Setelah menyadari bahwa tinggal di rumah Jaya bukanlah untuk mendapatkan derita melainkan sebagai penyembuh luka. Setelah menyadari bahwa hidup di lingkungan yang kumuh itu tak begitu menyedihkan seperti apa yang pernah ia bayangkan. Syams berusaha keras untuk melupakan apa yang telah terjadi pada dirinya beberapa hari yang lalu. Ia berusaha keras untuk melupakan peristiwa pengusirannya dari rumah dimana ia menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Ia lebih memilih untuk menikmati apa yang ada di depan matanya. Baginya bermain dengan anak-anak miskin itu sangatlah menyenangkan. Ia dapat belajar bagaimana menghargai orang yang memiliki status lebih rendah daripada dirinya. Baginya tinggal di rumah Jaya dan belajar di langgar juga sangat menyenangkan. Banyak hal yang dapat ia pelajari dari seseorang yang telah menolongnya itu.
Syams seperti seseorang yang sedang pergi berwisata. Dimana ia tengah terlena dengan kegiatan wisatanya tersebut. Walaupun kegiatan wisata itu bukanlah seperti layaknya seseorang yang pergi ke pantai, gunung, atau tempat-tempat indah lainnya. Namun hanyalah ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari rumah tempat tinggalnya. Sebuah tempat yang memiliki suasana yang sangat berlawanan dari tempat tinggalnya sebelumnya.
Walau begitu, Syams tetap menikmati apa yang ada di depan matanya. Menurutnya itu adalah tempat yang indah. Meski tak nampak dari luarnya. Selain bisa mendapatkan teman-teman baru, ia juga bisa mendapatkan pelajaran-pelajaran yang baru setiap harinya. Yang mana pelajaran-pelajaran tersebut dapat membawa makna tersendiri bagi dirinya. Dan tentunya dapat mengubah kepribadiannya dari waktu ke waktu.
Kesenangan yang dirasakan Syams membuatnya melupakan waktu. Ia lupa bahwa hari-hari telah berganti. Minggu demi minggu pun berdatangan silih berganti. Kini bukan saatnya untuk bermain lagi. Kini sudah tiba saatnya baginya untuk kembali belajar di sekolah. Dengan semangat yang baru, ia merasa sudah tak sabar lagi untuk belajar di semester yang baru dengan pelajaran-pelajaran yang baru pula.
“Saatnya kembali ke sekolah!” seru Syams setelah memakai seragamnya.
“Aku sudah tidak sabar lagi untuk kembali belajar,” tambah Satria.
"Aku juga, Kak,“ sahut Syams.
Syams dan Satria mengambil tas mereka dan meletakkannya di punggung mereka. Lalu keduanya keluar dari kamar mereka untuk menikmati sarapan. Kedua mata mereka terbelalak dengan dua potong paha ayam yang telah tersaji di atas meja. Dua potong daging paha yang baru saja digoreng itu nampaknya sengaja dipersiapkan Jaya untuk mengawali pagi hari mereka yang baru itu.
Satria segera menempatkan dirinya dan memakan daging ayam tersebut dengan sangat lahapnya. Sementara Syams masih berdiri di tempatnya. Ia masih merasa ragu untuk menyantap makanan tersebut. Bagaimana mungkin ia dan Satria memakan daging ayam sementara ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jaya hanya makan dengan lauk tahu dan tempe?
Jaya memberikan sebuah senyuman serta anggukkan kepada Syams sebagai pertanda bahwa ia tak perlu merasa ragu untuk memakan daging ayam tersebut. Setelah mendapatkan isyarat dari sang guru, rasa ragu dalam diri Syams perlahan menghilang. Ia pun menempatkan dirinya untuk duduk di samping Satria. Lalu ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Tak lupa ia juga mengambil sepotong daging paha yang telah dipersiapkan Jaya untuknya.