Wijaya yang masih diliputi api amarah dalam dirinya tak ingin menghabiskan waktunya untuk terus berada di rumah Malik. Ia berjalan tergesa-gesa untuk meninggalkan rumah yang telah terbakar oleh api arah itu. Ketika ia baru saja tiba di depan pintu, dirinya tak sengaja melihat Ratna dengan wajah tertunduk tengah berdiri bersama Maryam. Maka ia segera meraih tangan kanan istrinya itu dan melanjutkan langkahnya.
Setelah tiba di depan mobil, ia menyuruh Ratna untuk segera memasuki mobilnya tersebut. Namun Ratna hanya diam terpaku di samping mobil suaminya itu. Merasa tidak sabar dengan sikap sang istri, ia pun langsung mendorong tubuh istrinya itu ke dalam mobil. Setelah itu ia menutup pintu mobilnya dengan keras. Lalu tibalah gilirannya untuk memasukinya dan duduk di samping Ratna.
Wijaya segera menyalakan mesin mobilnya. Sementara itu, Ratna melambaikan tangan kanannya pada Maryam sambil menunjukkan senyumannya pada sahabatnya itu. Maryam pun membalas lambaian tangannya sang sahabat. Mereka tak menurunkan tangan mereka dan terus melambai. Mereka terus melakukannya hingga mobil Wijaya telah menghilang dari pandangan Maryam.
Setelah mobil Wijaya telah menjauh dari rumah Maryam, Ratna menurunkan tangannya dengan perlahan. Kemudian ia mencoba mengalihkan perhatiannya dari Maryam. Lalu ia menutup kaca mobil. Setelah itu, ia menolehkan wajahnya pada Wijaya dan memandang wajah suaminya itu sejenak. Jantung Ratna berdetak kencang. Tubuhnya kaku dan mulutnya terkunci saat akan melakukan apa yang telah direncanakannya saat berada di rumah Maryam. Ia pun memejamkan matanya. Mengumpulkan keberaniannya untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Ratna membuka matanya dengan perlahan. Lalu ia menarik sebelum akhirnya berkata, “Mas, apa Mas yakin dengan semua yang Mas ucapkan kepada Malik tadi? Tidakkah Mas sadari bahwa novel itu telah mengingatkanmu atas kesalahanmu di masa lalu? Mungkin itu adalah suatu pertanda bahwa Mas harus segera mengubah keputusan Mas dan memulangkan Surya?”
Wijaya merasa sangat terkejut mendengar pertanyaan dari Ratna. Sontak ia langsung menghentikan mobilnya. Ratna menghela nafas sambil memegangi dadanya setelah Wijaya mengerem mobilnya secara mendadak.
Api amarah yang baru saja di dapatkannya setelah membahas novel yang telah ditulis Maryam kini semakin membesar. Malik menekan gigi bawahnya dengan gigi atasnya hingga nampak kulitnya yang seperti ditarik sesuatu. Kemudian ia menghadapkan wajahnya pada Ratna lalu menanggapi ucapan istrinya itu dengan berkata, “Kamu juga berfikir seperti itu?Aku tahu kalau novel itu mennyindirku. Memperingatkanku atas segala kesalahan yang telah kuperbuat di masa lalu. Juga pada orang yang telah bersikap sama sepertiku. Termasuk Malik."
"Tapi apakah aku harus terpengaruh dengan semua itu? Lagipula, apakah semua kritikan yang diutarakan melalui novel itu benar? Dia hanya ingin menebar kebencian pada suaminya dengan caranya sendiri. Agar semua orang dapat mengetahui tentang kejahatan suaminya itu. Dan nama baiknya menjadi tercemar. Dengan begitu, semua dendamnya pada suaminya akan terbalaskan,” lanjut Wijaya.
Wijaya kembali menghadapkan wajahnya pada jalan di depannya. Kemudian dengan kesal ia berkata kembali, “Sudahlah, lebih baik kamu diam saja! Atau aku akan menghukummu juga!”
Ratna membungkam. Tubunya serasa bergetar setelah medapatkan amarah dari Wijaya. Ja pun menundukkan kepalanya dan tak berani berkata apapun lagi. Ingin rasanya ia bisa mempunyai keberanian yang lebih untuk melawan kehendak Wijaya. Namun ia tak dapat melakukannya. Ketakutan terus saja datang dalam hatinya saat sang suami tengah memarahinya. Mulutnya pun terkunci ketika ingin membuka suara untuk melawan setiap kata yang terucap dari mulut suaminya tersebut.