Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #22

22.Meminta Keterangan dari Maryam

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Wijaya dan Ratna telah sampai pada tujuannya. Mata keduanya tertuju pada sebuah rumah yang begitu besar. Bangunannya begitu tinggi. Hingga ia merasa bahwa rumah sahabatnya tersebut jauh lebih besar dan indah dibandingkan dengan rumahnya yang berada di Yogyakarta. Bahkan rumah tersebut juga terlihat sangat berbeda dari rumah-rumah yang ada di sekelilingnya. Tanpa berfikir panjang lagi, Wijaya mengarahkan mobilnya untuk memasuki gerbang rumah tersebut.

Setelah memarkirkan mobilnya, Wijaya dan Ratna berdiri di depan rumah tersebut. Kemudian jari telunjuk tangan kanan Wijaya diarahkannya untuk menekan bel rumah yang berada tepat di sisi kanannya. Saat menekannya satu kali, belum ada yang keluar untuk membukakan pintu untuknya. Ratna memintanya untuk mencobanya kembali. Ia pun kembali menekan bel yang dipasang sedikit lebih tinggi dari tinggi badannya itu. Namun pintu itu belum juga terbuka. Ia mencobanya kembali. Hingga untuk ketiga kalinya, nampaknya usahanya itu membuahkan hasil. Seketika pintu terbuka. Dan dari balik pintu tersebut, tampak Maryam. Maryam tercengang setelah mengetahui kedua orang yang datang ke rumahnya di siang hari yang sangat terik itu. Matanya terbelalak. Ia tak dapat mempercayai apa yang baru saja dilihatnya itu.

Maryam melangkahkan kakinya sedikit lebih dekat dengan Ratna. Kemudian ia bertantya pada sahabatnya itu, “Ratna? Kamu Ratna, kan?”

“Iya, aku Ratna. Sahabatmu dulu ketika kamu tinggal di Kauman,” jawab Ratna.

“Wahh... Aku tidak menyangka kamu ada disini,” ucap Maryam.

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Maryam langsung meraih tubuh Ratna dengan kedua tangannya. Kemudian ia meletakkan tubuh sahabatnya itu ke dalam pelukannya. Ia memeluknya sahabatnya itu dengan sangat erat. Ia tak ingin melepaskan pelukannya tersebut karena sudah merasa sangat rindu dengan sang sahabat setelah berpisah selama bertahun-tahun lamanya.

“Dimana Malik? Kenapa dia tidak keluar untuk menyambut kedatanganku?” tanya Wijaya menyela.

Maryam langsung melepas pelukannya dari Ratna setelah mendapatkan pertanyaan dari Wijaya. Lalu ia menjawab, ”Dia masih di kantor siang ini. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Kamu tunggu saja di dalam.”

Maryam mempersilahkan Wijaya untuk memasuki rumahnya. Wijaya mengangguk lalu mulai melangkahkan kakinya ke dalam. Sementara itu, Maryam menggandeng tangan Ratna untuk memasuki rumahnya. Setelah tiba di dalam, Maryam mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk. Wijaya pun duduk di sebuah sofa di ruang tamu sambil sambil memainkan matanya untuk memperhatikan setiap sudut ruang tamu milik sahabatnya itu. Ia memang tak dapat membohongi dirinya sendiri. Dalam hati kecilnya, dirinya memuji-muji hasil kerja keras sahabatnya sejak muda itu.

Maryam tak ingin menjadikan kedua tamunya itu sebagai patung yang hanya duduk di sofanya tanpa menikmati secuil makanan atau hanya meneguk air putih. Maka ia pun segera memanggil asisten rumah tangannya dan memerintahkannya untuk menyiapkan jamuan untuk kedua tamunya tersebut. Dengan cekatan, asisten rumah tangga itu segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh majikannya tersebut.

Maryam menempatkan dirinya untuk duduk tepat di sebuah sofa yang terletak di depan Ratna. Sehingga keduanya duduk saling berhadapan. Ia memperhatikan sahabatnya itu yang meminum jus jeruk yang baru saja disajikan asisten rumah tangganya padanya dengan perlahan hingga jus di dalam gelas tersebut habis tak tersisa. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Wijaya yang juga meneguk jus jeruk itu dengan cepat. Nampaknya mereka benar-benar merasa sangat lelah setelah perjalanan jauh hingga minuman yang disajikan untuk mereka habis tak tersisa.

Maryam pun berkata, ”Apa kabar kalian selama ini? Tak terasa ya, sudah lama sekali kita tidak berjumpa.”

“Kabar kami sangat baik. Aku juga tak menyangka sudah sembilan tahun lamanya kita tak saling tatap muka. Aku sendiri hampir lupa dengan wajahmu itu, Maryam,” jawab Ratna dengan cepat.

“Kita disibukkan dengan urusan masing-masing. Sehingga kita lupa bahwa waktu cepat berlalu,” sahut Wijaya sambil meletakkan gelas di tangannya kembali ke atas meja.

Lihat selengkapnya