Setelah mendapatkan sedikit ketenangan di taman, Maryam dan Ratna kembali ke ruang tamu menemui Wijaya yang masih duduk seorang diri disana. Ratna melangkahkan kakinya dengan sangat pelan. Tak seperti Maryam yang berada di depannya. Karena setelah perbincangan di taman itu, jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Ia masih berusaha untuk memantapkan hatinya. Menyiapkan keberaniannya untuk melawan Wijaya agar ia dapat mengembalikan putra tunggalnya ke rumahnya.
Ratna ingin segera melaksanakan niatnya untuk membantah dan melawan setiap tindakan buruk yang dilakukan oleh suaminya kepada putra tunggalnya lima tahun yang lalu. Juga sikap suaminya itu yang hingga kini tak pernah menyesali perbuatannya dan tak pernah jua mengingat sang putra yang entah berada dimana. Namun keberanian yang baru tumbuh itu membuat tubuhnya menjadi kaku. Dan jantungnya berdetak semakin kencang seiring dekatnya jarak antara dirinya dengan ruang tamu.
Sesaat kemudian, Ratna dan Maryam telah tiba di depan pintu. Namun baru saja mereka ingin melangkahkan kaki mereka memasuki rumah, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara yang memekakkan telinga mereka. Suara itu menggetarkan seluruh isi ruangan hingga terdengar sampai bagian luarnya. Suara tersebut lebih mirip seperti menggambarkan kemarahan seseorang pada orang yang menjadi lawan bicaranya.
"Hei dengar! Suara apa itu?" tanya Maryam pada Ratna dengan suara yang lirih.
Ratna berbalik bertanya dengan suara yang lirih pula, "Iya. Kenapa mereka membuat kebisingan di siang hari yang begitu terik ini?"
Maryam menempelkan jari telunjuk tangan kanannya pada kedua bibirnya. Lalu ia kembali berkata dengan lirih, "Httss!!! Jangan berisik dulu! Sebaiknya kita dengarkan saja apa yang sedang terjadi."
Ratna membuka kedua telinganya lebar-lebar. Lalu ia mencoba mendengarkan suara tersebut dengan seksama. Suara tersebut memang terdengar sangat keras di telingannya sehingga membuat gendang telinganya hampir pecah. Setelah mendengarkannya, ia pun menolehkan wajahnya pada Maryam kemudian berkata, "Sepertinya masalah yang sama, Maryam. Sepertinya orang-orang itu benar-benar marah?"
Maryam mengikuti Ratna membuka telinganya lebar-lebar. Kemudian ia juga mendengarkan dengan seksama apa yang sedang diperbincangkan oleh orang-orang yang berada di dalam rumahnya tersebut. Setelah mendengarkannya selama beberapa saat, ia pun menjawab, "Iya benar. Sekarang jangan hanya berdiri disini saja! Ayo kita dengarkan saja di dekat pintu itu.
Ratna mengangguk. Kemudian Maryam meraih tangannya dan membawanya ke pintu masuk. Keduanya menyandarkan tubuh mereka pada daun pintu. Mereka mengarahkan kedua mata mereka untuk melihat ke dalam. Mengintip ke arah orang yang menyebabkan kebisingan itu terjadi. Nampak dari luar, Wijaya dan Malik tengah mengadakan pembicaraan yang sangat serius. Mengetahui hal tersebut, mereka tak ingin meninggalkan tempat tersebut untuk terus mengintip dan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut kedua orang tersebut.
“Menurutmu hanya kau saja orang yang merasa tersindir dengan isi cerita dalam novel itu? Novel itu ditulis untuk menyindirku. Agar aku dapat memulangkan putra bungsuku itu. Juga agar semua orang mengetahui tentang semua hal buruk yang pernah kulakukan pada keluargaku. Memangnya apa salahku? Aku hanya ingin melakukan apa yang sepantasnya kulakukan. Aku melakukan semua itu juga demi kebaikan putraku. Terutama Syams. Agar ia dapat menjadi anak yang lebih baik. Tidak nakal dan tidak melanggar perintah orang tua,” ucap Malik dengan nada tinggi.