Syams menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajah polosnya terus menatap mata Jaya. Merasa tak sabar lagi untuk mendengarkan jawaban dari gurunya tersebut.
Jaya menghela nafas pendek sambil tersenyum. Kemudian melanjutkan perkataannya, "Kau tidak perlu terburu-buru untuk memahaminya. Kau masih terlalu kecil. Nanti setelah kau dewasa, kau juga akan memahaminya."
"Tapi aku akan memberikan sedikit penjelasan tentangnya. Seorang ksatria sejati ialah orang yang selalu memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Ia rela berjuang demi kesejahteraan masyarakat. Hingga dia pun tidak memperdulikan tentang kebahagiaannya sendiri. Pengabdiannya hanya untuk masyarakat. Juga untuk bangsa dan negara. Kau anak yang sangat menghormati orang tua. Itu juga termasuk salah satu ciri seorang ksatria sejati,” lanjut Jaya.
“Oh begitu? Itu sebabnya pak guru selalu menolong orang yang sedang kesusahan walau hidup bapak harus menderita seperti ini?" tanya Syams lagi.
“Itu memang sudah menjadi tugas kita sebagai seorang ksatria. Tidak peduli berapa banyak banyak harta yang kita miliki, kita akan tetap melakukannya. Karena ksatria itu bukan tentang berapa banyak harta yang dimiliki seseorang. Tapi menjadi seorang ksatria diukur dari jiwa dan ilmu pengetahuannya," lanjut Jaya.
Syams tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa ia telah mengerti tentang semua yang diucapkan oleh Jaya. Jaya lalu mengelus-elus kepala Syams. Kemudian ia meninggalkannya agar ia dapat melanjutkan untuk membaca buku-buku yang berada di hadapannya.
Setelah Jaya meninggalkannya, Syams kembali mengalihkan perhatiannya pada buku-buku yang berada di hadapannya. Kemudian ia melanjutkan apa yang sebelumnya ia baca. Dalam hati kecilnya, Syams merasa senang. Ia sangat bersyukur karena ia selalu mendapatkan hal baru setiap saat. Baik dari rumah Jaya maupun dari langgar.
Syams mulai dapat menerima apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia mulai dapat melupakan penderitaannya sebagai anak yang terbuang. Dan ia kini merasa lebih senang tinggal di rumah Jaya daripada hari-hari sebelumnya. Ia ingin tinggal di rumah Jaya lebih lama lagi agar ia dapat menerima hal-hal baru lainnya.
"Ternyata tinggal di rumah Pak Jaya ini tak seburuk yang kufikirkan. Aku kira hidupku akan sangat menderita setelah aku diusir dari rumah dan diasuh oleh Pak Jaya. Tapi ternyata apa yang aku fikirkan itu salah. Aku malah mendapatkan hal-hal baru yang tak bisa aku dapatkan di rumahku yang mewah itu," ucap Syams dalam hatinya.
Malam telah begitu larut. Syams mencoba untuk memejamkan matanya. Berkali-kali ia melakukannya. Namun ia tetap saja tidak bisa tidur. Sesekali ia memandang ke arah Satria yeng telah tertidur dengan lelapnya.
“Beberapa kali aku mencoba untuk tidur dengan cepat disini. Tapi tetap saja tidak bisa. Ini bukanlah tempat yang begitu buruk untuk tidur. Tapi kenapa aku tidak bisa tidur dengan nyenyak disini? Bagaimana anak-anak gelandangan yang tinggal di langgar itu dulu bisa tidur dengan nyenyak di jalanan?” gumam Syams sambil duduk di atas ranjang.