Langit kala itu telah berwarna jingga. Saatnya semua orang untuk beristirahat sambil menunggu adzan maghrib berkumandang. Namun berbeda dengan Syams yang nampak tak tenang di dalam kamarnya. Ia duduk di atas ranjang sambil menatap sebuah buku di hadapannya. Sesekali a menggaruk-garuk kepalanya karena merasa kebingungan. Ya, Syams memang merasa kebingungan dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Ia merasa tak sanggup lagi untuk menjawab setiap pertanyaan yang tertulis dalam bukunya tersebut.
Dua pertanyaan yang tertulis di bukunya tersebut belum dijawabnya. Sementara tugas tersebut harus dikumpulkan esok hari jua. Selain itu, masih ada tugas sekolah lainnya yang harus ia selesaikan. Ia merasa bahwa ia sekarang membutuhkan orang lain untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya tersebut. Ia ingin sekali meminta bantuan pada Satria. Tapi saat ia baru saja menolehkan wajahnya padya Satria, ia menjadi ragu untuk melakukannya karena kakaknya itu juga nampak sibuk dengan buku-buku pelajaran. Sehingga ia pun membatalkan niatnya karena tak ingin mengganggu konsentrasi belajar Satria.
"Aduhh... Bagaimana ini? Pertanyaannya sangat sulit. Kak Satria juga sedang sibuk mengerjakan tugasnya," gumam Syams sambil terus menggaruk-garuk kepalanya.
Syams tak tahu harus bertanya pada siapa lagi. Ia pun bangkit dari duduknya dan mencoba keluar dari kamarnya. Barangkali ia bisa mendapatkan udara segar di luar kamar. Sehingga ia dapat lebih berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas sekolahnya tersebut. Dan mungkin ia juga dapat menemukan jawaban dari pertanyaannya yang dirasa sangat sulit tersebut.
Syams membuka pintu dengan perlahan agar tak menimbulkan suara sedikitpun. Ia tak menganggu konsentrasi Satria dalam belajar. Setelah pintu terbuka, senyuman di wajahnya mulai mengembang ketika melihat Jaya yang tengah duduk di ruang tamu. Ia pun tak ingin melewatkan kesempatan baiknya. Segera ia mendekati guru tersebut untuk meminta bantuan dalam mengerjakan tugas sekolahnya.
"Maaf Pak Guru, jika saya mengganggu waktu Bapak. Saya hanya ingin bertanya sesuatu pada Bapak. Apa boleh, Pak?" ucap Syams.
Jaya menolehkan wajahnya ke sumber suara. Setelah mebgetahui bahwa Syams tengah berdiri di dekatnya, ia pun menjawab, "Syams! Apa yang ingin kamu tanyakan? Ayo duduk!”
Syams mengangguk kecil. Lalu ia menempatkan dirinya untuk duduk di samping Jaya. Setelah duduk, Syams berkata, “Saya ingin meminta bantuan pada Bapak untuk mengerjakan tugas sekolah saya. Pertanyaan-pertanyaannya begitu sulit, Pak. Saya sudah mencari jawabannya di buku-buku saya. Tapi tetap saja tidak menemukan jawabannya. Saya tidak berani bertanya pada Kak Satria. Karena Kak Satria juga sedang sibuk belajar. Apa Bapak bersedia untuk membantu saya?”
“Tentu saja. Ayo kita mulai! Apa yang ingin kau pertanyakan terlebih dahulu?” jawab Jaya yang lantas meletakkan buku yang dipegangnya di atas meja.