Seorang pria tua yang telah nampak uban di kepalanya tengah duduk di atas sofa sambil menatap sebuah laptop di depannya. Telah cukup lama ia menatap laptopnya tersebut. Tiba-tiba pria tersebut mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya memerah saat membaca sebuah laporan dari salah satu karyawannya tentang sebuah novel baru yang akan diterbitkan oleh perusahaan mliliknya. Walau begitu, ia tak ingin menghentikan kegiatan membacanya tersebut. Ia terus membaca novel yang dikirimkan melalui via e-mail itu sambil terus mengepalkan kedua tangannya.
Novel itu bagaikan sebuah tungku dapur baginya. Dimana setiap babnya adalah kayu bakarnya. Dan setiap isi dari bab-bab tersebut adalah apinya. Saat ia membaca bab pertama dari novel tersebut, hatinya merasa merasakan kehangatan. Namun semakin lama ia membaca novel tersebut, api itu semakin membesar. Kehangatan yang dirasakannya pun kini berubah menjadi rasa panas. Karena api itu kini hanya dapat membakar dirinya. Hingga panas itu terasa sampai di wajahnya dengan warna merah sebagai penandanya.
Pria tua yang dikenal masyarakat dengan nama Wijaya itu seketika menghentikan bacaannya. Karena merasa tak tahan lagi dengan isi cerita dari novel tersebut. Ia lalu meletakkan laptopnya di atas meja yang ada di depannya. Ia tak ingin lagi memandang laptopnya tersebut. Tak peduli tentang novel itu yang harus segera diurus agar dapat segera diterbitkan.
“Apa-apan semua ini? Kenapa ada novel semacam itu? Kisahnya membuat orang menjadi kepanasan. Kisah seperti ini tak layak untuk dibaca orang,” ucap wijaya dengan geram.
Tak jauh dari tempat duduk Wijaya, seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dengannya tengah berjalan mendekatinya. Wanita itu mengenakan kebaya warna merah yang cantik dan selaras dengan wajahnya yang masih nampak segar walau usianya sudah tua. Rambut wanita itu dikonde dengan sangat rapi. Ia memang senang berpenampilan khas jawa. Ada satu dua gelang emas yang dipakaiannya di tangan kanan dan kirinya. Semakin menambah kecantikannya. Wanita itu berjalan dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Wanita yang bernama Ratna dan merupakan istrinya itu terus berjalan sambil memperhatikan raut wajah suaminya yang nampak begitu marah. Sebenarnya bukan hanya pagi itu saja ia melihat amarah dalam diri suaminya. Namun di hari-hari sebelumnya, ia juga sering melihat amarah yang tergambar di wajah suaminya tersebut. Namun ia tak tahu apa alasan dibalik kemarahan suamnya tersebut.
Setelah tiba di dekat Wijaya, Ratna meletakkan kopi yang dibawanya itu di samping laptop sang suami. Kemudian ia pun duduk tepat di samping suaminya tersebut. Ia kembali memperhatikan raut wajah suaminya itu. Kemudian ia pun bertanya, “Mas kenapa? Akhir-akhir ini mas terlihat begitu marah? Sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiran mas?”
Wijaya menghela nafas panjang. Mencoba meredakan amarah di dalam dirinya. Ia lalu menjawa, "Aku baru saja membaca sebuah novel yang akan diterbitkan oleh perusahaanku di Jakarta. Novel itu benar-benar membuatku naik darah.”
Memangnya novel apa itu, Mas? Apa itu novel yang mengisahkan tentang kejahatan seseorang sehingga membuat Mas marah seperti itu?” tanya Ratna lagi.
Wijaya menganggukkan kepalanya. Lalu ia menjawab, “Ya. Novel itu memang bercerita tentang kejahatan seseorang terhadap seorang lainnya. Dan yang membuat aku merasa sangat geram dengan novel itu adalah yang menjadi korban adalah seorang anak kecil.”