Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #26

Ungkapan Kerinduan pada Syams

Siang hari yang amat terik. Matahari kala itu seolah tengah menghukum bumi dengan panasnya yang sungguh menyengat. Bumi seakan ingin terbakar dengan panasnya tersebut. Kulit manusia-manusia yang terkena pancaran sinarnya telah mulai menggelap.

Di sebuah sekolah dasar, nampak anak-anak berhamburan keluar gerbang. Ada yang berlari karena sudah tak tahan dengan panasnya sinar matahari tersebut. Mereka ingin segera memasuki mobil agar tak terkena dampak dari panas matahari yang sangat menyengat di siang hari itu. Namun ada pula dari mereka yang berjalan santai. Dengan tubuh yang lunglai karena telah lelah belajar sejak pagi.

Salah satu anak yang berjalan dengan santai adalah Aisyah. Aisyah tak ingin berlari mengikuti beberapa temannya yang lain. Yang di tubuhnya telah dibasahi oleh keringat. Ia lebih memilih untuk berjalan dengan santai saja. Ia sama sekali tak memperdulikan panasnya sinar matahari yang mengenai tubuhnya hingga membuat dahinya berkeringat.

Sambil terus berjalan, Aisyah menolehkan wajahnya ke kanan dan kirinya. Mencari dimana Syams berada. Namun kali ini ia mencari Syams bukan dengan niat untuk meminta maaf pada adiknya itu. Ia hanya ingin melaksanakan apa yang telah diamanahkan sang ibu saat hendka berangkat ke sekolah. Ibunya berpesan padanya untuk segera memberikan sebuah novel karyanya yang kini telah dibukukan kepada Syams. Agar rasa rindunya terhadap putra bungsunya itu dapat terobati.

“Dimana Syams ya? Kenapa dia belum pulang?” gumam Aisyah sambil masih menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.

Aisyah berdiri tegak di depan gerbang sambil masih menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Sementara seorang sopir telah menunggunya di dalam mobilnya yang berwarna hitam pekat itu. Bahkan sesekali sopirnya itu membunyikan klaksonnya sebagai isyarat untuk memintanya masuk ke mobil sesegera mungkin karena cuacanya yang sangat panas itu.

Aisyah memang mendengar suara klakson mobil yang telah dibunyikan oleh sopirnya. Namun dirinya ssma sekali tak menghiraukannya. Ia berpura-pura tak mendengarnya dan terus fokus untuk mencari keberadaan Syams. Hingga tak lama kemudian, senyumannya mengembang saat melihat Syams yang baru saja berjalan keluar gerbang. Terlihat adik bungsunya itu memicingkan matanya karena tak tahan dengan panasnya matahari siang itu. Adiknya itu juga terlihat mengusap dahinya yang telah basah karena keringat. Melihat Syams tiba di luar gerbang dan berdiri tak jauh darinya sambil menunggu kedatangan Satria, ia tak ingin membuang waktunya lagi. Ia pun langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri adiknya itu.

Baru saja melangkahkan kakinya satu langkah, Aisyah menarik kakinya kembali ke belakang. Tiba-tiba ia merasa ragu untuk mendekati Syams. Ia teringat pada amarah adiknya itu yang ditunjukan kepadanya selama dua bulan terakhir. Sebenarnya ia tak ingin kembali mengusik suasana hati Syams yang telah tenang. Namun ia harus menjalankan amanah dari sang ibu. Ia takut ibunya akan merasa sedih jika mengetahui bahwa buku yang menjadi amanahnya tak sampai di tangan Syams.

Aisyah menutup matanya sejenak. Kemudian ia berkata pada dirinya sendiri, "Jangan takut, Aisyah! Ayo mendekat saja pada Syams! Kamu harus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Amak. Siapa tahu ini adalah salah satu cara untuk mendapatkan maaf darinya.”

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Aisyah membuka kedua matanya dengan perlahan. Kemudian ia kembali melangkahkan kakinya. Syams yang mengetahui kedatangan Aisyah langsung memalingkan wajahnya dari kakaknya itu. Ia tak ingin melihat wajah kakak perempuannya itu lagi karena hatinya telah merasa sangat benci. Aisyah tak ingin mempermasalahkan sikap acuh Syams yang ditunjukkan kepadanya.

Aisyah menurunkan tasnya dari punggungnya. Kemudian ia membuka tasnya tersebut dan mengeluarkan sebuah buku tebal dari dalamnya. Setelah itu, ia pun langsung menyodorkannya pada Syams sambil berkata, “Aku datang kemari bukan untuk mengganggumu, Syams. Aku hanya meminta waktumu sebentar saja. Amak memintaku untuk memberikan novel ini padamu. Amak menyuruhmu untuk membacanya. Kisahnya sangat menarik. Juga ada pesan-pesan yang amat berharga di dalamnya. Kamu pasti menyukainya.”

Syams melirik pada sebuah buku yang sedang digenggam Aisyah. Sampul bukunya yang terlihat cerah menarik hati Syams. Ia ingin segera mengambil buku tersebut dari tangan sang kakak. Namun rasa bencinya terhadap kakaknya itu melarangnya untuk melakukannya. Maka ia pun kembali memutar bola matanya agar tak dapat melihat buku tersebut.

Lihat selengkapnya