Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #25

25.Keberanian untuk Melawan Kejahatan

Secangkir kopi panas telah tersedia di atas meja kerja. Menemani Wijaya untuk memulai pagi harinya. Seteguk dua teguk diminumnya. Kemudian ia meletakkan cangkir tersebut kembali ke tempatnya semula. Lalu ia kembali mengalihkan perhatiannya pada sebuah komputer di depannya. Tangannya mulai meyentuh keyboard komputer tersebut dan menekan huruf-hurufnya. Ia mengerahkan segenap konsentrasinya untuk mengurus pekerjaannya itu.

Ratna berdiri di depan pintu. Di tangannya terdapat sebuah piring yang dipenuhi dengan biskuit. Ia pun memasuki ruangan kerja suaminya itu dengan langkah yang sangat hati-hati. Ia tak ingin menimbulkan suara sedikitpun sehingga dapat mengganggu konsentrasi suaminya dalam bekerja.

Setelah tiba di dalamnya, Ratna langsung meletakkan piring yang berada di tangannya pada meja sang suami. Tepat di samping secangkir teh yang telah ia sajikan beberapa saat yang lalu. Ia tak ingin langsung beranjak dari ruangan tersebut. Ia teringat akan kejadian di hari yang lalu. Saat ia berusaha untuk menumbuhkan keberanian dalam dirinya untuk melawan kejahatan suaminya tersebut.

Walaupun saat itu ia telah gagal melakukannya, namun ia tak ingin menyerah begitu saja. Ia ingin mencobanya kembali. Berharap agar dengan usahanya yang kedua bisa mendapatkan keberhasilan.

"Aku harus mencobanya lagi. Aku tidak boleh menyerah setelah kegagalanku kemarin. Memang tidak mudah untuk melembutkan hati seseorang kemarahannya sudah memuncak. Mungkin usahaku kali ini akan berhasil," ucap Ratna dalam hatinya.

Ratna menghela nafas pendek. Lalu hatinya kembali berkata, "Yaaah... Walaupun usahaku yang kedua ini mungkin gagal kembali, tapi setidaknya aku bisa melatih keberanianku untuk melawan Mas Wijaya. Nanti lama-kelamaan usahaku juga akan menemui hasilnya. Walaupun aku tak kapan waktunya."

Ratna mengarahkan pandangan matanya pada Wijaya. Memperhatikan sang suami yang tengah berkonsentrasi dalam bekerja. Ia terus memperhatikan suami itu yang masih berusaha mencurahkan segenap konsentrasinya untuk bekerja secara maksimal. Hingga ia tak menyadari bahwa istrinya telah menyiapkan camilan untuknya.

Ratna tak ingin gegabah untuk melakukan niatnya. Ia tak ingin mengganggu konsentrasi suaminya itu. Ketika tangan Wijaya mulai bergerak untuk mengambil sepotong biskuit yang telah tersaji di atas meja, Ratna mulai tersenyum. Ia menarik nafas sejenak dan mengumpulkan keberaniannya seperti yang pernah ia lakukan di hari yang lalu.

"Sepertinya ini kesempatan yang baik. Mas Wijaya terlihat lebih santai dalam melakukan pekerjaannya. Semoga usahaku ini akan berhasil," ucap Ratna dalam hatinya.

Dengan jantung yang berdetak kencang, ia memulai perkataannya, “Maaf Mas. Kalau aku mengganggu waktumu. Aku hanya ingin berbicara padamu sebentar saja. Apa boleh?"

"Hmm... Bicara saja jangan lama! Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku," jawab Wijaya dengan masih menatap komputernya.

Lihat selengkapnya