Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #20

20.Kenangan Indah Pak Jaya

Jaya merasa heran melihat tingkah laku Syams yang tak biasa itu. Ditambah saat ia melihat raut wajah muridnya itu yang terlihat pucat. Keringat mulai menetes di wajahnya. Jaya segera menutup pintu. Lalu ia berjalan yang mendekati Syams dan Satria.

Setelah tiba di dekat Syams dan Satria, Jaya pun duduk di samping Syams. Ia memandang wajah muridnya itu lalu berkata, ”Apa yang kau sembunyikan itu, Syams? Coba tunjukkan padaku!”

Syams menggelengkan kepalanya lalu menjawab, ”Tidak apa-apa, Pak. Saya tidak menyembunyikan apa-apa.”

“Ayo tunjukkan saja padaku! Jangan takut! Aku tidak akan memarahimu," lanjut Jaya.

Syams mencoba menggerakkan tangannya dan mengeluarkan foto yang disembunyikannya di punggungnya dengan perlahan. Dengan tangan gemetrar, ia memberikannya pada Jaya sambil berkata, ”Maaf Pak Guru, Saya menemukannya setelah terjatuh dari saku Bapak. Saya ingin mengembalikannya tapi Bapak sudah menutup pintu kamar bapak dan tidak mendengarkan panggilan saya. Sekali lagi saya minta maaf pada Bapak.”

Jaya terkejut saat mengetahui bahwa yang sedang disembunyikan Syams adalah foto miliknya yang sedang dicarinya. Ia pun tersenyum pada Syams kemudian berkata, ”Tidak apa-apa, Syams.

"Ini adalah foto keluargaku yang paling aku sukai. Aku selalu membawanya kemana-mana sebagai pengobat rinduku pada ibu dan ayahku. Dulu, waktu aku masih tinggal di Kauman, aku menjadi anak kesayangan ayahku. Sebab aku adalah putra tunggalnya. Dan aku diharapkan untuk menjadi penerus perusahannya. Sebenarnya aku dibebaskan untuk memilih cita-citaku sendiri. Tapi jiwa ksatriaku ini mendorongku untuk menjadi sukarelawan. Yang akhirnya ditentang oleh ayahku. Sehingga aku diusir dari rumah. Setelah itu aku mencoba mencari tempat untuk bisa mewujudkan cita-citaku itu. Dan akhirnya aku menemukan Kampung Bidaracina ini. Dan juga kalian yang selalu membantu perjuanganku,” lanjut Jaya menjelaskan.

“Oh, jadi sebenarnya Pak Guru bukan asli warga desa ini?" tanya Syams.

"Waah... Kedatangan Pak Guru ke kampung ini membawa tugas yang mulia. Yaitu untuk membantu anak-anak yang tidak mampu bersekolah untuk mendapatkan pendidikan secara gratis. Mulia sekali tugas yang Pak Guru emban itu,” lanjut Syams.

Jaya mengangkat kepalanya dan menolehkannya pada Syams. Ia kembali memandang wajah muridnya itu. Namun kini ia tambahkan dengan senyuman di wajahnya. Lalu ia berkata, ”Tugasmu juga mulia. Kedatanganmu ke rumah kecil ini hanya untuk menyadarkan para orang tua bahwa kesalahan yang diperbuat oleh seorang anak bukanlah berasal dari diri mereka sendiri. Tapi juga orang tua itu sendiri yang salah dalam mendidiknya.”

“Aku tidak pernah mempercayainya. Kalau selama ini Ayah telah menyembunyikan jati dirinya padaku. Ayah ternyata anak orang kaya. Tapi hanya karena ingin menjadi seorang sukarelawan Ayah diusir dari rumah. Sungguh kejam orang tua Ayah telah tega mengusir anaknya sendiri yang ingin berbuat kebaikan,” celetuk Satria.

Lihat selengkapnya