Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #27

Kisah Apa Ini?

Pertemuannya dengan Aisyah siang hari itu benar-benar membuat amarah yang telah dipendam Syams selama dua bulan terakhir muncul kembali. Syams yang biasanya menyanyi di dalam kamar sepulang sekolah atau hanya sekedar berbicara panjang lebar pada Satria kini hanya diam seribu bahasa. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Bahkan ia tak mempunyai semangat untuk pergi bermain.

Syams merasa sangat malas untuk melakukan segala jenis kegiatan. Setelah mengganti pakaiannya dan menikmati makan siang, ia hanya duduk di atas ranjang sambil memasang wajah muramnya. Sementara Satria telah bersiap untuk pergi ke lapangan. Menyusul teman-teman lainnya yang mungkin telah berada disana beberapa saat yang lalu.

“Syams! Ayo kita pergi ke lapangan! Teman-teman pasti sudah menunggu kita disana,” ajak Satria

“Tidak ah. Aku malas,” jawab Syams yang hanya duduk di atas ranjang dengan raut wajah muram.

Satria merasa heran ketika mendengar jawaban dari Syams. Tak biasanya Syams menolak jika diajak bermain. Satria memperhatikan wajah Syams. Raut wajah Syams saat itu nampak muram. Tubuhnya pun terlihat sangat lesu.

“Kamu kenapa, Syams? Kamu masih marah sama Aisyah?” tanya Satria.

“Jangan seperti itu, Syams! Sesama saudara tidak boleh bertengkar. Apalagi saling membenci. Walaupun kalian memiliki masalah sebesar apapun,” lanjut Satria.

“Ini bukan tentang dia! Sudah, kalau Kakak ingin bermain, pergi saja sendiri! Aku sedang tidak ingin bermain,” jawab syams dengan sedikit acuh.

“Lalu kamu akan sendiri disini? Kalau kamu sendiri disini lebih baik kamu ikut bermain saja. Supaya kamu bisa melupakan masalahmu itu.”

“Tidak mau. Kakak pergi saja sendiri,” jawab Syams sambil memalingkan wajahnya dari Satria.

“Yakin kamu ingin di rumah sendiri?” tanya Syaria seolah tak percaya.

“Iya,” jawab Syams dengan masih memalingkan wajahnya dari Satria.

“Baiklah. Aku akan pergi. Sampai jumpa nanti.”

Satria mulai berjalan untuk pergi ke lapangan. Syams membiarkan Satria untuk pergi bermain seorang diri. Sementara ia lebih memilih untuk di rumah saja. Ia ingin menenangkan hatinya yang masih terluka setelah bertemu dengan Aisyah siang hari itu.

Satria masih menolehkan wajahnya ke belakang. Ketika itu ia masih melihat wajah murung Syams. Ia pun berkata sebelum melanjutkan langkahnya, ”Syams, Syams! Kenapa kamu terus membenci Aisyah? Kenapa kau tidak memaafkannya saja? Karena memang dia kan tidak bersalah.”

Lihat selengkapnya