-baiknya.

Satria dan Syams menarik nafas panjang setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah. Mereka pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu dan meminum segelas air putih. Kemudian mereka meletakkan gelas yang berada di tangan kanan di atas meja. Mereka lalu menyandarkan tubuh mereka pada kursi yang mereka duduki.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Satria yang masih merasa lelah terpaksa berdiri. Ia pun berjalan dengan lambat karena tubuhnya yang masih terasa lemas. Kemudian dengan tangannya yang lemas pula, ia membukakan pintu untuk tamunya itu.

Tiba-tiba tenagga dalam tubuh Satria kembali ketika mengetahui siapa orang yang telah mengetuk pintu. Ia berdiri dengan tubuh yang kaku. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Ia sudah hafal di kepalanya, apabila ada wanita paruh baya tersebut datang di hadapannya atau di hadapan Jaya, maka masalah pasti akan yang terjadi. Dan ia harus menyelesaikan masalahnya tersebut dengan sedikit kerja keras.

Biasanya Jaya yang menghadapi wanita teesebut. Namun kini Jaya sedang tak berada di rumah. Maka Satria sepertinya hanya bisa pasrah menghadapi wanita tersebut seorang diri. Wanita paruh baya yang telah mengetuk pintu itu nampak sangat marah padanya. Matanya melotot ke arahnya. Melihat sikap aneh wanita tersebut, Syams segera berdiri dan berjalan mendekati Satria.

”Dengar ya! Kamu dan ayahmu itu belum membayar uang kontrakan bulan ini. Jadi bayar sekarang atau segera angkat kaki dari rumah ini!” ucap wanita tersebut dengan nada tinggi.

”Apa? Membayar uang kontrakan?” tanya Syams tak mengerti.

Lihat selengkapnya